Kejar Daku (Novel)

Kejar Daku (Novel)
Chapter 14


__ADS_3

...Manga.mobi...


...IG: @Faisolnur2/...


...Twitter: @Ibr_Faa/...


...Tiktok: FaisolStay. ...


...Sebelumnya. ...


"Bu.. aku pamit keluar dulu ya.." Nino pamit sama Ibunya sebelum pergi keluar.


Nino berada di atas sepeda motornya sambil menunggu Rey naik ke atas sepeda motor di belakang.


"Yuk, jalan.." Rey menyuruh Nino untuk jalan. Keduanya berjalan keluar halaman rumah mereka.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih Nok..?" tanya Reynaldi saat motor berjalan.


"Menurut kamu..?" tanya Nino balik.


"Menurut aku kita perginya ke kota, terus jalan-jalan ke pelabuhan, lalu ke mall sambil belanja, pas makan tahu tek telor berdua di alun-alun, asikkk.."


Rey nyerocos di atas sepeda motor yang berjalan, sambil di temani desau angin yang menghembuskan rambutnya cepat.


Nino mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan 120/km.


"Jangan cepat-cepat No.." ucap Rey pelan.


"Biasa aja lagi.." kata Nino sambil menyetir.


Keduanya berjalan dengan puas di atas sepeda motor sambil melihat sekeliling jalan.


"Hahaha, asyik ya sepedaan sama kamu." ucap Rey senang.


"Iya dong, Nino gitu.." Nino berkelakar.


Sampai di pertengahan jalan tepat di pinggir kota di situ ada penjual bunga mawar, Nino berhenti di situ.


"Kok berhenti sih..?" tanya Rey tidak mengerti.


"Aku mau beli bunga dulu." kata Rey sambil turun dari sepeda motornya.


"Buat siapa..?" tanya Rey ingin tau.


"Buat kamu." jawab Nino bercanda.


"Apa..!?" jawab Rey kaget.


"Ya nggaklah, bukan buat kamu tapi buat cewek aku." jawab Nino jujur.


"Cewek, sejak kapan kamu punya cewek..?" tanya Rey bingung.


"Masak aku harua ngasih tau kamu dulu, ya nggaklah." kata Nino sambil naik ke sepeda motornya itu setelah membayar.


"Nih pegang." Nino menyuruh Rey memegang bunga itu. Rey kesal sebenarnya tapi sudahlah.


Motor mereka berjalan dengan gesit, mereka lalu berhenti di depan rumah dan Nino melempar bunga itu di depan pintu pagar rumah.


Rey masih bingung apa maksud Nino yang seperti itu. Nino membalikkan motornya dan kembali melang-lang buana sambil berhenti di depan alun-alun kota.


"Kok berhenti di sini sih?" tanya Rey yang masih duduk di atas motor.


"Kenapa, kamu tidak mau makan?" Nino bertanya.


"Kita kan puasa, ini kan bulan romadlon..?" Rey menjawab serius.


"Rey, mau puasa atau tidak itu terserah aku, yang penting kamunya puasa aku tidak." jelas Nino sambil jalan. Rey mengikuti dia di belakang.


"Tapi kan..?" Rey masyghul.


"Tapi apa, terserah kamu mau bilang aku orang islam atau bukan. Yang penting aku masih sayang sama kamu sampai sekarang dan aku tetap ngehargai kamu yang masih puasa." jelas Nino lagi.


"Ngehargai gimana kalau kamu makan di depan aku..?" tanya Rey lagi sambil mengambil tempat duduk bersama Nino.


"Itu berarti ujian buat kamu. Aku tidak mau nguji kamu tapi aku cuma mau makan, lapar." ucap Nino sekali lagi.

__ADS_1


Seorang Bapak lalu datang menghampiri.


"Pesan apa dek..?" tanya Bapak itu.


"Kamu pesan apa..?" Nino tanya dulu sama Rey.


"Aku pesan tahu tek telor satu sama es degan." ucap Rey memesan. "Kamu..?" lanjut Rey kemudian.


"Aku pesan tahu tek telor juga kayak kamu." kata Nino melanjutkan.


Pesanan lalu datang setelah beberapa menit. Rey memperhatikan Bapak itu yang sedang masak sebelumnya, dia memasak sendiri.


"Eh, minumnya kamu belum..?" kata Rey nambah.


"Oh iya, biar tunggu Bapak dulu selesai masak." kata Nino menjawab.


Nino lalu memesan minuman setelah pesanan datang. Mereka berdua lalu makan setelah membaca do'a.


Setelah itu mereka lalu pergi dari tempat alun-alun kota itu. Lalu berhenti di sebuah area pemakaman.


"Kok berhenti di sini, sih..?" tanya Rey riskan.


"Ikut aja.. yuk!" ajak Nino sambil berjalan ke depan. Langkah kaki Nino terlihat dari kedua celana levisnya yang berwarna gelap pudar.


"Mau ke mana, sih..?" tanya Rey tidak sabar.


"Kita ke makam Kakek." jawab Nino singkat.


"Kakek, kakek kamu..?" tanya Rey lanjut.


"Iya." jawab Nino.


"Ngapain..?" tanya Rey lagi.


"Nyekar." jawab Nino.


"Nyekar..?" tanya Rey sambil mengerutkan kening.


"Iya." jawab Nino tenang.


"Ini makam Kakek kamu..?" tanya Rey ingin tahu.


"Iya, makam kakek sama Nenek." jawab Nino jujur.


"Duduk." perintah Nino sama Rey. Rey pun ikut duduk di dekat Nino.


Nino seperti membaca sesuatu.


"Baca apaan sih..?" Rey bertanya tidak mengerti.


"Baca do'a." jawab Nino. Rey lalu ikut membaca surat Alfatihah untuk alm. dan almh. kakek dan nenek.


"Siapa namanya..?" tanya Rey lagi.


"Tidak tahu, di situ tidak tertulis namanya. Yang aku tahu Ibu maaih merahasiakannya sama aku sampai sekarang." jelas Nino.


"Kenapa..?" tanya Rey.


"Tidak tahu. Aku maaih mau tanya kapan-kapan kalau waktunya sudah tiba." kata Nino menjelaskan.


"Yuk..!" Nino mengajak Rey untuk berdiri. Rey pun berdiri mengikuti Nino.


Mereka berdua lalu berjalan beriringan.


"Kamu kenapa..?" tanya Nino yang melihat Rey kelihatan sedih.


"Nggak apa-apa. Aku hanya ingat sama seseorang saja." kata Rey menjawab, matanya berkaca-kaca.


"Kamu nangis..?" tanya Nino tidak sanggup menyimpan perasaannya.


Air mata itu jatuh di pipi Rey waktu itu. Air mata yang mengalir dari kedua mata Rey. Dia membiarkan air mata itu mengalir begitu saja.


Nino lalu berhenti dan melihat raut wajah Rey sambil memegang kedua pundaknya.


"Kamu kenapa..?" tanya Nino penasaran. Rey langsung menghapus air mata di pipinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa nangis..?" tanya Nino sekali lagi.


"Nggak apa-apa, aku teringat sama seseorang saja." jawab Rey jujur.


"Siapa..?" tanya Nino.


"Entahlah, pokonya ada di dalam pikiran aku. Seseorang yang membuat aku ingin nangis dan ingin mengingat dia seumur hidup aku." terang Rey pada Nino.


"Siapa..?" tanya Nino lagi.


"Tidak tahu, aku tidak tahu siapa dia. Yang ada di ingatan aku cuma wajahnya saja, dia muda fldan berbakat dalam menulis.


"Dia membawa nama aku dan nama seseorang yang aku kenal." ucap Rey sambil sesekali menangis.


Nino mebgajak Rey untuk duduk buar lebih tenang dan tidak capai.


"Terus..?" tanya Nino lanjut.


"Dia sempat memberikan aku kebahagiaan meski pun sesaat dan itu adalah kebahagiaan aku yang aku punya di dunia ini.


"Aku juga punya sebuah rahasia yang masih belum aku sampaikan atau beritahukan ke kamu, mungkin nanti kalau sudah tepat waktunya." ucap Rey pada Nino.


"Apa..?" tanya Nino tidak mengerti.


"Sebuah kitab yang aku simpan di lemari yang masih belum sempat aku baca sampai sekarang." jelas Rey di depan Nino.


"Kitab, kitab apaan?" tanya Nino


penasaran.


"Kitab rahasia, yang di dalamnya tertulis sholawat nabi Muhammad Saw." jelas Rey tentang kitab itu.


"Kenapa kamu harus baca kitab itu..?" tanya Nino tidak paham.


"Tidak tahu, aku cuma senang aja bacanya, seperti do'a-doa'a maqbul gitu." terang Rey pada Nino.


"Ada juga yang baca sambil puasa." terang Rey sekali lagi.


"Puasa, sekarang kan emang bulan puasa..?" tanya Nino riskan.


"Iya aku tahu dan aku ngerti, maksud aku puasa di bulan selain bulan romadlon. Seperti Muharrom, shofar, dsb." jelas Rey tentang bulan itu.


"Kenapa harus begitu..?" tanya Nino ulang.


"Tidak tahu, aku tahunya dari Mbak aku di rumah."


"Siapa..?" tanya Nino ingin tahu nama Mbaknya Rey itu.


"Nggak penting, yang penting sekarang adalah kaku yang ngajak aku ke sini. Yuk kita balik.." ajak Rey pada Nino untuk segera keluar dari makam itu.


Mereka berdua lalu berjalan keluar area pemakaman.


Motor berjalan melewati jalan yang cukup ramai oleh pengendara.


"Mau kemana setelah ini..?" kata Rey bertanya. Keduanya tengah duduk du atas sepeda motor.


"Pulang." jawab Nino simple.


"Kok pulang sih..?" Rey masyghul.


"Emangnya mau kemana..?" tanya Nino sambil menyetir.


"Ke diskotik yuk..?" ajak Rey merengek.


"Diskotik, boleh tapi syaratnya kamu yang neraktir nantinya." jawab Nino bersyarat.


"Okey, siapa takut!" kata Rey menjawab.


Keduanya lalu pergi ke sebuah diskotik yang dekat dengan kota, namanya BEJE.


Continue.


Next Story.


Rey dan Nino berada di dalam diskotik sambil menari disko.

__ADS_1


__ADS_2