
...Aku tidak berharap aku berada di rating teratas atau cerita aku yang di di sukai banyak orang, aku cuma minta satu di baca. ...
...***...
Rey harus bercerita panjang lebar tentang masa lalunya pada Nino, agar dia tahu siapa Rey sebenarnya.
"Emang kamu kenapa?" tanya Nino lanjut.
"Aku punya masa lalu yang kelam dalam masa kecil aku." jelas Rey sambil menatap langit sore itu.
"Terus..?" tanya Nino kelanjutannya.
"Aku pernah di cintai oleh seorang laki-laki yang pernah hadir dalam hidup aku." ucap Rey penuh penghayatan.
"Oh ya, kenapa bisa begitu?"
"Ya, ceritanya cukup panjang mungkin lain kali saja aku cerita sama kamu, kamu bentar lagi kan mau pulang..?" kata Rey mengingatkan Nino.
"Insya Allah. Tapi sepertinya aku masih ingin dengar cerita kamu." kata Nino menjawab.
"Ceritanya panjang Nino.." suara Rey mengalun merdu.
"Sudahlah Rey, baiknya kamu cerita sekarang." pinta Nino sambil mengambil tempat duduk di pinggir jalan.
Rey pun ikut duduk di di situ, di dekat Nino.
"No, kamu harus cepat pulang sekarang. Kamu kan udah bilang tadi sama aku..!?"
"Sudahlah, santai aja tidak usah keburu ngingatin aku seperti itu. Sekarang kamu cerita sama aku ceritanya gimana?" Nino menunggu Rey bercerita.
"Nino, insya Allah aku masih belum siap untuk cerita ke kamu sekarang, mending kamu pulang aja deh sekarang." kata Rey memerintah Nino.
"Kamu ngusir aku..?" terka Nino pada Rey malam itu.
"Nggak, bukan gitu. Aku cuma khawatir dan cemas aja sama keadaan di rumah kamu, khawatir ada sesuatu yang terjadi di sana."
"Nggaklah Rey, aku kan bawa kuncinya, ini." tunjuk Nino sebuah kunci rumah perak pada Rey. Terdapat sepasang kunci di situ. Beda dengam kunci mobil Nino yang ada di saku celananya.
"Sekarang kamu mulai cerita sama aku, please..!" perintah Nino akhirnya.
"Nino, aku malu nyeritainnya sama kamu. Itu adalah cerita masa lalu aku yang sulit untuk aku ceritakan pada orang lain. Apalagi sama kamu?" ucap Rey pelan dan datar.
"Terus, kamu bohong dong sama aku..?" ucap Nino lanjut.
"Ya enggaklah No, aku tuh maunya cerita sama kamu bukan sekarang tapi besok-besok." ucap Rey memberitahu.
"Tapi aku maunya sekarang. Sumpah, aku ingin dengar cerita kamu sekarang." paksa Nino sama Rey.
"Kamu maksa aku..?" ucap Rey tertahan.
"Enggak, aku nggak maksa kamu kok, aku cuma ingin denger aja." sahut Nino ngerasa bego.
"Sama aja, sama halnya kamu nyuruh aku untuk ngabulin permintaan kamu sekarang dan aku masih belum bersedia." terang Rey di depan Nino.
__ADS_1
"Kenapa, ada yang salah sama aku?" ucap Nino intrispeksi.
"Enggak, bukan gitu. Soalnya tadi kamu bilang kalau kamu ingin pulang, jadi.. kamu harus pulang dulu baru nanti aku akan cerita ke kamu." jelas Rey sama Nino.
Nino sedikit kecewa sama Rey atas keputusannya itu.
"Tapi sebelumnya aku mau tanya sama kamu.." ucap Rey menggantung.
"Tanya apa..?" tanya Nino tidak mengerti.
"Kamu pernah nonton video bokep enggak..?" tanya Rey pada Nino tentang pengalamannya menonton video.
"Kok tanya begitu sih, nggak ada pertanyaan lain apa selain itu..?" ucap Nino riskan.
"Maaf, bukan niat aku buat nyinggung perasaan kamu atau apa, aku cuma ingin tahu aja boleh kan..?" ucap Rey pelan dan sedikit takut.
Malam itu mereka berdua duduk di bawah tempat duduk pinggir jalan dengan di terangi lampu neon kristal.
"Kalau tentang masalah itu, itu adalah urusan pribadi aku, kamu tidak usah tahu aku udah nonton atau tidak. Kamu bisa pikir sendiri dari kamunya.
"Kalau kamu udah nonton video yang begituan, apa aku juga udah nonton, coba kamu tebak sendiri..!" perintah Nino pada Rey untuk menebak sendiri malam itu.
"Kayaknya sudah, betul ya..?" tebak Rey setelah itu.
"Tidak tahu, jawabannya ada di kamu. Kalau kamu yakin aku udah nonton berarti jawabannya iya, tapi kalau kamu tidak yakin aku udah nonton berarti jawabannya.." ucap Nino menggantung.
"Tidak." jawab Rey menyambung ucapan Nino.
"Sip, betul sekali. Terus sekarang aku balik nanya ke kamu, aku udah nonton video itu apa belum..?" tanya Nino balik ke Rey.
"Tidak usah ragu, cukup bilang iya atau tidak." ucap Nino lagi.
"Udah." jawab Rey tanpa ragu.
"Berarti jawabannya iya..?" tanya Nino meyakinkan jawaban Rey.
"He'eh." jawab Rey sambil mengangguk.
Di samping itu di sela-sela percakapan mereka berdua malam itu, mobil dan sepeda motor numpang lewat di jalan tidak jauh dari mereka.
"Yakin..?" tanya Nino sekali lagi.
"Katanya tidak pakai kata yakin..?" tanya Rey masygul.
"Oh, iya aku lupa. Berarti jawabannya iya, kalau begitu." kata Nino menegaskan.
"Iya. Kenapa..?" tanya Rey sambil menjawab.
"Nggak apa-apa." jawab Nino mengakhiri.
"Tapi beneran kamu udah nonton..?" tanya Rey ingin tahu yang sebenarnya.
"Iya, aku udah nonton, kenapa..?" tanya Nino ingin tahu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku cuma ingin tahu aja." jawab Rey pelan.
"Ya udah, kalau begitu kamu udah tahu jawabannya." Nino mengambil napas sebentar, Huh.. lalu kembali melanjutkan percakapannya.
"Sebenarnya hal seperti itu sudah di ketahui banyak orang, apalagi zaman sekarang zamannya wifi. Sudah tidak asing lagi bagi mereka tentang masalah video BF itu.
"Dulu pertama kali aku dapatnya dari teman aku. Dia iseng mengirimkanya ke hp aku lewat Bluetooth.
"Aku diam saja dan mencoba untuk melihatnya sebentar, setelah itu aku hapus karena aku tidak suka nyimpen video yang begituan." jelas Nino panjang lebar.
"Kamu tidak bohong..?" tanya Rey yang sebenarnya.
"Iya, sumpah aku tidak bohong. Kalau kamu tidak percaya kamu boleh lihat atau cek hp aku sekarang.." kata Nino sambil menampilka hp-nya di depan Rey.
Rey menggeleng tidak mau.
"Tidak usah, tidak perlu. Aku percaya sama kamu. Lagi pula aku cuma iseng aja tanya sama kamu." jelas Rey pada Nino malam itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.02 pm. Sudah hampir larut malam. Nino harus cepat-cepat untuk pulang. Laki-laki itu melihat arloji di tangan kanannya.
"Jam berapa..?" tanya Rey ingin tahu.
"Jam sembilan lebih dua menit." Nino menjawab.
"Kamu harus pulang sekarang, sudah larut malam. Terimakasih udah nemenin aku di sini." ucap Rey sedih.
"Iya, sudah waktunya aku untuk pulang. Aku harus pergi sekarang." pamit Nino sambil beranjak hangkit dari tempat duduknya.
Rey memperhatikan Nino yang berdiri. Hatinya sedih karena harus kehilangan Nino, orang yang dia sayang.
"Kamu kenapa, nangis..?" ucap Nino setelah melihat kedua mata Rey berkaca-kaca.
"Nggak, aku nggak nangis cuma sedih aja." jawab Rey jujur.
"Tidak usah sedih, sekarang kan sudah ada WA, kamu bisa hubungin aku kapan saja kamu mau, okey." kata Nino memberitahu.
"Iya." jawab Rey mengangguk.
Mereka berdua akhirnya berjalan pulang kembali ke rumah Reynaldi, di situ sudah terparkir mobil Avanza hitam milik Nino Fernandes.
"Terimakasih ya, sudah mau datang ke rumah aku sampai malam begini.." kata Rey berterimakasih pada Nino, sambil terus menggenggam tangan Nino sebelum dia pergi.
"Iya, sama-sama. Aku cabut dulu ya.." kata Nino pamit pulang.
"Apanya yang di cabut..?" tanya Rey bercanda.
"Kumis kami tuh, di cabut!" jawab Nino sambil senyum.
"Hehe.." Rey terkekeh mendengarnya.
Nino lalu masuk ke dalam mobil Avanzanya lalu mobil itu berjalan pelan ke belakang, meninggalkan halaman rumah Rey.
Continue.
__ADS_1
Next Story.
Rey kesepian di rumah dan besoknya Rey kembali kuliah di kampus dan bertemu Beni.