
3 hari sudah kami tinggal dirumah orang tuaku karena larangan dari ibuku.
Pengantin baru tidak boleh pergi ngeluyur kemana-mana selama 3 hari, pamali kalau kata orang zaman dahulu.
Kami hanya manut saja dari pada membantah tentu kami tidak ingin kualat.
Pagi-pagi sekali mas Arga pamit untuk berangkat kerja karena ia hanya mendapat cuti selama 4 hari.
Sementara aku mendapat cuti selama satu minggu.
Kehidupan pengantin baru masih sama seperti ketika kemarin aku belum menikah.
Motor mas Arga telah keluar dari halaman rumahku, tidak lama berselang ibu tergopoh-gopoh berjalan dari dapur menuju ke arahku.
Ibu mulai menanyakan kapan aku akan pindah mengontrak? Atau lebih baik tinggal bersama ibu dan bapak saja.
Sebenarnya aku mau saja untuk tetap tinggal disini tetapi mas Arga terlihat masih canggung dan beberapa kali mengajak aku untuk pulang kerumah ibunya.
"Ayolah dek, kita pulang kerumah ibuku saja. Aku ndak enak disini cuma makan, tidur tok seharian."
Aku maklum saja suamiku ini memang anak laki-laki yang manja, dia tidak bisa jauh-jauh dari ketiak ibunya. Sungguh menyebalkan!
Padahal suamiku tahu bahwa aku tidak ingin tinggal satu atap dengan ibunya.
Beberapa kali juga aku menyatakan bahwa lebih baik tinggal dirumah sepetak dari pada harus menyusahkan orang tua.
Sepertinya kata-kata bijakku hanya masuk kuping kanan, lalu menempel di otaknya selama lima menit saja setelah itu keluar kembali melalui kuping kiri.
Aku masih kesal dengan mas Arga, sejak dikantor dia terus membujuk aku untuk ikut pulang bersamanya kerumah ibu mertua.
Dan sesampainya dirumah mas Arga masih terus merengek. Aku hanya mendiamkan, biarkan saja biar dia cape sendiri.
__ADS_1
Sehabis mendapat panggilan dari mbak Leni, mas Arga terburu-buru mengambil jaket dan kunci motornya.
Aku merasa heran melihat mas Arga yang terlihat panik.
"De, ibu pingsan dirumah. Ayo kita kerumah ibu sekarang."
Hal itu tentu saja membuatku terkejut, apa orang seperti ibunya mas Arga masih bisa pingsan? kan sayang waktunya kebuang hanya untuk tegeletak dilantai.
Mas Arga memacu motornya dengan kecepatan tinggi, terlihat suamiku begitu mengkhawatirkan ibunya.
Sesampainya dihalaman rumah, mas Arga berlari masuk meninggalkan aku yang masih kesulitan melepas helm.
Aku segera menyusul mas Arga masuk ke dalam rumah, aku melihat kondisi ibu mertua nampak baik-baik saja.
Astaga, drama macam apalagi inih?
Ku lihat mbak Leni, nampaknya mbak Leni menerima isyarat dari tatapanku dia mengangkat kedua bahunya.
Apa yang terjadi sih sebenernya?
Mas Arga mengelus tangan ibunya dan mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Ibunya mulai menjelaskan kalau dia pingsan karena melihat kecoa terbang.
Ya Tuhan, hanya karena sebuah kecoa terbang? Kan bisa di usir pakai sapu.
Aku yang mendengar alasan ibu mas Arga pingsan karena kecoa mendadak jadi merasa frustasi sendiri, bagaimana kalau ibunya melihat darah atau sebagainya?
Berapa lama dia bakal pingsan?
Ibu mertuaku menyuruh aku dan mbak Leni keluar, ada hal penting yang ingin ibunya bicarakan kepada Arga.
Aku dan mbak Leni keluar hanya menduga-duga saja apa yang akan ibunya Arga katakan.
__ADS_1
Semoga saja apa yang kita duga-duga salah. Mbak Leni kakak iparku adalah orang yang baik menurutku, dia istri dari kakak pertama suamiku, mas Arjun.
Masih ada lagi dua orang kakak perempuan mas Arga, mereka ikut tinggal bersama ayah mertua dan sudah berkeluarga juga.
Hanya mbak Leni yang menemani ibu selama ini, mbak Leni tinggal tidak jauh dari Ibu hanya selisih beberapa rumah saja.
Yang aku tahu mereka tidak pernah tinggal satu atap karena mbak Leni juga sudah tahu watak ibu makanya dia tidak mau tinggal bersama mertuanya dan karena masih ada Arga yang menemani ibu mertua tidak pernah memaksa.
Mas Arga keluar dari kamar dan mulai buka suara kepadaku dan mbak Leni.
"Ibu minta kamu dan aku untuk tinggal disini bersama ibu. Ibu sudah tua takut sendiri. Bagaimana pendapatmu?"
Aku berkali-kali menghirup udara untuk menyegarkan kembali akal sehatku, masih dengan pendirianku sebelumnya.
Aku mengutarakan semua yang ada di isi hatiku.
"Bukankah mbak Leni juga sama dari awal mengontrak dan ibu tidak pernah memaksa untuk tinggal bersama kan? Cobalah mas bicarakan kembali kepada ibu."
Ku lihat ibu sedang menguping dipintu kamar. Aku memberanikan diri untuk memanggil ibu.
"Tuh ibu lagi didepan pintu sekalian kita panggil saja ibu kesini untuk membahas."
Ibu yang terkejut karena terponggok sedang menguping keluar dari kamar dengan wajah sinis merona.
"Ada apa kamu panggil-panggil ibu?"
Aku mulai mengutarakan semuanya. Ibu terlihat begitu kesal mendengar semua penjelasanku, padahal dimana salahku?
"Yowesss, pergi sana dan gak usah kalian injakan kaki kalian disini."
Aku yang merasa diusir dengan tidak hormat langsung melangkahkan kakiku keluar disusul oleh mas Arga dan mbak Leni.
__ADS_1
Mereka mengelus-elus bahuku agar aku dapat sabar dan mengerti dengan sifat ibu. Hari itu juga aku memutuskan untuk mengontrak rumah saja.
Adil bagi kami untuk tidak hidup menumpang dengan orang tua terlebih dengan mertua.