
Rey mencari Nino sambil melihat ke sekeliling, banyak penjual dan pembeli di situ. Rey ingin melihat-lihat sesuatu dulu siapa tahu ada yang di suka. Kata Rey dalam hati.
Rey melihat beberapa aksesoris yang di jual di kios-kios kecil. Rey melihwt beberapa lalu di tawarnya.
"Ini berapa Mas..?" tanya Rey sambil menunjuk sebuah gelang.
"Sepuluh ribu Mas." jawab Mas itu.
Rey masih berpikir dua kali untuk membeli barang itu.
"Maaf Pak, nggak jadi." Rey balik keluar kios.
Rey lalu berjalan melewati orang-orang yang tengah berjemur. Semuanya jemur paha sama bodynya yang mulus membuat Rey malas seakan ingin menutupi mereka dengan selimut tebal atau mereka di usir saja tidak usah berjemur di situ.
Tapi sebenarnya tidak apa-apa sih soalnya hal itu tidak ngefek sama Rey, yang ngefek itu kalau ada laki-laki ganteng yang mau menghampiri Rey dengan tampilan yang memukau dan mempesona.
Meski tidak semua laki-laki harus tampan selagi baik, perhatian dan islam. Tidak islam pun juga boleh yang penting mereka baik. Tidak mengumpat, bicara baik, tidak maksiat dsb.
Rey sangat bersyukur kepada Allah Swt atas apa yang di raihnya sekarang.
"Alhamdulillah, makasih ya Allah Engkau telah baik sama aku selama ini." ucap Rey dalam dan penuh syukur.
Sebentar lagi waktunya berbuka puasa di mana aku terus menulis di temani angin.
Marhaban Ya Romadlon Marhaban Syahrus Shiyam.
h.
Masih di Bali. Rey selesai mandi di laut bareng Nino tapi Nino milih pulang duluan.
Setelah sampai di hotel Rey menemukan Nino tidak ada di dalan kamar. Rey mendengus kesal, kenapa Nino harus pergi begitu saja.
Rey mengambil hp mebghubungi Nino. Ternyata hp-nya di angkat dan Nink bilang kalau dia masih perlu sama seseorang di luar temannya katanya.
Rey memaklumi itu. Setelah itu Rey pergi keluar untuk mencari angin atau pergi jalan-jalan sambil cari makanan.
Rey duduk di depan hotel sambil melihat jalan. Setelah berpikir dua kali Rey punya akal hemat kalau dia akan pergi beli Mi goreng saja lalu di masak di dalam kamar atau beli Mie rebus di luar karena harga makanan di luar mahal.
Setelah itu Rey beli Mie rebus lalu di makannya tanpa di rebus. Setelah itu Rey beli cemilan kue telor atau biskuit kenyang tanpa harus pesan makanan.
Nino lalu tiba-tiba datang saat Rey ada di dalam kamarnya. Dia masuk dengan tergesa-gesa. Rey melihat Nino biasa.
Nino menatap Rey sejenak dan mereka saling tatap.
"Kenapa, ada apa?" tanya Rey tidak mengerti.
Nino tidak menjawab sambil terus memandang Rey. Laki-laki itu tiba-tiba memeluk Rey dengan cepat.
"Maafin aku, aku telah tega ninggalin kamu." ucap Nino sambil peluk Rey. Rey langsung berkaca-kaca seperti di film sailor moon.
Air mata itu lalu di hapusnya dan Rey kembali tabah.
"Tidak apa, biasa saja, kamu kan lagi ada perlu. Ada kamu di sini aku senang. Kamu ngajak aku ke sini, ke Bali udah buat hati aku senang.
"Aku juga punya pengalaman baru di sini. Aku juga punya sesuatu buat kamu." kata Rey.
"Apa..?" tanya Nino.
"Jam tangan buat kamu, tadi aku iseng beli di kios dekat sini. Nih." kasih Rey sama Nino.
__ADS_1
Nino takut untuk mengambil barang itu. Nino terpaksa mengambilnya.
"Maksih ya." ucap Nino.
"Sama-sama." jawab Rey.
"Ohya, setelah ini acara kita kemana..?" tanya Rey lanjut.
"Kita ke pantai kute, setelah itu kita lihat-lihat candi." jawab Rey.
"Hm, boleh tapi kalau kita ke Masjid gimana?" tanya Rey.
"Di sini tidak ada masjid Rey." jawab Nino.
"Ya udah yuk jalan." ajak Rey. Mereka akhirnya jalan.
Mereka berfoto di candi tempat pemujaan orang-orang Bali. Mereka berpose di depaj candi dan melihat pelbagai candi yang ada.
"Setelah ini kita ke mana..?" tanya Rey.
"Aku tidak tahu, menurut kamu?" tanya Nino.
"Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah sih, tapi di tempat lain. Gimana kalau kita shopping.
"Boleh, yuk." ajak Nino kemudian. Keduanya berjalan mengikuti arus waktu.
Di mall Denpasar Bali Rey akhirnya belanja sama Nino menghabiskan uang bekal yang di bawanya.
"Kamu mau beli apaan sih Rey..?" tanya Nino.
"Aku mau beli baju, celana, kaos, sepatu, sendal, dsb."
Setelah berbelanja dengan belanjaan penuh Rey dan Nino kembali ke hotel dan besoknya masih mampir ke pantai Kuta.
Keduanya berjalan dan bertemu seorang artis yang sedang shuting di situ.
Mereka adalah Maudy Ayunda dan Reza rahadian. Rey numpang foto dan bersalaman di situ. Ada percakapan sebentar dari Rey.
"Mbak boleh tanya..? tanya Rey.
"Apa..?" jawab Maudy.
"Ini shuting film apa sih..?" tanya Rey.
"Oh, ini shuting film, film apa ya Za..?" Maudy balik tanya ke Reza.
"Oh, judul film ini masih rahasia soalnya masih dalam proses shuting dan masih dalam garapan produser." jawaban Reza masuk akal. Rey bingung dengarnya.
Maudy lalu berbicara intern bersama Reza, seperti membicarakan sesuatu.
Tiba-tiba suara seseorang memanggil mereka Maudy dan Reza.
"Yuk, kita ambil take lagi." kata seorang laki-laki yang bertopi, Rey tidak mengenal laki-laki itu.
Setelah itu mereka balik berjalan yaitu Rey dan Nino. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan mejejakkan kaki di hamparan pasir pantai kute.
Kangen Vivi. 3.29 pm.
Keduanya melihat luasnya air laut dan ombak laut yang menghampar dan beriak. Bunyinya berdesis. Subhanallah. Rey bertasbih memuji kekuasaan Allah Swt.
__ADS_1
"Subhanallah." ucapnya lagi.
"Kenapa..?" tanya Nino.
"Sungguh luas kebesaran Allah Swt, yang menciptakan laut sedemikian rupa. Dengan beberapa keajaiban yang tersimpan di dalamnya.
"Masya Allah, aku jadi ingin mandi di laut deh. Jadi ingin lihat kerang-kerang di laut pakai kacamata renang." tutur Rey kemudian.
"Sama ikannya juga kan?" ujar Nino.
"Iya tapi tidak boleh di ambil atau di pancing." ucap Rey.
"Kenapa?" Nino tidak mengerti.
"Karena kalau di pancing ikannya bisa mati dan tidak bisa hidup lagi. Bisa mungkin. Dan ikan itu tidak bisa bernapas lagi dan tidak bisa bertasbih lagi.
"Karena nafas itu adalah tasbih." lanjut Rey.
"Kok bisa gitu sih?"
"Itu aku ambil dari filosofi ikan. Ada seorang ulama yang tidak suka makan ikan dengan alasan tertentu. Dia mengajar di sekolah.
"Dia juga suka bersholawat Nabi Muhammad Saw. Ada yang berkata kalau ulama itu adalah wali atau yang diterima doanya.
"Kalau aku sih lain." ucap Rey lanjut.
"Kalau kamu kenapa?" tanya Nino balik.
"Kalau aku sih, suka makan ikan dan tidak mau mutih, tapi aku suka puasa." ucap Rey.
"Siapa yang ngajari kamu..?" Nino tanya ingin tau.
"Aku di ajari oleh seorang guru." jawab Rey. Diva.
"Siapa..?"
"Guru ngaji aku." kata Rey menjawab.
Nino masih merangkul pundak Rey dengan baik dan perhatian.
"Apalagi yang kamu ketahui?" tanya Nino lagi.
"Di dunia ini ada siksa yang menyakitkan hati aku. Kurang ajar memang, dasar. Sukanya nyiksa orang saat dia hidup. Semoga dia juga dapat siksa." ucap Rey jengkel.
Nino mengerti dan memaklumi.
"Kita balik yuk?" ajak Nino.
"Kemana?" tanya Rey.
"Ke hotel." jawab Nino.
Mereka akhirnya kembali ke hotel dan beristirahat di dalam.
Apakah benar kematian itu karena aku? Jangan salahkan aku.
Continue.
Next Story.
__ADS_1
Rey pulang balik ke Jakarta bersama Nino.