KEJAR ADAT Mertua

KEJAR ADAT Mertua
Bagian 14 (POV IBU MERTUA)


__ADS_3

Sebelumnya perkenalkan namaku adalah Martini. Kalian tentu sudah tahu bahwa aku adalah ibu kandung dari anak bungsuku yang bernama Arga. Arga anakku sangat tampan, ketampanan yang ia miliki merupakan warisan dari ayahnya, suamiku. Arga anakku memang tampan dan karena ketampanan yang dia miliki, dia banyak memikat hati para wanita termasuk Evi anak juragan beras yang berasal dari desa sebelah.


Evi sangat tergila-gila oleh Arga, karena cintanya yang begitu besar kepada Arga aku memanfaatkan Evi sebagai Atm berjalan yang aku miliki. Dari Evi aku mendapatkan banyak keuntungan, dia tak pernah sayang membelikan aku ini itu segala yang aku inginkan. Semua kebutuhan diriku tercukupi oleh Evi.


"Ibu, jangan sungkan-sungkan kepadaku," begitulah katanya.


Hingga suatu ketika rencana pernikahan Arga dan Evi harus gagal karena orang tuanya Evi tak setuju, padahal aku sudah menyebarkan berita ke seluruh desa bahwa anakku akan menjadi menantu horang kaya. Tapi semua itu pupus, Evi hilang bagai ditelan bumi dan aku kehilangan atm berjalanku. Arga terlihat biasa saja karena batal menikahi Evi, tetapi aku yang begitu frustasi. Aku seperti kehilangan sumber penghasilan, tambang uang! Jika ada yang berkata bila aku matre, aku membenarkan, bukankah hidup sebagai wanita harus seperti itu? Lebih baik kalian curang dari ada kalian dicurangi lebih dahulu. Semua yang aku lakukan tentu memiliki alasan. Semua demi masa depan putraku, Arga.

__ADS_1


Belum hilang kabar batalnya pernikahan kini anakku Arga sudah mendapatkan pacar baru, kabarnya dia masih satu desa dengan Evi. Gadis itu bernama Nadin. Cuih, anakku itu ternyata mengalir juga darah seorang playboy, memang turunan tak dapat dihilangkan.


Aku mencoba mencari tahu seluk beluk, bibit, bebet serta bobot dari Nadin. Ternyata pacar anakku tak kalah kaya dari Evi. Hanya saja mereka tak seroyal Evi. Beberapa kali Nadin berkunjung kerumah, dia hanya memberikan aku sekeranjang buah yang ia beli di Supermarket Hello dan membawa roti kesukaanku dari Toko Hoream Bakeri. Nadin gadis yang cukup sopan, tapi sopan saja tak cukup untuk menjadi menantuku. Anakku Arga memang seorang yang keras kepala dia tetap bersikukuh ingin menikahi Nadin. Aku tahu dia pasti terhambat masalah biaya tapi ternyata aku salah. Dugaanku salah, Arga justru memiliki banyak uang tabungan. Selama ini bukankah uang gajinya hampir seluruhnya aku yang pegang? Tapi mengapa dia memiliki banyak uang untuk membelikan Nadin banyak seserahan.


Aku memutar otak, sepertinya naluriku tak terima begitu saja. Uang ini ada hakku juga sebagai ibu yang sudah susah payah melahirkannya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membelanjakan sebagian barang yang Arga minta. Karena keasyikan belanja aku tidak menyadari uang yang Arga beri hanya tersisa tiga ratus ribu rupiah. Aku mengabaikan itu semua, toh aku adalah ibunya tidak mungkin Arga akan marah dan menghukum diriku.


“Uangnya habis sudah ibu belikan perhiasan,” jawabku memamerkan rentetan perhiasan yang aku pakai.

__ADS_1


“Hah? Apa bu? Astaga ibu itu uangnya Nadin, Arga tidak mau tahu ibu harus menggantinya.” Arga memaki diriku, rasanya hatiku sakit mendengar ucapannya saat itu.


“Arga tidak mau tahu ibu harus mengganti uang Nadin,” Arga kembali bersuara membuatku semakin kehabisan kata-kata.


Apa? Ganti uangnya Nadin? Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu dengan mudah? Aku berpikir untuk kembali marah kepada Arga.


“Oh, jadi kamu membela perempuan itu dan mau jadi anak durhaka? Keterlaluan kamu Arga,” jawabku tak kalah sengit. Aku tahu Arga selalu mengalah jika aku sudah mengeluarkan kata-kata anak durhaka.

__ADS_1


Ternyata ucapanku ampuh juga Arga terdiam dan beranjak pergi meninggalkanku. Mungkin dia akan mengadu kepada Leni dan Arjun, sudahlah aku tak mau banyak memikirkan hal itu yang terpenting aku bahagia karena memiliki perhiasan baru. Terima kasih Nadin atas uang tabunganmu. Itu baru namanya calon mantu.


__ADS_2