KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 4


__ADS_3

Aku dan suamiku telah sampai dirumah kontrakan, suami menyukai rumah kontrakan Lek Narti karena bangunan yang masih baru dan rumahnya juga bersih.


Aku merapikan pakaian mas Arga memasukannya ke dalam almari milikku yang sengaja aku bawa untuk mengisi ruang di kontrakan.


Almari ini cukup untuk mengisi pakaian milikku dan mas Arga.


Dirumah kontrakkan ini memang masih kosong melongpong belum terisi perabot hanya ada almari dan karpet milikku yang masih baru dibelikan oleh ibuku.


Mas Arga berbaring diatas karpet dia tidak banyak komentar karena tidak ada kasur sebagai alas yang empuk untuk tubuhnya.


Tentu saja suamiku cukup sadar diri masih beruntung keluargaku tidak menolak lamarannya karena tak membawa barang apa yang sebelumnya sudah ia bicarakan.


Sudahlah aku juga tak mau ambil pusing perihal perabot toh bisa aku cicil beli tiap bulan dengan uang gaji kami.


Karena uang tabunganku tinggal sedikit aku meminta uang belanja untuk masak makan malam, sebenarnya masih ada uang hasil amplop para undangan tapi aku minta ibuku yang menyimpan khawatir ada kebutuhan mendesak lainnya.


Mas Arga memberikan selembar uang 100 ribu.


"Dek tolong dicukupi ini untuk belanja selama seminggu."


"Iya mas." Aku mengambil uang yang mas Arga berikan, uang belanja pertama yang ia beri untukku setelah resmi menikah.


Mas Arga tertidur, aku belanja sayuran ke warung depan milik mbah Lastri.


"Duh pengantin baru, rambutnya basah." Ledek mbah Lastri.


Rambut basah? Bahkan sampai sekarang pun mas Arga masih tidak mau menyentuhku.


Aku hanya tersenyum malu tak menanggapi omongan mbah Lastri.


Aku ambil beberapa ikat sayur bayam beserta jagung dan membeli beberapa bumbu untuk mengisi kekosongan tempat bumbu di dapur.


"Piro mbah?" Aku menyodorkan selembar uang yang tadi diberikan oleh mas Arga.

__ADS_1


"Telung puluh ewuh." Mbah Lastri menyodorkan uang kembaliannya.


Aku kembali ke kontrakan, ku dengar mas Arga sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


Aku menguping pembicaraan mereka sepertinya telepon dari ibu mertua.


"Ibu kan bisa minta tolong diantarkan sama mas Arjun. Aku baru juga sampai dikontrakan. Sudah lah semua terserah ibu aku lelah."


Suara mas Arga agak sedikit meninggi.


Aku mengucapkan salam dan masuk ke dalam pura-pura tidak mengetahui apa yang habis mas Arga lakukan.


"Dek."


"Hmm." Aku hanya menjawab singkat.


"Tadi ibu telepon."


"Terus?"


Dari tatapan memelas mas Arga sepertinya dia ingin meminta izin kepadaku untuk kembali meninggalkan aku pergi kerumah ibunya.


"Yasudah, antarkan ibu dahulu aku takut terjadi apa-apa tak ada yang tahu."


Aku mencoba mengalah karena bagaimana juga hanya suamiku yang dapat ibu mertua mintai tolong.


Mas Arga mengangguk dan memelukku.


Pelukan pertamanya yang baru aku rasakan sejak kemarin saat aku sudah sah menjadi istri mas Arga.


Mas Arga pergi meninggalkanku bersama aroma mint dari tubuhnya yang tak mau lenyap. Aku masih berdiri gusar bayangan malam pengantin yang seharusnya indah kembali aku harus lewatkan sendirian.


Acara masak makan malam tak aku lanjutkan. Sayang tak ada yang makan hanya aku sendirian.

__ADS_1


Aku pergi berjalan kerumah orang tuaku untuk bermalam disana kebetulan jarak rumah Lek Narti tidak jauh dari rumah orang tuaku.


Dijalan aku bertemu mantan kekasih mas Arga yang kebetulan masih satu desa.


"Hai Nadin. Ko sendirian?" Sapa Evi dengan ramah.


"Iya aku mau kerumah ibu." Aku mencoba menjawab biasa saja.


"Oh, mas Arga kemana? pasti kamu ditinggal sendirian karena dia harus pergi kerumah ibunya kan?"


Nada Evi mulai mengejek.


"Tidak, mas Arga ada perlu sebentar yang harus dibeli untuk keperluan menata rumah maklum kami pengantin baru vi. Aku permisi duluan yah."


Sengaja aku memanas-manaskan hati Evi biar tahu rasa dia.


Aku tahu dia masih menyukai mas Arga beberapa kali aku membaca pesan darinya mengajak mas Arga jalan namun tak digubris mas Arga aku sendiri tidak tahu mengapa mereka berpisah padahal berita mereka akan menikah sudah santer seantero desa.


Bertemu dengan Evi hanya menambahku pusing.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Loh nduk kamu ada kemari? Nak Arga mana?" Ibu celingak-celinguk mencari keberadaan menantunya.


Aku berlalu dengan hati sedikit dongkol menuju kamar. Malam pertama yang sudah aku rencanakan harus berakhir dengan pias.


Untuk mengisi kejenuhan iseng ku buka akun sosmed berhuruf F milik mas Arga, ku jumpai satu pesan masuk dari Evi.


Nampaknya perempuan ini tidak ada bosannya mengganggu mas Arga padahal jelas-jelas dia tahu bahwa kami sudah menikah.


Segera ku hapus pesan itu sebelum mas Arga membacanya, lalu aku memblokir akun milik Evi.


Aku menghubungi mas Arga tetapi tak ada sahutan.

__ADS_1


Sedang apa yah mas Arga disana? Berasa lagi pacaran jarak jauh.


Aku menutup malamku tanpa suara dari suamiku, mungkin dia sudah tertidur atau entahlah ia sedang melakukan apa selarut ini yang pasti aku mengenal suamiku tak mungkin dia akan bertindak hal yang macam-macam.


__ADS_2