Kejar Daku (Novel)

Kejar Daku (Novel)
Chapter 11


__ADS_3

...Alhamdulillah hari ini aku mulai menulis lagi dengan semangat baru di bulan Romadlon penuh berkah ini. Amin. ...


Rey turun dari dalam bus meninggalkan Dian teman perempuannya itu. Rey lalu berjalan menuju rumahnya yang sudah dekat. Kurang lebih 500 meter.


Tiba-tiba Rey melihat mobil Nino yang terparkir di depan rumahnya itu. Rey terus berjalan menghampiri rumahnya.


Rey masuk ke dalam rumah itu dan melihat Nino berdiri dengan kaos hitam dan celana jins hitam. Di tangan kanannya terdapat gelang putih sejenis rantai kecil.


"Nino kamu, sudah dari tadi datangnya..?" Rey kaget melihat Nino yang datang waktu itu. Rey memegang buku tebal di tangannya. Tadi dia sempat mengambil buku itu sewaktu turun dari dalam bus.


Rey akhirnya bersalaman dengan Beni setelah itu Rey masuk dan Beni kembali duduk di kursi ruang tamu. Tante Mirna lalu menghampiri Rey yang baru datang.


"Rey.. ada teman kamu tuh. Tadi Tante sengaja nyuruh dia untuk nunggu kamu dulu di sini." kata Tante Mirna.


"Iya, makasih Tante." jawab Rey sekenanya.


Rey lalu melepas tas dan meletakkaj bukunya di atas meja belajar miliknya. Tante Mirna menyuruh Rey untuk membawakan teh pada temannya itu.


"Nih, kasih ke teman kamu itu. Jangan lupa kamu bawa kue toples yang ada di lemari." suruh Tante Mirna pada ponakannya itu.


"Makasih Tante." jawab Rey berterimakasih.


(Gambar ilustrasi hasil download dari Google).


Rey mulai membawa air teh ke posisi Nino saat duduk di ruang tamu. Setelah teh di ambilnya Rey lalu mengambil toples yang ada di dalam bufet seperti kata tante Mirna tadi.


"Tidal usah repot, Rey.." kata Nino berkata melihat Rey mengambil makanan.


"Tidak apa, sudah ada kok." kata Rey menjawab.


Rey lalu membawa dua toples yang berisi kue kacang dan makaroni itu ke meja di depan Rey. Nino tersenyum melihat Rey yang perhatian.


"Nah, sekarang kamu makan dulu kuenya setelah itu baru minum tehnnya. Itu Tante buatkan khusus buat kamu." kata Rey berkata senang di depan Nino temannya itu. Teman kenal yang membuat Rey senang dan bahagia saat bersama dia.


Continue.


"Terimakasih." kata Nino sambil tersenyum sama Rey. Laki-laki itu pun ikut tersenyum melihat Nino yang begitu.


"Hm.." senyum Rey.


Nino mulai meminum Tehnya sedikit demi seedikit meski sedikit panas.


"Kuenya di makan dong.." kata Rey lanjut.


"Iya, bentar dulu masih minum." jawab Nino sambil minum. "Minum kamu mana?" tanya Nino lagi.


"Udah ada di belakang, gampang." kata Rey menjawab sambil memperhatikan Nino minum.


"Kenapa, ingin juga ya, nih kalau mau minum..?" Nino menawarkan teh yajg ada di cangkir keramik putih itu.

__ADS_1


"Nggak, seneng aja lihat kamu minum teh gitu." jawab Rey tanpa sungkan.


"Kenapa, suka?" goda Nino sama Rey.


"Iya. Hehe." jawab Rey singkat sambil tertawa.


Setelah itu percakapan pun terjadi di luar rumah.


"Keluar yuk.." ajak Rey keluar.


"Kenapa, bukannya lebih enak di sini?" tanya Nino tidak paham maksud Rey.


"Tidak enak ngobrol di rumah terus, lebih enak di luar tidak pengap dan dingin karena ada angin." jelas Rey pada Nino.


"Oh, gitu. Ya udah yuk, tapi jangan lama-lama soalnya aku harus cepet balik ke rumah setelah ini." tutur Nino memberitahu.


"Oke, insya Allah." jawab Rey yakin.


Rey beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh Nino berjalan menuju ke luar rumah. Mereka berjalan berdua beriringan.


"Yuk.." Rey mengulurkan tangan kanannya meraih tangan Nino yang sedang memakai sandal.


Nino masih ragu dengan uluran tangan Rey itu, tapi hatinya lalu di kawalnya untuk ikut dan mau apa yang perintahkan oleh hatinya Rey itu.


"Ehm.." Nino mau mengulurkan tangan kanannya untuk bisa menyentuh tangan Rey meski sedikit canggung.


Rey memegang tangan Nino dengan erat. Dengan sedikit perasaan yang ada dalam hatinya. Nino melihat Rey yang senang sekali waktu itu.


"Kamu senang ya, sekarang..?" tanya Nino pada Rey karena melihat dia yang senang.


"Iya, karena ada kamu." kata Rey menjawab. Nino tersenyum sedikit lalu perasaan getir menyerembat ke dalam dirinya melihat Rey yang ada perasaan sama Nino.


Jujur laki-laki itu tidak habis pikir kenapa Rey harus suka pada Nino dan harus memilih berteman dengan dia saat ini juga. Nino sempat cemas dan berpikir kenapa Rey tidak pacaran saja sama perempuan ulyang dia suka.


Nino diam sebentar sambil berjalan bersama Rey yang masih menggenggam tangannya.


"Nin.." sapa Rey pada Nino sambil berjalan.


"Ah..!?" Nino kaget setelah mendengar suara Rey yang memanggil Nino yang sebelumnya sempat menunduk sambil berjalan.


"Apa..?" tanya Nino Fero lagi.


"Kamu sedang mikir apa..?" kata Rey mulai bertanya.


"Ehm.. aku sedang berpikir kamu." jawab Nino jujur.


"Ah, aku..?" kata Rey tidak percaya.


"Iya." jawab Nino lagi.

__ADS_1


"Kenapa bisa aku..?" tanya Rey tidak mengerti.


"Ya, karena kamu ada bersama aku di sini, sekarang." ucap Nino sambil berjalan.


"Oh ya..!?" ucap Rey tidak percaya. Lalu Rey lanjut bicara. "Kalau begitu.. apa yang kamu pikirkan tentang aku, hah..?"


"Aku sedang berpikir bagaimana kalau sekiranya kamu punya pacar nantinya..?" usul Nino pada Rey sambil berjalan.


"Kenapa, kamu tidak suka sama aku..?" jawab Rey tidak terima.


"Oh sorry, bukan begitu maksud aku." jawab Nino sedikit ketakutan.


"Terus apa..?" tanya Rey lagi.


"Sebelumnya, aku boleh tanya?" Nino berusaha untuk tanya.


"Tanya apa..?" tanya Rey tidak mengerti.


"Kamu selama ini udah punya pacar..?" tanya Nino.


"Ah, pacar kayaknya sih belum tuh." jawab Rey sambil nyeletuk.


"Kenapa..?" tanya Nino ingin tahu.


"Malas aja pacaran harus ngabisin uang buat traktiran, jalan bareng, beliin pulsa, dsb." jelas Rey panjang lebar.


"Ya, biasalah namanya juga orang pacaran..!!" jelas Nino memberitahu.


"Maka dari itu, karena alasan itulah aku tidak mau pacaran, sampai sekarang." lanjut Rey menjelaskan pada Nino.


"Oh gitu ya, menurut aku kamu itu kebangetan kalau gitu."


"Kok bisa sih..?" tanya Nino masyghul.


"Iya, soalnya laki-laki seperti kamu sudah sepantasnya untuk pacaran."


"Oh, gitu ya. Insya Allah. Sebenarnya ada sih temen perempuan aku di kampus, cantik-cantik malah tapi aku tetap pada pendirian aku untuk tidak pacaran dulu karena hal itu sulit untuk aku jalani, sumpah!" jelas Rey sambil berjalan.


"Sumpah apa..?" tanya Nino sambil bercanda.


"Sumpah apalah terserah kamu, tapi aku serius dalam hal ini."


"Kenapa..?" tanya Nino lagi. Sepertinya dia kurang paham dan kurang mengerti apa yang di alami Rey selama ini.


Continue.


Next Story.


Rey cerita tentang masa lalunya pada Nino.

__ADS_1


__ADS_2