
Pagi ini aku berangkat bekerja dari rumah orang tuaku, sudah beberapa hari setiap malam aku tidur di sini dan mas Arga masih dirumah ibu mertua yang katanya sedang sakit.
Hari ini aku berniat untuk melihat sendiri bagaimana keadaan ibu mertua. Memang ibu mas Arga sudah sering sakit-sakitan bahkan jauh sebelum kami menikah tapi kali ini rasanya aku tidak percaya.
"Loh Nadin? Kamu kok sendirian? Apa Arga ndak jemput kamu? Ayo bareng mas kalau kamu mau kerumah ibu mertuamu."
"Nggeh mas. Matur suwun."
Aku memutuskan untuk ikut mas Yanto, tetangga sebelah mas Arga karena tidak ada ojek di pangkalan dan jalan menuju ke dalam memang lumayan jauh. Iseng diperjalanan aku bertanya kepada mas Yanto tentang bagaimana keseharian ibu mertua.
"Mas, opo bener ibune mas Arga sedang sakit."
"Opo? Sakit? Eleh sakit apanya? Tiap hari masih suka nimbrung gosip cerita dilapak sayurku ko." Mas Yanto menjawab dengan jawaban yang jujur.
Setelah sampai didepan rumah aku melihat mas Arga dan ibunya sedang duduk sambil berbincang.
Mas Arga sudah pulang kok gak jemput aku sih?
"Assalamualaikum." Aku mencium tangan mas Arga dan ibu secara bergantian.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka serempak.
"Ibu apa kabar? Bagaimana keadaan ibu sudah membaik." Aku memberanikan diri bertanya kepada ibu, ku lihat ibu mertua nampak baik-baik saja sebelum dia melihat aku datang.
"Baik." Jawabnya singkat sambil ekor matanya melirik sebuah kantong yang aku genggam.
Aku menyodorkan satu kantong plastik berisi buah. Aku hanya membeli sedikit antisipasi agar tidak mubadzir kalau-kalau ibunya mas Arga menolak seperti kemarin. Aku membeli buah di pedagang kaki lima dekat pinggiran jalan, biasanya untuk ibunya mas Arga aku membelikan di Supermarket buah karena tidak sempat jadi aku beli dipinggiran jalan, lagi pula bukankah bentuk dan rasanya sama saja? Aku fikir itu tidak akan jadi masalah.
"Dek kamu mau minum apa? Biar mas buatkan." Tawar mas Arga.
__ADS_1
"Ndak usah dibuatin seharusnya itu tugas istri bukan suami, lagi juga ini istrimu bukan tamu." Jawab ibu dengan sinis.
"Iya mas benar apa kata ibu, itu memang sudah menjadi tugasku sebagai istri bukan tugas kamu, kamu mau aku buatin teh sekalian mas?" Aku mencoba menjawab dengan senyum santai.
"Halah ndak usah mau ngapain buatin teh, beli saja air putih sana. Lagi pula gulaku habis." Ibu kembali menyahut dengan nada sedikit kesal.
"Ibu mau masuk kedalam kamar, mau istirahat kepala ibu jadi sakit lagi rasanya." Ibu berlalu meninggalkan aku tanpa menyuruh aku masuk apalagi menyuruhku untuk mengambil minum.
Tak lama ibu mertua kembali keluar hanya untuk mengingatkan anaknya agar segera menyimpan kantong buah yang aku bawa.
"Arga kantong plastik jangan lupa ditaruh di dalam kulkas."
Mas Arga membawa kantong plastik kedalam, tak lama ada panggilan masuk dari ayah mertua.
"Waalaikumsalam. Iya ayah nanti akan Nadin sampaikan."
"Telpon dari siapa?"
"Dari ayah, mas kata ayah handphone kamu tolong di aktifkan. Ayah masuk rumah sakit mas kamu disuruh ayah ke Semarang sekarang."
Mas Arga terlihat panik dan mencari-cari ponselnya yang menurut mas Arga ia lupa menaruhnya sudah tiga hari ini. Aku hanya menghela nafas dan memberikan handphone ku pada suami agar dapat menghubungi kakaknya yang lain. Tak ada yang bisa datang selain mas Arga.
Mas Arga akan datang bersama mas Didit teman kerjanya sepulang dari kantor agar ada teman yang gantian mengendarai motor.
"Bu, ibu." Mas Arga mengetuk pintu kamar ibu. Ibu mertua membuka pintunya terlihat kaget melihat Arga membawa tas besar dipunggung.
"Mau kemana kamu Arga?" Matanya melotot hampir lepas. Aku hanya memandang dibalik punggung mas Arga.
"Bu, ayah masuk rumah sakit. Arga mau kesana. Mas Arjun dan mbak yu gak ada yang bisa datang. Ibu disuruh datang kesana."
__ADS_1
"Cuih, sudi amat aku ngurus bapak moyangmu, aku cuma butuh duitnya. Bilang sama bapakmu itu duit belanjaku jangan lupa." Ibu menutup pintunya kasar.
Dalam hati kecilku hanya bisa berkata ko ada yah istri yang semacam itu padahal ayah memang sedang sakit karena tak ada yang mengurus dan menunggunya disana maka dari itu ayah meminta ibu dan Arga ke Semarang. Aku dan mas Arga bergegas pulang ke kontrakan.
Akhirnya bisa tidur berdua dikontrakan, semoga malam ini Nadin kecil atau Arga kecil dapat tercipta.
Aku sungguh berharap malam ini mas Arga akan menyentuhku dan menyempurnakan tugasku sebagai seorang istri.
Ku lirik mas Arga yang nampak gelisah. Dari tadi tak ada tanda-tanda dia akan menyentuhku padahal aku sudah memancingnya dengan memakai pakaian tidur mini.
"Mas, mas ini kenapa sih? Aku perhatikan gelisah banget tidurnya. Geliat sana sini"
"Eng...enggak dek, mas cuma gerah."
Aku membalikkan badanku menghadapnya, menatap intens setiap inci wajah suamiku.
"Mas gerah atau????" Aku mulai bertanya nyeleneh.
Baiklah kalau mas Arga tidak mau memulai biar aku duluan yang memulai. Bisikku dalam hati.
Perlahan tubuhku mendekati mas Arga, mas Arga hanya menengok kearahku tidak merespon apa yang ku lakukan atau menolaknya. Aku lakukan semua itu dengan perlahan-lahan takut mas Arga berfikir aneh nanti tentangku. Sedikit lagi mas Arga hampir terpancing.
"Awas dek, mas mau ngadem keluar."
Mas Arga menyingkirkan tubuhku dan pergi keteras rumah. Aku masih tidak percaya mengapa lagi-lagi mas Arga menolak, tidak mau menyentuhku?
Arrrgggghttt, gagal lagi deh buat ade.
Batinku dengan senyum kecut.
__ADS_1