
Rey berlari pagi bersama Nino di taman tidak jauh dari rumah Nino. Mereka tertawa senang berdua pagi itu.
"Harusnya kita pakai celana pendek bukan celana panjang." kata Nino berucap.
"Tadi kamu tidak pinjam celana aku di kamar." kata Rey sambil berlari. Rey tertawa merasa bersalah.
Terlihat sawah membentang di sekitar jalan. Pemandangan pagi itu cukup bagus. Rey masih memperhatikan jalan di depan. Rey baru tahu suasana pagi di rumah Nino.
"Kita duduk dulu, yuk." pinta Rey pada Nino. Laki-laki itu lalu berhenti dan duduk di atas aspal sambil melihat Rey yang mendekat.
Rey menghembuskan napas lesu dan duduk di dekat Nino.
"Capai." kata Rey berseru.
"Ya, biasalah namanya juga lari. Aku lupa tidak bawa minum." ujar Nino.
"Iya, harusnya kita bawa air mineral." kata Rey lanjut.
"Kita balik ke rumah yuk, lapar nih soalnya." Nino mengajak Rey balik.
"Iya." jawab Rey setuju.
Meski dengan rasa capai mereka laku balik ke rumah, diam sebentar dan kembali mandi.
"Rey, kita mandi berdua yuk..!?" ajak Nino sama Rey. Laki-laki muda itu menoleh dengan tatapan tajam, Rey tahu kalau Nino ingin ML sama dia.
Rey diam sambil berpikir. Dia akhirnya mau meski tidak terlalu bernafsu karena tadi malam dia audah keluar.
Rey melepas bajunya di dalam kamar mandi sambil di perhatikan oleh Nino. Tubuh Rey lumayan atletis seksi, Nino tambah bernafsu melihatnya.
"Tubuh kamu bagus Rey, aku suka tubuh kamu." Nino berkata sambil mengecup tubuh Rey yang telanjang bulat.
Rey merasa terangsang oleh kecupan yang mendarat dari bibir Nino, Rey menoleh pelan sambil mendesah. Nino lalu mengecup leher Rey dengan kedua bibirnya.
Mereka akhirnya lemas setelah melakukan permainan itu. Mereka mandi di dalam bak mandi berdua karena karena malas mau nyiram diru.
Rey keluar duluan baru Nino menyusul. Rey lalu istirahat di atas kasur lemas sambil tiduran
"Nggak terasa kalau capai seperti ini. Lemas, tidak bertenaga. Pusing juga." kata Rey berkomentar.
"Iya, begitu emang setelah ngelakuin. Aku juga biasa lemas kalau udah ****." kata Nino menjawab.
"Jadi kamu sudah biasa ****?" tanya Rey langsung.
"Iya, kadang-kadang." jawab Nino.
"Jangan, dosa." kata Rey sok menasehati.
__ADS_1
"Kenapa dosa, kita kan yang nanggung dosa itu?" jawab Nino sambil memasang celana panjang.
"Iya, tapi itu perbuatan fasik. Fasik itu suka berbuat dosa kecil." jawab Rey lagi.
"Sudahlah Rey, dosa itu memang sudah jadi milik manusia itu sendiri, kurang lebihnya kita minta maaf sama Allah Swt, mudah kan?"
"Kok kamu bilang Allah Swt begitu fasih?" Rey heran kaget.
"Kamu yang biasa bilang begitu." kata Nino menjawab. Rey biasa ceramah di depan Nino.
"Iya, aku lupa. Jadi kamu serap keterangan yang dari aku?" tanya Rey.
"Iyalah, siapa tahu aku dapat ilmunya juga." kata Rey kemudian. Rey tersenyum mendengarnya.
"Aku pulang dulu ya?!"
"Kemana Rey, kok cepat? Di sini aja bareng aku. Di sini enak loh, bebas." kata Nino.
"Tapi aku rindu rumah." kata Rey.
"Aku ajak jalan-jalan setelah ini.." kata Nino.
"Malas, kemana?" tanya Rey.
"Sebenarnya nggak kemana-mana sih cuma ke dunia imajinasi aja. Pikiran kita yang di ajak jalan-jalan, tidak sebenarnya. Kita harus lama-lama duduk buat cerita." terang Nino.
Nino menanggapinya biasa saja. "Malas ah, dengerin ceramah agama kamu terus. Mending aku pergi ke luar, ke taman depan, mau ikut?" tanya Nino.
"Eh bentar, aku kemarin ke Supermarket kok tidak ketemu kamu sih, padahal di kades ada?" tanya Rey.
"Ngaco kamu Rey, aku itu adanya di dunia imajinasi kamu tok, nggak du dunia nyata." kata Nino tegas.
"Kata siapa, aku masih ingat kok sin di KDS, sin sholat, sin di GM. Dsb." jelas Rey.
"Kenapa, kamu masih cerita sama aku, aku sudah tahu Rey kalau kamu suka gay. Aku juga ikut kamu kok kemarin." kata Nino.
"Apanya?" kata Rey tidak mengerti.
"Tahu tidak, sewaktu kamu jalan, aku ikutin kamu, sewaktu kamu tidur aku ikutan tidur sama kamu. Sewaktu kamu menulis aku ikut membaca dan ikut duduk berdua di sebelah kamu, kamu tidak tahu ya, kalau aku sering muncul dalam mimpi kamu. Kalau isyarat-isyarat itu benar Rey.." jelas Nino tanpa sadar.
"Nggak, tapi aku tidak mau terima apa yang telah ada dan aku ketahui, aku ingin seperti Nabi Ilyas yang menghilang di surga..!"
Rey antusias.
"Tidak usah Rey, kamu ada di dunia saja, kamu tidak usah berpikir yang macam-macam." jelas Nino di depan Rey.
"Pas sekali sama kamu. Kamu kan udah.."
__ADS_1
"Ssssttt.. aku sengaja menghilang dari rumah karena ada tugas."
"Ct, apaan tidak ngerti."
"Seperti hadiah uang kemarin yang aku dapet."
"Ih, garing. Udahlah. Pagi ini kamu dan aku saja tidak usah ungkit yang lain."
"Kemarin tangan aku sempat gemetar, kenapa?"
"Efek."
"Keluar yuk.." ajak Rey.
"Ke taman?" tanya Nino.
"Iya."
"Pelanggaran pertama." kata Nino.
"Apa?" tanya Rey.
"Jadi cewek." jawab Nino.
"Heh, kamu suka kan, kasian." ucap Rey tidak mau kalah.
"Iya emang, tapi bukan berarti kamu harus ikut aku."
"Kemana?"
"Kemana pun kamu mau selain di sini."
"Jalan-jalan, asyik tapi ngabisin uang?" kata Rey hemat.
"Itu masalahnya, kamu suka nulis, du rumah, baca, itu sudah rizki dan barokah dari Allah Swt. Kalau kamu suka jalan, otomatis Allah Swt akan kasih kamu bensin." jelas Nino.
"Terus jaket yang kemarin, ****** *****, sepatu, sarung, baju koko?" tanya Rey.
"Itu bisa kamu beli dengan nyicil, satu persatu." jelas Nino.
"Tapi sebenarnya sudah cukup kok, ada di sini sudah surganya aku." ucap Rey berterimakasih.
Continue.
Next story.
Masih tentang percakapan di kamar Nino.
__ADS_1