
Rey menerima cokelat itu dari Dian dengan perasaan senang.
"Makasih ya Yan, cokelatnya aku ambil." kata Rey sambil menerima cokelat itu.
Rey kembali ke kampus bareng Dian sambil berjalan ke lantai dua. Sambil berjalan Rey diam tutup mulut tak bicara apa pun.
"Rey, kamu kenapa kok tidak ngomong?" kata Dian kemudian.
"Tidak apa aku cuma lagi malas saja." Rey menjawab. Di depannya terdapat Beni sedang berdiri sendiri di dekat pagar kampus.
Beni adalah teman sekelas Rey. Dia sedikit nakal dan suka ganggu Rey saat bersekolah di SMA.
Rey dan Dian melewati Beni.
"Kamu kenapa sama Beni, musuhan ya..?" Dian berbicara sambil berjalan.
"Nggak, biasa saja." Rey menjawab.
"Sebenarnya kita mau pergi ke mana sih?"
"Mau pergi ke mana?"
"Aku ke kantin dulu ya, mau ikut?" kata Dian.
"Boleh." jawab Rey. Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kantin.
Di kantin terdapat beberapa Mahasiswa yang lain yang ikut berkumpul sambil makan-makan.
"Kamu mau beli apa?" tanya Dian pada Rey.
"Aku beli kripik saja."
"Ya udah aku juga. Kamu mau tahu isi?" tawar Dian pada Rey temannya itu.
"Nggak usah makasih." Rey menjawab malu meski sebenarnya terasa lapar.
"Ya udah kalau gitu." Dian menyudahi. Setelah itu Dian membayar uang tahu dan kripik pada penjaga kantin. Rey titip uangnya ke Dian.
"Yuk, masuk ke kelas." kata Rey keburu.
"Aku masih makan tahu, Rey.." kata Dian pada Rey.
Rey cemas khawatir kuliah sudah masuk. Dian sedikit terburu-buru makan tahu isinya. Rey menutup plastik keripiknya dan tidak jadi makan karena takut dan sudah tidak enak makan lagi.
"Ayo Ya, cepetan kelas sudah masuk nih.." paksa Rey.
"Iya, udah aku udah selesai makannya." Dian menyudahi.
Mereka berdua lalu berjalan keluar kantin berdua sambil berjalan cepat karena sudah masuk kelas.
Langkah Rey dan Dian terburu-buru naik ke lantai dua untuk segera masuk ke kelas semester empat yang di situ telah hadir Dosen Mulyadi bidang studi Pendidikan Agama Islam.
__ADS_1
Rey dan Dian langsung masuk dan permisi lewat di depan Dos. Mulyadi. Beliau melihat keduanya masuk ke kelas. Pak Mulyadi membiarkan mereka berdua untuk duduk sambil lalu mendengarkan Pak Mulyadi menerangkan pelajaran.
Pak Mulyadi meneranglan mapel itu sekitar dua sampai tiga jaman karena kemarin kampus sempat libur semester.
"Baiklah anak-anak, jangan lupa kerja kelompoknya untuk buat makalah denganbjudul yang telah tertulus di papan tulis."
"Baik Pak.." jawab Mahasiswa yang lain. Setelah itu Pak Mulyadi mengabsen para Mahasiswa yang telah hadir di situ.
Setelah itu Pak Mulyadi keluar sambil di ciumi oleh Para Mahasiswa yang hadir di situ. Khususnya Rey dan Dian yang telah telat tadi.
"Dari mana saja kalian tadi..?" kata Pak Mulyadi.
"Anu Pak, dari kantin habis makan dan beli-beli." kata Dian dan Rey bergantian.
"Ya sudah, lain kali tidak boleh telat lagi, ya."
"Baik Pak." kata Rey dan Dian.
Mereka lalu berdiri berdua sambil memandangi Pak Mulyadi yang berjalan di depan mereka.
"Rey.." Dian tiba-tiba berucap.
"Apa..? jawab Rey kaget.
"Pak Mulyadi cakep ya..?"
"Apaan sih kamu ini Yan, jadi cewek itu tidak boleh Blagu tau. Masak Pak Mulyadi kayak gitu di bilang ganteng.."
"Iya, cakep.." Rey mengulang.
"Tapi Pak Mulyadi kan orangnya baik.." Dian memcoba tuk berkomentar.
"Emang." jawab Rey setuju.
"Soalnya gini, maksud aku Pak Mulyadi itu masih muda dan masih cakep gitu.."
"Iya, aku tahu, lagian ngapain sih ngebahas Pak Mulyadi..?"
"Iseng."
"Iseng dengkulmu itu, Yan. Eh, habis ini siapa lagi sih dosennya..?" tanya Rey tidak tahu.
"Buk Muslihati, tapi sepertinya beliau berhalangan masuk."
"Masak sih..?"
"Iya. Insya Allah."
"Ya sudah kita keluar aja yuk.." ajak Rey pada temannya itu.
"Yaudah, yuk.." Dian setuju.
__ADS_1
Akhirnya mereka berjalan berdua menuju ke halaman kampus di bawah.
"Eh, Rey bentar dulu aku ada perlu sama temen aku bentar, kamu tunggu di sini dulu, ya!" perintah Dian pada temannya itu.
"Iya. Aku tunggu di sini, tapi kalau aku tidak ada di sini telepon aku ya?" kata Rey bilang ke Dian.*
Dian pergo berjalan menghampiri Helena yang baru saja memanghil Dian dengan suara pelan. Perempuan itu memakai setelah baju cokelat muda dengan kerudung senada.
Rey berdiri sendiri sambil melihat ke depan, jalan depan pagar kampus. Ingin sekali Rey menghampiri pinggir jalan itu, entah karena apa, mungkin karena bosan berada di dalam kampus terus.
Rey melangkahkan kakinya menuju ke pinggir jalan untuk pergi ke toko foto kopian di luar kampus. Sebelum melangkah menyeberang jalan Rey berpikir dulu. Apa benar aku akan ke foto kopian, buat apa sebenarnya?
Rey lalu berbalik melangkah menuju koperasi utara gerbang masuk kampus Universitas Muhammadiyah di kotanya itu. Rey duduk sambil mebuka layar hp dan Facebookan.
Suara klakson mobil dan sepeda motor di pinggir jalan terdengar beberapa kali. Sms dari Dian muncul.
Sms.
From : Dian
Rey, aku pulang dulu bareng Helena, tadi di cari kamu tidak ada. Duluan ya Rey.
Iya. Rey membalas sms itu. Rey lalu pergi ke pinggir jalan untuk pulang karena tadi dia naik bus berangkatnya ke kampus.
Rey melangkah berjalan sambil menghadap ke depan sambil menghitung langkah kaki Rey menuju masjid kampus untuk sholat ashar dulu. Waktu itu sekitar pukul 5.05 PM.
Rey harus bergegas untuk sholat karena wajtu sudah cukup sore dan Rey masih belum sholat Ashar.
Anak itu melewati pagar kampus yang bersambung dengan pagar masjid yang terletak dekat dengan jalan raya.
Masjid telah terlihat dekat, Rey telah sampai di masjid itu dengan selamat. Alhamdulillah.
Langkah kaki Rey menuju tempat wudlu untuk mengambil wudlu dan bersiap sholat ashar.
Di dalam masjid Rey bertemu dengan para Mahasiswa yang lain yang tengah sholat, ada pula yang sedang wiridan usai sholat.
Rey kesusu untuk cepat pulang karena setelah itu waktu maghrib tiba dan dia harus segera pulang dan menyetop bus Akas sambil menunggu di pinggir jalan menjelang waktu maghrib.
Rey berdiri di pingggir jalan raya Pantura usai sholat ashar tadi. Syara Adzan maghrib terdengar di telinga Rey, tapi dia enggan untuk sholat maghrib dulu karena sudah kadung nunggu bus di situ.
Nus pun datang dan Rey mulai menyetop bus itu dan kemudian naik lalu nencari tempat duduk di dalam bus. Rey sekarang duduk santai di dalam bus sambil melihat ke depan atau ke samping lewat kaca bus.
Senang sekali naik bus sore itu. Kadang masih ada saja pengamen yang mampir untuk menyanyi dan Rey cuma menikmati lagu dan tabuhan gendang itu tanpa memberikan sepeser pun uang untuk si pengamen. Pelit.
Continue.
Ke Chapter 9
Alhamdulillah akhirnya selesai chapter 8.
Terimakasih Ya Allah atas waktu-Nya dan nikmat-Nya. Amin.
__ADS_1