
Malam pertama kami telah lewatkan. Perasaan berbunga seperti tak ada habisnya menyelimuti hati. Aku telah sempurna menjadi istri semoga keinginan aku untuk mempunyai keturunan segera terwujud.
"Mas, mengapa kamu mengeluarkan didalam?" tanyaku karena ia melepaskan benih miliknya dipelepasan kami semalam. Aku tahu Mas Arga belum siap memiliki anak. Bagaimana jika benihnya jadi? Bukankah akan menambah pikirannya?
Mas Arga tersenyum tenang, dia menjawab bahwa dia sudah tak perduli dengan apapun lagi. Tujuan menikah denganku tentu karena Mas Arga ingin segera memiliki keturunan.
"Maafkan Mas, maafkan perlakuan Mas kemarin-kemarin terhadap dirimu," Mas Arga mencium pucuk kepalaku. Aku mengerti mengapa Mas Arga belum mau menyentuhku. Sepertinya Mas Arga bercerita kepada ayah mertua tentang pernikahan yang kami alami. Meskipun aku tidak tahu solusi apa yang ayah mertua beri tetapi semua itu cukup membuat Mas Arga dapat bertindak jauh lebih baik.
Pagi ini setelah membantu ibu mertua menyiapkan sarapan aku berbincang dengannya sambil menunggu kepulangan ayah dan Mas Arga yang sedang berolahraga.
__ADS_1
"Bu, Mengapa ibu sangat baik? Dan mengapa sikap ibu sangat berbeda dengan ibu kandungnya Mas Arga?" tanyaku yang tiba-tiba. Ah, mulutku kini rasanya seperti tak memiliki rem. Bukan maksudku untuk membandingkan keduanya. Hanya saja aku masih merasa penasaran.
"Apa Martini masih suka bersikap seenak jidatnya?" tanya ibu tiri Mas Arga kembali. Aku hanya mengangguk. Ibu tiri Mas Arga tertawa. Aku tak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba tertawa. Ibu mulai menceritakan watak asli ibu kandungnya Mas Arga.
"Dahulu kami bertiga adalah teman baik. Aku dan ayahnya suamimu adalah sepasang kekasih sejak kami muda. Kami sudah merencanakan pernikahan tetapi pernikahan kami harus gagal karena Martini."
"Karena ibunya Mas Arga? Kenapa?" tanyaku agar ibu tiri Mas Arga melanjutkan ceritanya yang terputus.
"Hamil? Hamil oleh ayah mertua?" Rasanya sungguh sulit mempercayai ucapan ibu tiri Mas Arga.
__ADS_1
"Iya Martini hamil namun bukan hasil perbuatannya dengan ayah Mas Arga." lanjut ibu mertua yang kembali mengobrak-abrik jiwa penasaranku. Sayang cerita kami harus terhenti sebab kepulangan dua lelaki yang sejak tadi kami tunggu.
"Itu suamimu pulang nanti kita lanjutkan lagi ceritanya." Ibu mertua bergegas menuju dapur dan aku beranjak menuju halaman dimana Mas Arga sedang selonjoran.
Aku mengusap wajah suamiku yang sudah bercucuran dengan keringat. Sementara ayah mertua langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui ibu mertua.
Aku kembali ke dapur mengambil segelas air putih untuk Mas Arga. Mas Arga meneguk air putih hingga isi botol kering kerontang.
"Ayo Mas kita sarapan," ajakku kepada Mas Arga yang masih terduduk dibawah. Mas Arga berdiri dan merangkul tubuhku untuk mengikutinya. Kami telah berada di meja makan. Tak lama setelah selesai sarapan ibu dan ayah keluar kamar sudah dengan pakaian yang rapih.
__ADS_1
"Nak, ayah sama ibu pamit yah mau pergi ke acara arisan keluarga. Kalian mau ikut?" tanya ayah mertua. Mas Arga menggelengkan kepala, dia berdalih ingin beristirahat dirumah karena masih begitu lelah. Ibu dan ayah pamit pergi mungkin akan pulang hingga larut malam. Sepeninggal ibu dan ayah, Mas Arga menatap diriku dengan senyuman nakal.
"Dek, ayo kita lanjutkan yang semalam." Mas Arga memapah tubuhku kedalam kamar. Kini tubuh kami sudah saling bertaut tanpa busana. Mas Arga benar-benar melanjutkan pertempuran semalam yang membuatku lelah melambaikan tangan.