Kejar Daku (Novel)

Kejar Daku (Novel)
Chapter 10


__ADS_3

Plak. Satu tamparan mengenai pipi Rey yang mendarat dari pipi Beni. Rey berlari menangis pergi menghindar dari mereka teman-teman Beni.


Rey malu dan tak sampai hati kenapa Beni begitu tega menampar Rey waktu itu dengan keras di depan teman-temannya.


Rey menangis di depan kampus sendirian yang waktu itu kelas masih kosong. Air mata Rey jatuh berlinang di pipinya sambil sesenggukan di saksikan beberapa kursi dan meja yang ada di dalam ruang kelas kampus.


Tak berapa lama Dian datang sambil kaget melihat Rey yang menangis. Dia lari mendekati Rey di kursi itu. Kedua lengan Rey bertumpu atas meja.


"Rey, kamu kenapa?" Dian bertanya tiba-tiba.


"Nggak apa-apa, aku hanya sedih saja." kata Rey menutupi.


"Tidak usah bohong Rey, kamu sama siapa ayo bilang sama aku..?" tanya Dian serius.


"Nggak, aku nggak apa-apa, uhuk-uhuk." Rey menangis sabil batuk.


"Sudah, diem kamu ya. Nanti aku beliin es."


"Sembarangan kalau ngomong, emang aku anak kecil?" kata Rey sambil merengek. Laki-laki itu lalu menghapus air matanya di kefua pipinya.


"Nah, gitu dong.. nggak usah nangis, kayak anak kecil aja pakai nangis segala!" kata Dian memperingati.


Rey mengelap wajahnya dengan kertas tisu yang dia simpan di dalam saku bajunya.


"Kamu dari mana aja, Yan?" tanya Rey tiba-tiba.


"Dari luar cari teman-teman." kata Dian menjawab.


"Aku nggak lihat teman-teman sama sekali, kayaknya mereka ada di kelas bawah." jawab Rey asal.


"Yuk, kita ke bawah nyusul teman-teman..!" ajak Dian.


"Nggak, aku di sini saja. Aku tidak mau masuk dulu.."


"Masya Allah Rey, tidak usah gitu, itu cemen namanya. Mending kamu cuci muka sekarang, tenangkan diri dulu, baru masuk kelas, okey." Dian kasih saran.


"Insya Allah." kata Rey pelan. Rey malas mau pergi ke kelas apalagi menerima pelajaran.


"Ya udah, aku masuk dulu ya..!" ucap Dian pada Rey yang sedang duduk. "Kamu tidak apa-apa sendirian di sini..?" tanya Dian lagi.


"Iya, kamu pergi saja. Biar aku di sini dulu, nanti kalau udah tenang insya Allah aku masuk ke kelas." Rey menjawab.


"Ya udah, aku masuk dulu ya Rey. Assalamualaikum.." Dian pamit.


"Wa'alaikumus salam." jawab Rey langsung.


Setelah itu Dian pergi menibggalkan Rey ke lantai bawah.

__ADS_1


Di tempat yang lain teman-teman Beni juga Beni ikut resah karena telah membuat nangis Rey tadi.


"Eh, gimana nih?" tanya Gery resah. Teman-teman yang lain pada lihat ekspresi Gery yang resah dan bingung.


Beni melihat Gery malas. Dia benci ekspresi Gery yang begitu. Beni tidak mau dirinya di salahkan.


"Sorry ya Ben, bukannya apa, aku merasa bersalah pada Rey karena telah tega ganggu dia tadi."


"Bulshit semua! Sekarang kalian mending pergi dari gua, kalian nggak usah lagi ikut campur urusan gua lagi. Pergi!" usir Beni pada teman-temannya itu. Mereka langsung ngacir pergi meninggalkan Beni.


Di tempat lain.


Rey berjalan dengan pelan menuju kelas lalu Beni datang dari bawah pas di tengah-tengah tangga, mereka bertemu.


Rey kaget melihat Beni yang datang.


"Eh, berhenti!" perintah Beni pada Rey yang ingin turun.


Beni mengejar Rey ke bawah lalu menggamit lengan Rey biar berhenti di situ, di tempatnya berdiri.


"Tunggu Rey, tunggu!" kata Beni memaksa Rey untuk berhenti.


"Lepasin aku, belum puas kamu nampar aku tadi!" Rey marah pada Beni.


"Maafin aku Rey, aku nggak sengaja!" Beni meminta maaf.


"Oke, aku maafin tapi please lepasin tangan aku!" sentak lagi Rey pada Beni. Laki-laki itu mulai melepas tangannya.


"Iya, aku juga. Aku telah kasar padamu dan aku janji nggak akan lagi kasar sama kamu." ucap Beni hati-hati.


"Iya, makasih. Aku masuk dulu." Rey permisi sama Beni.


"Iya." Beni menjawab sambil melihat Rey pergi.


Rey lalu masuk kelas dengan kaos putih dan celana levis biru pudar yang di kenakannya. Rey lalu bertemu Dian dan teman-temannya di sana.


Sepulang kuliah Rey cerita sama Dian kalau tadi Beni sempat minta maaf sama dia.


"Kok bisa sih, gimana ceritanya?" tanya Dian penasaran.


"Gini, tadi itu kan aku nangis di kelas lalu kamu datang nyamperin aku. Sebelumnya aku itu sempat di tampar sama Beni." jelas Rey pada Dian.


"Kok bisa gitu?" tanya Dian lagi.


"Iya, ehm.. mungkin aku belum cerita ya sama kamu tentang masalah aku sama Beni yang di Bali?"


"Yang di Bali, oh yang ke Bali kemarin itu?" jawab Dian menebak.

__ADS_1


"Iya." jawab Beni membenarkan.


"Terus..?" tanya Dian lagi kelanjutan ceritanya.


"Ya, waktu itu aku sempat.." Rey tidak melanjutkan ucapannya.


"Sempat apa..?" tanya Dian penasaran.


"Nggak usah ah, nggak penting." Rey mengelak bercerita.


"Rey, jangan buat orang penasaran loh!" ucap Dian memaksa.


"Kapan-kapan kamu juga akan tahu." kata Rey mengakhiri percakapannya.


Dian merengut karena Rey tidak jadi bercerita. Mereka lalu terus berjalan sambil menunggu bus yang datang dari arah utara.


Mereka menunggu bus beberapa lama hingga bus itu lewat di depan mereka. Dian waktu itu pegang buku tebal dengan tas biru dan Rey dengan tas hitam. setelah itu mereka naik berdua ke dalam bus dan menghilang dari tanah kampus.


Di dalam bus Dian Rey duduk bersisian. Tidak ada yang perlu di bicarakan sepertinya, tapi Dian penasaran ada apa sih sebenarnya antara Rey dan Beni?


Tiba-tiba saja Dian nyeletuk. "Eh, Rey sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama Beni?" tanya Dian sambil duduk di kursi bus.


"Nggak ada, cuma masalah kecil." jawab Beni sekenanya.


"Tapi aku benar-benar penasaran deh sama cerita kamu tadi. Kamu ngapain sih sama Beni, kamu cium ya?" kata Dia menerka. Rey kaget mendengarnya.


"Enggak, enggaklah. Ngapain aku ciuman sama Beni, najis gitu!" Rey berkelakar.


Nyatanya Beni telah berbohong sama Dian. Rey tidak mau Dian tahu lebih detail tentang kasus Rey sama Beni di Bali itu.


Bus terus melaju sampai di pertengahan kota. "Rey, kamu tidak mau mampir ke kota dulu?" tanya Dian tiba-tiba.


"Ngapain..?" Rey tanya tidak mengerti.


"Belanja mungkin?" Dian memberikan option.


"Nggak ah, males. Lagi nggak pegang duit." kata Rey menjawab.


Dian mengangguk paham. Bus terus melaju hingga melewati perempatan jalan rumah Reynaldi.


"Aku turun dulu ya, Yan.." kata Rey pamit.


"Iya, hati-hati ya Rey.." Dian membalas ucapan temannya itu.


To be Continue.


Next Story.

__ADS_1


Rey bertemu Nino di rumahnya sepulang kuliah. Surprise. Rey tidak nyangka saja kalau Nino akan datang waktu itu.


Alhamdulillah sudah selesai Chapter sebelas. Minta komennya ya teman-teman. Please!


__ADS_2