
Lampu diskotik terlihat gemerlap dengan pengunjung yang penuh dan ramai.
Rey melihat beberapa pengunjung sedang menari dan berjoget bersama pasangannya. Ada pula yang group ada pula yang sendiri.
Nino lalu berjalan menuju bar yang tidak jauh dari mereka. Bar adalah tempat untuk memesan minuman. Rey mengikuti Nino di belakang.
"Kemana..?" Rey tanya, Nino tidak menjawab dan terus berjalan menuju bar.
Nino lalu duduk di kursi yang telah ada. Rey pun ikut duduk di sebelah Nino. Rey memperhatikan lokasi sekitar.
"Kenapa..?" tanya Nino tiba-tiba.
"Nggak apa-apa." jawab Rey pendek.
"Tidak biasa, ya..?" tanya Nino ngetes. Rey mengangguk sambil menjawab.
"Iya."
"Aku baru sekarang ke sini. Tapi suasananya sedikit panas." Rey seperti kepanasan efek dari lampu disko malam itu dan tempat yang pengap dan tertutup.
Tempat itu cukup rahasia dan di jaga ketat khawatir ketahuan polisi.
"Biasalah, namanya juga diskotik. Diskotik itu memang seperti itu. Panas, pengap, keringetan, mabok, muntah, dsb." kata Nino menyambung sambil menjelaskan.
Rey mendengarkannya dengan seksama.
Minuman lalu datang dua gelas bir bintang dengan es batu. Nino mengambilnya juga Rey lalu meminumnya.
Nino meminum air beralkohol itu dengam hausnya dan Rey meminumnya seteguk demi seteguk dengan bau sedikit aneh yang rey rasakan.
"Gimana rasanya, enak..?" tanya Nino pada Rey yang membawanya malam itu.
"Lumayan, lumayan amis!" kata Rey menjawab. "Aku tidak suka minuman ini, mending minum seprit sama teh botol coca cola atau rs jeruk." kata Rey polos.
"Dasar, itu mah minuman anak kecil, Ya Allah! Mending kamu nggak usah gabung ke sini, bloon!" kata Nino setengah mabok. Rey baru tahu kalau Nino ngomongnya bangsat dan ngelantur kemana-mana.
Rey meneguk minuman itu sekali lagi meski sedikit membuatnya pusibg dan teler.
"No, kita pulang yuk!" ajak Rey.
__ADS_1
"Ngapain pulang, mending kita ke sono noh, ke lantai dansa, kita joget bareng, okay!" ajak Nino malam itu.
Mereka jalan satu persatu setelah itu mulai bergoyang dan berjoged dengan indahnya. Lemah gemulai dengan langkah yang acak-acakan. Rey menikmati musik itu dengan baik malam itu.
Langkah Nino lalu ambruk setelah beberapa kali goyangan. Rey lalu menggandeng Nino keluar sambil sambil membawanya ke atas motornya. Malam itu sudah sekitar pukul 9.01 pm.
"Heh, mau bawa aku kemana, hah!" ucap Nino teler. Rey tetap membawa Nino ke atas sepeda motornya.
"Udah naik aja, kita pulang sekarang." Rey menjawab kesal. Nino duduk di atas sepeda motor sambil nyacam dan ngomong sembarangan. Ngelantur kemana-mana.
"Udah diem, apaan sih yang di omongin..!!" kata Rey pada Nino yang lagi mabok.
Rey lalu membawa Nino pulang ke rumahnya meski dengan kepala sedikit pusing.
Rey menyetir sepeda itu sambil berpikir sedih. Dia menyesal telah pergi ke diskotik malam itu tapi mau gimana lagi kalau sudah kadung masuk, itung-itung buat pengalaman.
Setelah sampai di rumah Nino, Rey membawa Nino ke dalam kamarmya. Rumahnya tidak di kunci malam itu seperti biasa. Orang tua Nino sudah tidur rupanya.
Rey akan beranjak pergi meninggalkan Nino tapi tangan Nino merampas tangan kanan Rey menyuruh dia untuk tidak pergi dulu.
"Mau ke mana Rey..?" tanya Nino dengan nada ngelantur tapi sedikit sadar.
"Tidak, kamu tidak boleh pergi malam ini dari aku. Kamu harus temani aku di sini malam ini, please.." pinta Nino malam itu pada Rey. Laki-laki itu itu lalu dudu di atas kasur sambil pegang dagu dengan kedua tangannya.
Rey mendesah lesu, dia harus terpaksa menginap di rumah Nino malam itu. Rey lalu merebahkan dirunya di samping kanan Nino yang tidur tidak sadarkan diri.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.10 pm. Rey terbangun dari tidurnya, Nino masih tertidur lelap. Rey lalu menatap kasihan pada Nino yang tertidur pulas. Tangan kanan Rey lalu memeluk tubuh Nino sambil mengecup bibirnya.
"Aku sayang kamu Nino, aku sayang kamu." ucap Rey getir.
Rey memeluk Nino dalam tidurnya. Pagi pun tiba, Rey bangun di saat adzan subuh terdengar pagi itu. Rey di lihatnya sudah tidak ada di tempat tidur. Rey mendengar seseorang sedang mandi.
Dalam sadar, Rey melihat dirinya sudah tidak berbusana lagi. Separuh badannya tertutup oleh selimut. Rey juga mencium bau amus di sekitar selimut. Rey ingat kalau tadi malam dia sempat ML sama Nino.
Laki-laki itu keluar dengan memakai handuk putih menutupi sebagian tubuhnya mulai dari pusar sampai lutut. Rey melihat Nino datang dan duduk di dekatnya.
"Kamu mandi dulu ya Rey, setelah itu kamu sholat subuh lalu kita pergi jalan-jalan keluar." kata Nino pagi itu pada Rey yang masih ada di tempat tidur.
"Iya, aku akan mandi bentar lagi. Aku masih malas, dingin." jawab Rey jujur.
__ADS_1
"Aku ganti baju dulu, key!" kata Nino pamit ganti baju.
Rey lalu perlahan-lahan bangun dari tempat tidur dan beranjak pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Rey berusaha untuk mandi meski terasa dingin.
Air mengucur dari aras pancuran, Rey meremas rambutnya yang di basahi air. Rey lalu memakai sabun, dan shampho. Setelah bergegas keluar dari kamar mandi dengan handuk.
Nino sudah terligat rapih dengan kaos cokelat dan celana biru. Dia sudah siap-siap untuk keluar jalan-jalan sama Rey.
Tanpa berkata apa-apa Rey lalu sholat subuh di kamar Nino, laki-laki itu memperhatikan Rey sholat. Usai sholat Nino bicara sama Rey.
"Kamu rajin ya sholatnya..?" Nino berucap pagi itu.
Rey tersenyum mendengarnya sambil wirid. Nino ngerti kalauvRey taat agama. Nino menunggu Rey selesai berdoa.
"Kamu nyesel udah di tidurin sama aku..?" tanya Nino pagi itu.
"Iya, aku nyesel kamu telah berbuat jahat sama aku tanpa aku sadari. Aku seperti orang bodoh yang kamu kerjain. Harusnya aku tidak kumpul sama orang seperti kamu." jawab Rey yang dengan jawaban pedas.
"Kalau kamu tidak suka aku, kamu boleh keluar dari rumah aku sekarang. Aku juga sudah bosan sama kamu." kata Nino kesal sama Rey.
"Aku akan pergi, tapi tolong jangan coba-coba hubungi aku lagi." Rey mengambil tas dan kontak motornya di atas tempat tidur, dia lalu pergi keluar dan Nino mengejar Rey cepat.
"Tunggu Rey, jangan pergi! Aku cuma bercanda sama kamu. Please maafin aku." pinta Nino pada Rey sambil melipat kedua tangannya.
"Sudahlah No, tidak lucu mending aku pulang aja." jawab Rey sambil pergi berjalan keluar.
"Rey, Rey.. Please jangan pergi, aku cuma bercanda, tokong kamu jangan tersinggung. Aku ingin ngajak kamu jalan-jalan sekarang, okay! Aku kan udah minta maaf sama kamu.." ucap Nino setengah memohon.
Rey menghembuskan napas lesu. "Iya aku maafin tapi tolong lain kali jangan ngusir aku kayak gitu lagi. Tafi malam aku juga kesulitan bawa kamu oulang ke sini. Mana tidak ada terimakasihnya juga sama aku." kata Rey sedikit kesal.
"Ya udah, aku minta maaf. Harus berapa kali aku harus minta maaf sama kamu, Rey.." jata Nino berkata.
"Baiklah, aku akan balik ke kamar dan kita pergi jalan-jalan bareng." kata Rey setuju.
Laki-laki itu lalu kembali ke kamar san menaruh tas dan kontak sepeda motornya.
Continue.
Next Story.
__ADS_1
Nino dan Rey lari pagi sambil menghirup udara segar.