
Sudah tiga hari kami menginap dirumah ayah mertua, tak ada tanda-tanda ibu akan menyusul kami. Tempat pelarian paling aman sepertinya hanya rumah ayah mertua. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan liburan ke tempat wisata terkenal yang ada di Semarang.
"Jadi mau kemana?" tanya Mas Arga memastikan.
"Aku mau kehutan pinus, ke kota lama dan masih banyak tempat yang mau aku kunjungi," jawabku dengan terkekeh.
Akhirnya kami memutuskan untuk ke hutan pinus yang terletak di Sokowolu, Semarang.
Aku berharap liburan hari ini berjalan lancar. Ayah dan ibu tiri Mas Arga tak ikut hanya kami berdua yang berangkat. Setelah menempuh perjalan yang lumayan kami sampai di hutan pinus. Pemandangan yang sangat memanjakan mata. Aku dan Mas Arga tak lama berada disana. Setelah puas mengambil gambar di beberapa spot aku dan Mas Arga memilih pergi ke tempat wisata lain. Kali ini kami memilih pergi ke kawasan Simpang Lima.
Lumayan ramai ternyata kawasan Simpang Lima. Ketika aku dan Mas Arga sedang asyik berjalan aku mendengar sayup-sayup suara memanggil nama Mas Arga.
"Suaranya seperti?"
__ADS_1
Iya aku tahu pemilik suara itu yang tak lain ibu mertua. Tapi mungkin saja aku salah dengar. Masa iya ibu menyusul kami sampai kesini? Tapi semakin lama suara itu semakin dekat dengan kami dan Mas Arga juga mendengarnya.
"Arga..... Arga....."
Kami menoleh bersamaan dan sosok ibu mertua benar-benar tengah berjalan menghampiri kami.
"Loh, ibu ko ada disini?" tanya Mas Arga tak kalah kaget sepertiku. Kali ini aku benar-benar merasa shock ternyata aku sedang tidak berhalusinasi. Ibu mertua benar-benar menyusul kami. Ibu sangat marah kepadaku. Karena pergi tak mengajaknya.
"Tega kamu Nadin sama ibu, ndak mau ajak ibu. Kenapa? takut ibu merepotkan kalian? atau mengganggu bulan madu kalian? Ibu ndak akan maafkan kamu, Nadin. Katanya mau ke Bandung tapi malah ke Semarang."
"Tadinya memang kami mau pergi ke Bandung, tapi tidak jadi dan memutuskan untuk kerumah ayah." Mas Arga yang menjelaskan semuanya, aku hanya terdiam sungguh tak menyangka sampai sebegitunya ibu mertua menyusul anaknya, untungnya aku memilih menginap dirumah ayah mertua. Mas Arjun dan Mbak Leni sama sekali tak memberi kabar bahwa ibu akan menyusul.
Mas Arga mengajak ibu mertua kerumah ayah namun itu semua ditolak mentah-mentah.
"Ibu ndak sudi, ayo kamu ikut ibu pulang. Kita harus pulang sekarang!" seru ibu mertua.
__ADS_1
"Tapi bu?"
"Ndak ada tapi-tapian Arga, kamu mau jadi anak durhaka? Ayo kita pulang." Keputusan ibu mertua mutlak tak dapat di ganggu gugat. Dengan terpaksa kami mengikuti kemauan ibu. Sebelumnya kami harus kembali kerumah ayah mertua untuk mengemasi barang bawaan kami.
Menyesal rasanya mengajak Mas Arga pergi ke Simpang Lima. Untungnya semua sudah terlaksana jadi sedikit bisa menerima kedatangan ibu mertua yang tiba-tiba.
"Loh, kalian kok pulang?" tanya ayah dan ibu mertua berbarengan. Kali ini aku yang bercerita sementara Mas Arga hanya ikut menyimak.
"Keterlaluan, sekarang dimana Martini?" Ibu mertua benar-benar merasa kesal dengan kelakuan ibu kandung Mas Arga yang sudah terlalu ikut campur dengan rumah tangga anaknya.
"Aku disini, kamu cari aku?" Suara ibu dengan lantang keluar dari dalam mobil. Ibu menunggu didalam mobil dirinya tak ingin turun. Tapi mungkin karena merasa kesal dengan ucapan ibu tiri Mas Arga dia terpancing untuk turun juga.
"Martini, kamu itu gak pernah berubah yah dari dulu selalu jadi biang kerok," ucap ibu tiri Mas Arga yang emosinya sudah meledak.
"Kamu tuh yang biang kerok. Ndak nyadar diri yah pelakor! Ayo Arga aku ndak betah berada disini lama-lama bersama pengkhianat." Ujar ibu Mas Arga membuat ibu tiri dan ayah mengelus dada. Semua menjadi ruwet kalau ibu mertua sudah berbicara.
__ADS_1