
Bismillah
Kapal Air Lines jurusan Jakarta Singapura berangkat. Kapan transit dulu ke Singapura sebelum akhirnya ke Eropa Jerman. Setelah itu Evelin naik bus untuk bisa sampai di Kampus Germany Of University.
Setelah menunggu kepergian Evelin di Air Port akhirnya Reynaldi, Pak Brata dan Ibu Sarah kemnali pulang dengan naik mobil.
Di dalam mobil Rey tidak bercakap-cakap hanya ngomong seperlunya saja. Beberapa jam perjalanan dan harus berada di dalam mobil bersama Ibu dan Bapak Evelin yang sedang menyetir. Pak Brata lalu bertanya pada Rey.
“Rey sudah bisa menyetir mobil?”
“Sudah Om, alhamdulillah.”
“Beneran bisa?” tanya Pak Brata lagi.
“Insya Allah Om.” Jawab Rey sedikit malu.
“Kalau gitu nanti kapan-kapan bisa antar saya pulang atau jemput saya dari rumah, bisa kan Rey?” tanya Pak Brata antusias.
“Insya Allah Om.” jawab Rey yakin.
Setelah itu mobil melewati perempatan jalan dan menunggu lampu hijau menyala. Di situ Rey teringat sama Nino bagaimana kabar dia sekarang.
Entahlah mungkin sedang berdua dengan Angel. Nino lalu berinisiatif untuk menelepon Nino. Rey masih menunggu sambungan signal ke handphon Nino. Setelah itu handphone di angkat.
“Hallo.. Assalamualaikum?”
“Iya, siapa ini?”
“Aku Rey.”
“Oh Maaf Rey aku tidak lihat nama kamu tadi, ada apa?” tanya Nino semangat.
“Aku ada perlu sama kamu, aku ingin ketemu kamu sekarang bisa kan?” Nino masih berpikir tidak langsung menjawab.
“Tapi ada apa Rey, kita bisa ngomong di sini di handphon.”
“Nggak, aku maunya ketemu di kafe tempat biasa.” telepon tiba-tiba di tutup oleh Rey. Nino bingung dan kesal dia malas harus bertemu Rey lagi.
Nino berjalan keluar bersama mobilnya fia harus bertemu Rey saat itu juga.
Di kafe yang cukup sederhana Rey duduk sambil menunggu Nino datang. Akhirnya laki-laki itu datang setelah beberapa menit berlalu. Nino turun dari mobil dan melihat Rey sudah duduk di kursi kafe sendirian. Nino berjalan menghampiri Rey.
“Ada apa?” tanya Nino yang langsung duduk.
__ADS_1
“Aku kesal sekarang.” ucap Rey sedikit manja.
“Maaf ya Rey sebelumnya. Mungkin hubungan kita cukup sampai di sini saja.”
“Maksud kamu?” Rey tidak mengerti.
“Kita akhiri hubungan ini di sini. Kita putus!” ucap Nino tegas.
“Oh, putus akay. Aku terima tapi aku juga bilang tidak.”
“Loh kok gitu?”
“Yah, aku juga akan bilang kalau kamu telah mempermainkan aku selama ini. Aku akan bilang kalau kamu egois. Kamu sekarang lebihvsibuk ngurusin si Angel daripada aku!”
“Oleh karena itu mending kita putus aja. Nggak baik berhububgan seperti ini terus. Apalagi hububganini tudak ada ujung pangkalnya. Aku sudah bosan sama kamu. Dan aku harus jujur sekarang.”
Air mata Rey menggenang dan serasa ingin menangis.
“Oke, itu terserah kamu aku hanya bisa nerima aja. Kamu mau putuson aku aku terima, mau bilangin aku jelek juga aku terima. Karena selama ini yang butuh itu cuma aku kan, kamu enggak.” Rey tidak terima kalau Nino egois seperti itu. Kesannya Nino itu seperti sudah tifldak butuh Rey lagi.
“Rey, sorry Rey tapi keputusan ini harus secepatnya aku ambil berhubung aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.”
“Tapi kenapa No, kenapa kita harus pisah lagi sih? Aku itu masih ingin kita temenan seperti kemarin. Aku tidak mau kita pisah.”
“Rey, please tolong kamu bantu aku sekarang. Dan aku sudah tidak ingi berlama-lama lagi di sini. Karena setiap kali aku melihat kamu, aku seperti kesal dan benci sama kamu.” Nino berkata jujur di depan Rey.
“Rey kita harus pergi ke orang pintar sekarang.”
“Apa?”
“Iya, kita harus pergi ke sana agar pikiran kamu kembali normal dan kembali seperti sedia kala. Aku tidak mau kamu terjadi sesuatu nantinya.”
“Tapi Rey buat apa kita ke sana?”
“Aku mau kamu cek atau terapi di sana. Aku mau kamu kembali normal seperti dulu lagi dan tidak mau membenci aku lagi seperti sekarang.” Rey bersimpati pada Nino.
“Rey, aku tidak kenapa-kenapa kok sumpah.”
“Tidak Rey, kamu harus periksa ayo ikut aku!” Nino tidak mau bangin dari tempat duduknya. “Ayo bangun..” perintah Rey pada Nino kelssihnya itu. Mereka berdua lalu berjalan satu mobil. Rey menitipkan sepeda motornya ke tukang parkir di kafe itu.
...***...
Di dalam mobil Rey memperhatikan jalan yangvdi lewatinya bersama Nino. Nino terpaksa menyetir walau dalam keadaan susah dan bingung sendiri kenapa bisa begini jadinya.
“Rey, kita mau kemana?” ucap Nino lesu. Dia ingin segera sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
“Kamu nanti belok di pertigaan jalan lalu kamu langsung lurus dan berhenti di gang kecil nanti.” terang Rey pada Nino di dalam mobil.
“Itu kan jalan menuju rumah kamu?” sentak Nino sedikit.
“Iya itu jalan menuju rumah aku. Kita turun di gang sebelah..”
“Ngapain kita kesitu sih?” Rey jadi emosi seketika. Dia jadi seperti tidak terima kalau harus di atur-atur begitu.
“Aku kan sudah ngomong tadi kalau kita mau pergi ke rumah oramg pintar...!!” teriak Rey di depan laki-laki itu.
“Ah..!!” Nino memukul setir mobilnya. Laki-laki memberhentikan mobilnya dan lalu mematikan mesin mobilnya dan lalu turun dari mobil.
“No.. No.. tunggu No, kamu mau kemana..?” Rey mengejar Nino setelah keluar dari mobil. Laki-laki itu lalu berbalik menghadap Rey. Waktu sudah mulai sore dan menjelang maghrib.
“Rey.. denger ya Rey kita balik sekarang, aku tidak mau pergi ke rumah orang pintar seperti kata kamu itu. Aku ingin kita pulang sekarang. Tapi kalau kamu tidak mau biar aku sendiri yang pulang kamu aku tibggal di sini saja..”
“No Nino.. kok bisa gitu sih, itu tidak adil namanya..” kata Rey sambil berlari menuju mobil. Nino sudah masuk kedalam mobil duluan dan siap menyetir. Rey lalu duduk manis di dalam.
Mobil pun berjalan dan menuju ke jalan panglima sudirman untuk mengambil sepeda Rey yang di tinggal. Setelah beverapa menit mobil itu akhirnya sampai juga di lokasi depan kafe.
Rey turun dari mobil Avanza Nino yang berwarna hitam, sebelum pergi Rey masih ingin ngomong sebentar sama Nino. “No, kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku ya?”
“Rey, aku itu tidak apa-apa, aku itu tidak sakit..” Nino menjawab membela dirinya.
“Tapi kalau pas terjadi sesuatu sama kamu siapa yang mau tanggung jawab, mesti aku kan aku kan yang repot nantinya..?” kata Rey tidak mau beranjak dari Nino.
“Rey, mending kamu pergi pulang sekarang. Aku mau pulang juga soalnya.” Nino menyuruh Rey pulang karena dia tidak mau di ganggu sama Rey. Nino ingin tenang di rumah, pikirnya begitu. Rey membiarkan Nino pulang. Laki-laki itu memutar setir mobilnya lalu balik perhgi menibggalkan Rey di depan kafe.
***
Mobil Avanza hitam itu memasuki halaman rumah dengan selamat. Nino memarkirkan mobilnya di depan halaman rumahnya. Dia masuk ke dalam rumah dan merebahkan dirinya di atas temoat tidur di dalam rumahnya.
Tiba-tiba terdengar suara sepeda motor masuk ke halaman rumahnya. Nino membiarkannya dan terus saja tiduran di atas kasur itu. Pintu rumah Nino seperti ada yang mengetok. Tok tok tok.
“Nino..” suara itu terdengar dari luar ointu runah Nino di teras depan. “Nino..” suara itu terdengar lagi. Nino lalu keluar melihat siapa yang datang.
“Rey, kenapa kamu balik lagi ke sini sih, bukannya kamu sudah pergi pulang tadi? Huh..!!” Nino mendengus kesal.
“No, please No. Aku kesepian di rumah aku ingin menginap di sini, boleh kan?” Rey memohon di depan Nino. Laki-laki itu pun mau menerima Rey di rumahnya. Nino membiarkan Rey masuk ke rumahnya lalu duduk di kursi ryang tamu.
“Nino, maafin aku tadi aku tidak bermaksud untuk melecehkan kamu atau bagaimana, aku cuma khawatir saja sama kamu, beneran!” kata Rey memohon. Nino tidak menjawab pikirannya masih kemana-mana.
“Sudahlah Rey tidak usah di permasalahkan itu Cuma hal sepele dan masih banyak lagi sesuatu yang harus kita lakuin sekarang dan seterusnya. Yang penting kita sehat walafiat amin.” ucap Nino khusyuk. Rey cuma bisa mendengarkan.
Wassalam.
__ADS_1