
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku terpejam tapi tidak dapat terlelap sebab masih sibuk dengan segala pikiran yang memenuhi otak.
Tak lama Mas Arga masuk ke dalam, lalu ikut merebahkan diri di sampingku.
"Maafin Mas yah, Dek." Ku rasakan sentuhan hangat tangan Mas Arga pada lengan atasku. Dalam balik selimut aku menangis aku ingin merasakan kasih sayang Mas Arga lebih dari ini.
Entah sejak kapan aku mulai tertidur dan ketika terbangun aku merasakan sakit pada mataku. Aku mematut diri dicermin, wajahku tak berubah meskipun aku telah menikah tetapi aku masih rutin merawat tubuh serta wajahku hanya untuk suamiku tetapi apa daya semua itu sama sekali tak membuat Mas Arga tertarik untuk menyentuhku.
Mataku sedikit sembab pagi ini mungkin karena terlalu banyak menangis.
Mas Arga sepertinya memperhatikan mataku yang memang berbentuk tak karuan.
"Dek, kamu semalam habis menangis?" tanya Mas Arga seraya menunjuk ke arah mataku.
Ingin sekali aku menjawab bahwa aku memang habis menangis semalaman karena ulahmu. Tapi aku urung melakukan hal yang dapat menyakiti Mas Arga.
"Oh ini, semalam ada kecoa Mas dikamar dan sepertinya aku kena air pipis kecoa," jawabku berbohong.
Mas Arga hanya mengiyakan ucapakanku.
__ADS_1
"Diobati Dek biar tidak infeksi." Mas Arga mengusap kedua mataku. Aktifitas kami masih seperti biasa sama-sama sibuk bekerja.
Hari ini aku ingin sekali makan siang di sebuah Warung Soto Lamongan. Aku pergi makan siang bersama Santi teman sekantor ku. Kami telah sampai di Warung Soto Lamongan, Santi memilih tempat duduk di pojok.
Inginnya aku mengajak Mas Arga tetapi dia bilang tidak bisa karena ada urusan penting yang mendadak.
"Nadin, bagaimana kehidupanmu setelah menikah?" tanya Santi membuka percakapan disela-sela kejenuhan menunggu soto yang kami pesan tiba.
"Hmmm, gimana yah? Yah pokoknya gitulah nanti kamu juga akan merasakan sendiri," ujarku untuk menghindari pertanyaan yang sedikit privasi.
Satu per satu orang mulai memasuki dan memenuhi tempat duduk. Ketika kami datang suasana warung belum begitu ramai tak lama barulah banyak pengunjung yang berdatangan.
"Benar, itu suara Mas Arga dan---" gumamku dalam hati menahan gejolak amarah.
Santi menatapku aneh karena terdiam tak menyantap makanan yang padahal saat ini aku sangat inginkan.
"Nadin, kamu kenapa?" tanya Santi menatapku lekat.
"Santi, aku ingin pergi." Ucapku seraya menahan tangis.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Sotomu saja belum dimakan. Ayolah makan dahulu." Santi menahan kepergianku. Aku sudah kehilangan selera, tapi Santi ada benarnya aku lebih baik tak pergi dan kembali menguping pembicaraan mereka. Aku hanya mengaduk-ngaduk kuah soto yang ada di depanku. Aku benar-benar kehilangan selera makan.
Samar-samar aku mendengar Mas Arga seperti menyebut namaku. Setelah makanan di piring Santi tandas aku segera menyeret nya untuk mengikutiku memergoki Mas Arga.
"Mas Arga?" Aku menyapa Mas Arga masih dengan senyuman, benar dia adalah Mas Arga, suamiku.
"Loh, Dek Nadin? kamu disini?" Mas Arga kembali bertanya kepadaku tanpa rasa bersalah.
"Iya, aku memang sejak tadi berada disini. Lalu kamu ngapain Mas berada disini? bukankah kamu ada urusan penting? Oh jadi urusan penting itu bersama perempuan ini? tanyaku dengan sengit.
"Bukan begitu Dek Nadin, Mas bisa jelaskan." Mas Arga berusaha mencegah aku pergi.
Dengan deraian air mata aku meninggalkan kedua manusia yang tak punya hati. Beruntung warung makan ini terdapat tempat lesehan dengan sekatan dan beruntung Santi memilih untuk duduk ditempat yang tepat.
Mas Arga masih mengikutiku dari belakang. Aku tak perduli menjadi pusat perhatian dari banyak orang.
"Mas bisa jelaskan Dek," lagi-lagi Mas Arga masih berusaha mendapatkan perhatian dariku agar mau menghentikan langkah.
Aku berhenti sejak mengusap air mata yang sudah terlanjur membasahi seluruh permukaan pipiku. Aku berhenti bukan untuk mendengarkan alasan dari Mas Arga tetapi untuk menegaskan semuanya.
__ADS_1
"Jadi ini alasanmu? alasan mengapa kamu enggan untuk menyentuh tubuhku dan tak ingin mempunyai keturunan dariku," ujarku dengan tegas melontarkan jawaban dari pertanyaan yang selalu menghantui setiap malam.