
Nino benci Rey harus menunggui dia di penjara, padahal Nino sama sekali tidak kenal sama Rey. Gara-gara dia Nino harus di penjara sekarang.
Dari balik jeruji penjara Nino terpaksa berbicara sama Rey. Jam sudah menunjukkan pukul 09.01 Wib.
"Hey, kamu tidak mau pulang..?" Nino tanya dengan terpaksa pada Rey yang duduk di depan jeruji besi menunggui Nino.
"Ngapain kamu di sini menunggui aku, hah?" tanya Nino lagi sambil membentak Rey yang sedang duduk.
"Mending kamu pergi saja sekarang, mungkin besok aku sudah bisa bebas. Kamu tidak apa-apa kan?" Rey sambil mendengarkan pembicaraan Nino. Rey mengangguk.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja sekarang tidak usah nungguin aku di sini." kata Nino pada Rey kasihan.
Rey bimbang antara pulang dan tidak dan ternyata dia tidak pulang. Rey memilih untuk pulang besoknya bareng Nino. Rey tidur di atas kursi tempat duduk di depan meja tugas polisi.
Besoknya Rey numpang mamdi di kantor polisi itu dan lalu minta dispensasi pada Polisi untuk segera membebaskan Nino. Polisi mau asal di kasih tebusan. Rey setuju.
Rey lalu pinjam sepeda motor polisi dan mengambil uang di rumahnya. Nino merasa berhutang budi pada Reynaldi waktu itu. Nino akhirnya bebas dari hukuman hari itu juga.
"Makasih ya Rey, udah mau ngebebasin aku dari hukuman ini." kata Nino berterimakasih pada Reynaldi sambil berjalan keuar dari kantor polisi.
"Iya, aku juga minta maaf karena telah mengejar-ngejar kamu sampai ke kota tapi sebenarnya aku itu tidak sengaja bertemu kamu di depan Mall..!?" jelas Rey di depan Nino sambil berjalan.
"Sudahlah Rey, sudah tidak usah di bahas lagi aku malas ngebahasnya mending kita makan aja, yuk, kamu mau kan traktir aku makan..?" Nino minta di traktir makan.
Rey masih berpikir, apakah Nino mau menipu Rey?
"Sebentar.." sebelum meneruskan berbicara Nino memutus pembicaraan.
"Rey.. Rey.. kamu tenang aja tidak usah khawatir, aku akan ganti semua uang kamu nanti di rumah okay. Soalnya dompet aku ketinggalan di rumah, rencananya mau ngambil di atm tapi nggak jadi." kata Nino berbicara jujur.
"Loh, jadi dari kemarin dompet kamu itu ketinggalan..?" Rey tidak percaya apa yang telah di alami Nino waktu itu.
"Iya." hawab Nino singkat.
"Terus, kalau misalnya pas jadi beli baju waktu itu, berarti..?"
"Ya nggak jadi beli, paling pas pulang ke rumah ngambil uang." jelas Nino ke Rey. "Tapi.." Nino tidak jadi melanjutkan.
"Tapi.. ceritanya beda kan?" mata Rey berkaca-kaca mengingat Nino yang memukul Rey waktu itu di kota.
"Maafin aku Rey, aku tidak sengaja waktu itu. Aku emosi." ucap Nino pada dirinya dan Rey. Nino akhirnya sadar kalau dia salah.
"Iya, aku ngerti kamu sedang emosi. Tapi aku enggak nyangka aja kita pas langsung akrab seperti ini." kata Rey merasa bodoh.
"Kamu masih sakit?" Nino tanya sambil melihat wajah Rey yang memar dan luka.
"Auu, jangan di sentuh, sakit." kata Rey mengaduh.
"Sorry, aku nggak sengaja." kata Nino membalas.
"Kita makan yuk..?" Nino mengajak makan Rey, perutnya terasa lapar karena belum makan.
"Apa..?" Rey ingin lebih jelas lagi.
"Kenapa, keberatan..?" jawab Nino sambil bertanya.
"Bukan gitu No.." Rey mengelak dan menutupi diri dari malu.
"Sudahlah Rey, kamu mau aja biar kita sama-sama tidak punya tanggungan dan tidak keberatan okay!"
Rey mengerjapkan mata beberapa kali lalu bilang, "Okey." Mereka bersua lalu berjalan menuju tempat makan. Semacam warung kecil di pinggir jalan yang harganya murah meriah tapi tidak murahan.
"Sini duduk.." Nino mengajak Rey untuk duduk. Rey lalu duduk di depan Nino yang sambil memesan makanan.
__ADS_1
"Bang, nasi pecel dua bang.." kata Nino pada Abang yang sedang duduk menunggu pembeli.
"Iya Mas." Abang itu menhawab dan dengan sigap dan cepat Abang itu membuat makanan berupa nasi pecel.
"Istri Abang di mana, kok jaga sendiri..?" Nino lanjut bertanya.
"Ada di rumah, sebentar lagi datang." kata Abang itu menjawab. Nino mengangguk dalam hati. Rey masih memperhatikan sekitar jalan.
h.
Nasi pecel siap di sajikan setelah menunggu beberapa lama. Nasi pecel dengan ikan telor dadar dan ikan ayam semur merah siap di santap dan di nikmati. Rey melihat Nino yang sedang ingin makan dan mau menyantap nasi itu di meja.
"Kenapa, kamu tidak nafsu makan?" kata Nino pada Rey masih diam saja memperhatikan Nino yang sedang ingin makan.
"Nggak, nggak apa-apa. Aku hanya iseng ingin lihat kamu aja waktu makan." kata Rey pada Nino yang duduk di depan dia dengan sepiring nasi pecel.
Laki-laki itu lalu langsung menyantap nasi pecel itu tanpa di mulai dengan do'a langsung menyantap nasi pecel yang ada di depannya itu dengan nafsu. Rey memperhatikannya.
"Kamu tidak baca do'a dulu?" kata Rey memperingati Nino yang duduk di depannya sambil pegang sendok.
"Nggak, kenapa..?" jawab Nino singkat.
"Nanti ada setannya loh!" ucap Rey bercabda tapi serius.
"Ya nggak ada leh Rey, aku kan baca do'anya dalam hati." kata Nino menjawab.
"Masak sih?" kata Rey bertanya.
"Iya, sumpah!" kata Nino sambil menunjukkan dua telunjuk kanannya. Rey tidak percaya itu.
Nino menyantap satu sendok nasi pecel lagi dengan telur dadar yang telah di potong pakai sendok.
"Kenapa lihat-lihat, masih tidak percaya kalau aku berdoanya dalam hati?" kata Nino pada Rey yang baru di kenalnya itu.
Nino lalu berucap.
"Minta apa kamu sama Tuhan?" kata Nino pada Rey yang melihat kedua tangan di buka.
Nino adalah seorang laki-laki yang termasuk asing dan jauh dalam urusan soal agama, dia bisa di bilang atheis karena tidak percaya akan adanya Tuhan atau Allah Swt.
"Aku tidak minta apa-apa sama Allah, aku hanya berdoa itu saja." kata Rey menjawab.
"Kamu percaya Tuhan kan, No..?" Rey tanya laki-laki mengangguk dan menjawab,
"Iya, aku percaya. Aku percaya kok sama Tuhan kamu, Tuhan siapa pun di dunia ini." kata Nino jelas di depan Rey.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Aku makan dulu, ya?" Rey pamit makan dulu.
"Iya, silahkan hati-hati keselek." kata Nino bercanda.
"Insya Allah." jawab Rey apa adanya. Setel Rey membaca, Bismillahirrohmanirrohim.
Rey lalu mulai makan dan menyantap nasi pecel itu dengan sendok yang ada di tangannya sambil membelah telor dan ikan ayam pakai sendok makan.
"Kamu yakin sekali ya sama doa..?" tanya Nino pada Rey yang ada di depannya.
"Iya, kenapa.?" Rey balik tanya. Nino diam tidak menjawab.
"Semua orang islam itu yakin dengan apa-apa yang di bacanya, termasuk do'a-do'a yang di panjatkan kepada Allah Swt. Seperti do'a mau makan, do'a mau minum, dsb.
"Senjata orang islam itu adalah do'a." kata Rey menjelaskannya di depan Nino di sela-sela makannya.
Nino mengangguk percaya sambil lalu berpikir.
__ADS_1
"Kenapa orang islam harus punya senjata berupa doa, bukan pistol, pedang, dan lain sebagainya?" Nino lanjut tanya pada Rey karena ingin tahu.
"Ya, mungkin karena krang islam itu pintar di suruh berdoa. Dan do'a-doa'a itu memang ada dan di ajarkan dalam agama. Kamu?" sekarang giliran Rey yang bertanya pada Nino.
"Aku, aku biasa saja. Aku lebih percaya Tuhan ketimbang do'a-do'a macam itu. Aku yakin kalau Tuhan akan tetap menjaga kita meskipun kita tidak berdo'a." jelas Nino di depan Rey.
"Iya, aku percaya tapi do'a itu adalah sebagai pelengkap saja dan sebagai tambahan barokah bagi umat muslim. Kamu mengerti!" jawab Rey tidak kalah saing. Nino mengangguk paham.
Rey menyantap nasi pecel yang masih ada di piring itu lagi. Nino juga ikut makan.
"Sebenarnya dalam islam saat kita sedang makan, tidak di bolehkan berbicara." ucap Rey nyeletuk.
"Kenapa?" Nino bertanya tidak mengerti.
"Kurang barokahnya. Atau, bisa jadi nilai barokah kita makan berkurang, jadinya kita masih lapar, loh." ucap Rey lagi.
"Iya aku ngerti. Aku pernah baca di buku. Tapi kasang kita perlu buxara saat makan." kata Nino jelas.
"Tergantung orangnya saja mau atau tidak di ajak bicara, kalau aku sih tidak kuat." kata Rey jujur.
"Iya, buktinya dari tadi kamu bixara terus di depan aku, padahal kamu sudah tahu hukumnya gimana." kata Nino mensekak Rey yang lebih tahu agama.
"Sorry, ya No. Aku memang biasa gitu kalau udah ngomong, apalagi di depan kamu yang baru kenal." kata Rey jujur.
"Mungkin bisa jadi karakter kamu yang biasa gitu, di depan orang?" lanjut Nino.
"Nggak juga, mungkin karena kamunya aja." ucap Rey balik.
"Maksud kamu..?" Nino tanya tidak mengerti.
"Ya, sudahlah tidak ysah di bahas, lupakan saja. Nanti setelah kita makan kita mau kemana?" tanya Rey pada Nino sambil memakan nasi pecel yang masih tersisa di piring.
"Pulang." jawab Nino singkat. Rey tercekat mendengarnya. "Kenapa?" tanya Nino penasaran melihat Rey yang tercekat.
"Nggak, nggak apa-apa. Berarti kita naik mobilnya pisah dong.." kata Rey jelas di depan Nino.
"Kamu tidak mau ikut aku dulu, ke rumah?" kata Nino pada Rey, yang tidak jadi menyantap nasi pecelnya.
"Buat..?" Rey lupa pesan Nino tadi.
"Kamu lupa ya?" Nino menjawab.
"Apa..?" Rey balik tanya. Nino tersenyum, Rey sambil mengingat-ingat apa yang dia lupa.
"Oh, iya aku lupa. Iya deh, aku ikut ke rumah kamu dulu, nanti pulangnya aku naik taksi." kata Rey menjelaskan.
"Tidak usah, nanti pulangnya biar aku antar aja kamu ke rumah kamu." ucap Nino jujur.
"Tidak usah, ngerepotin kamunya aja." kata Rey manja.
"Tidak masalah, kamu kan udah nolongin aku keluar dari penjara.." jawab Nino jelas.
"Itu semua kan gara-gara aku.." timpal Rey di depan laki-laki dewasa itu.
"Ya salahnya aku juga, kenapa aku harus emosi dan marah sama kamu. Harusnya aku tidak langsung mukul kamu waktu itu." ungkap Nino atas kesalahannya itu.
"Sudahlah, tidak usah di bahas lebih panjang lagi. Ini semua sudah takdir kita untuk bertemu. Jadi di sykurin aja, alhamdulillah." jelas Rey di depan laki-laki itu.
Nino mengangguk paham. Setelah itu Rey membayar dua harga porsi nasi pecel yang telah di makan habis. Mereka lalu menunggu taksi yang lewat di jalan raya dekat plaza.
To Be Continue.
Cerita selanjutnya.
__ADS_1
Nino pulang ke rumah di temani oleh Reynaldi.