
Setelah menunggu beberapa lama di pinggir jalan raya, Nino akhirnya melihat mobil taksi yang baru muncul di jalan raya. Nino menyetop taksi itu. dengan lambaian tangannya.
"Taksi-taksi.." kata Nino memberhentikan taksi yang sedang berjalan menghampiri mereka. Taksi itu berhenti, Nino dan Rey masuk ke dalam.
Rey dari tadi tenang saja meski sudah harus bayar ini itu. Rey dermawan sekali sama orang yang baru di kenalnya. Sepertinya Rey punya maksud atau sedang dalam keadaan lemah sama seseorang, yaitu Nino.
...**...
Sesampainya di rumah Nino dia langsung bayar ke Rey uang ganti rugi sebanyak dua juta rupiah. Rey terima dan langsung masukin kantong.
"Makasih ya No udah mau bayar sekarang." kata Rey.
"Sama-sama aku juga udah mau bantu aku." ucap Rey menjawab.
Setelah itu Rey berdiri siap-siap keluar dari rumah Nino yang lalu di antar oleh Nino.
"Oh, ya aku lupa. Aku udah janji mau nganter kamu pulang ke rumah." kata Nino tiba-tiba.
"Nggak usah No, aku bisa pulang sendiri." jawab Rey berusaha tidak mau.
"Nggak usah gitu, ayuk.." ajak Nino pada Rey keluar sambil mengambil motor di bagasi.
Dalam pikirannya Rey berpikir, Nino tingga di rumah bersama siapa? Kemudian pikiran itu Rey tanyakan ke Nino setelah berada di dalam mobil.
...**...
Mobil berjalan pelan menuju rumah Rey yang sedang semobil dengan Nino.
"No, rumah kamu sepi ya? Tidak ada orang gitu." kata Rey tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Nino menjawab.
"Ya sepi aja, kayak nggak ada orangnya." kata Rey lagi.
"Aku tinggal sendiri di rumah, ada beberapa juga yang mampir kadang lalu balik lagi ke rumah mereka."
"Siapa mereka?" Rey tanya lagi penasaran.
"Tetangga, haha." Nino tertawa Rey ikut tertawa.
"Kenapa, ada yang lucu..?" Rey tanya.
"Nggak, nggak ada, cuma lucu aja. Pertanyaan kamu itu asalanya." Nino masih tertawa kecil atas kesederhanaan pertanyaan Rey.
"Udah ah, nggak usah di bahas." kata Rey memindah bahasan.
"Kamu lama nyetir mobilnya..?" Rey tanya ingin tahu seberapa lama Nino tahu nyetir mobil.
"Udah lama, sekitar lima tahunan." jawab Nino.
"Apa, lima tahun?" Rey kaget.
"Kenapa?" tanya Nino balik.
"Nggak, aku ingat seseorang aja." jelas Rey sedih.
"Oh." Nino ber-oh. Laki-laki itu terus menyetir lalu berhenti di depan rumah makan.
"Kenapa berhenti?" Rey tanya tidak menyangka.
"Kenapa, lapar." kata Nino menjawab. Rey ikut Nino saja berjalan mengikuti dia di belakang.
Mereka lalu duduk berdua di meja makan.
"Kamu pilih menunya sendiri, nih baca." Nino memberikan daftar menu yang ada di meja. Rey membaca menu itu lalu memilih menu yang di suka.
__ADS_1
"Kamu pesan apa?" Nino tanya langsung.
"Nasi goreng, kamu?" Rey tanya balik setelah menjawab.
"Aku nasi pecel." jawab Nino.
"Lagi, kemarin kan udah makan nasi pecel di warung." Rey berkomentar.
"Ya nggak apa-apa, sekali-sekali coba nasi pecel di sini. Oh ya, Mas..!" Nino memanggil writer yang sedang berdiri di salah satu meja makan membersihkan sesuatu.
"Iya Pak." jawab Pelayan itu.
"Aku pesam nasi pecel satu sama nasi goreng satu. Minumnya Es juice sama.."
"Pop Ice." lanjut Rey.
Mas itu menulis pesanan dan permisi pada Nino. Rey memperhatikan pelayan itu sebentar. Nino jadi bertanya.
"Kenapa, suka?" kata Nino yang mengagetkan Rey seketika itu juga.
"Apa, ya nggaklah. Masak kelas aku seperti itu?"
"Tapi ganteng juga loh!" kata Nino menjelaskan.
"Nggak, nggak suka." Rey menampik.
"Terus..?" Nino tanya ulang.
"Terus apa?" Rey balik tanya.
"Nggak, nggak jadi." Nino memotong.
Pesanan bentar lagi juga udah datang. Mereka melewatinya dengan sambil mengobrol.
"Kesannya seperti kemarin saja Mas." kata Rey tiba-tiba.
"Ya, seperti makan di warung kemarin. Andai kita berdua di tempat yang berbeda, kayak di pinggir laut gitu.." Rey berharap.
"Seperti di Bali..?" Nino menjawab langsung.
"Hah, Bali? Wah kalau di Bali suasananya pasti beda sekali sama di sini. Aku sebenarnya tidak terlalu suka pantai, aku cuma ingin suasana yang beda aja."
"Kenapa?"
"Bosan."
"Nanti abis kita makan aku langsung antar kamu ke rumah setelah itu aku balik pulang." kata Nino menjelaskannya pada Rey.
"Tidak mau nemenin aku di rumah dulu?"
"Tidak usah makasih, aku lebih suka pulang dan istirahat di rumah."
"Istirahat di rumah aku juga boleh.." Rey menawarkan. Nino merasa tidak enak dan seperti ada sesuatu yang terjadi.
Setelah makan mobil hitam itu langsung menuju ke rumah Rey yang tinggal 10 km lagi.
Waktu itu sudah maghrib dan belum sholat maghrib, memang sengaja tidak sholat karena biar cepat sampai di rumah Rey.
Mobil sampai waktu sholat Isyak. Rey mempersilahkan Nino untuk duduk dulu sambil minum teh dan mengobrol.
"Rumah kamu bagus juga meski terlihat sederhana dari luar. Aku suka rumah ini, tenang dan dekat musholla juga."
"Iya, alhamdulillah. Dulu aku sempat mengaji tapi aku minta berheti karena malas. Sekarang repot kalau sudah ingin mengaji tidak selancar dulu. Banyak yang lupa bacaannya." Rey menjelaskan.
"Kamu juga pernah mengaji?" Rey tanya sama Nino.
__ADS_1
"Hah..? Tidak aku sama sekali tidak pernah mengaji. Tapi aku suka Al-Qur'an."
"Buat?"
"Buat di baca."
"Kamu bisa ngaji Alqur'an?"
"Bisa sedikit tapi tidak bagus."
"Sama dong, kalau begitu. Tapi sudahlah kita bahas yang lain saja."
"Kenapa?"
"Bosan." kata Rey menjawab.
"Ayo di sambil di makan." kata Rey mempersilahkan Nino untuk makan makanan yang ada di meja. Di situ ada kacang telor, biskuit dan emping.
"Kamu sendiri di sini?"
"Iya, seperti kamu. Aku sendiri sudah sejak lama. Kadang aku merasa kesepian lalu aku keluar dengan sepeda motor aku."
Nino paham apa maksud Rey.
"Kalau masih muda, asik jalan-jalan terus, tapi kalau sudah punya istri nanti harus hati-hati, resikonya lebih besar dan kita tidak akan bebas seperti masa masih sendiri. Jadi kita syukurin aja kesendiria ini."
"Selamat untuk kata "Sendirian." Chears.." Rey bersulang.
"Chears.." Nino ikut bersulang. Mereka akhirnya minum air anggur merah bersamaan.
"Hm, kamu suka anggur ini?"
"Suka, tapi aku jarang minum."
"Kenapa?"
"Tidak biasa. Aku biasa minum juice di rumah." Nino menjawab.
"Oh, aku juga ada kulkas, tapi minumannya lebih suka yang beralkohol." jelas Rey yang di barengi oleh anggukan Nino."
"Setelah ini aku permisi Rey..?" Nino pamit.
"Ah, kok cepet sih, kan masih pukul delapan lewat..?" Rey tidak mau Nino cepat pergi.
"Tapi aku harus segera pulang karena di rumah kosong tidak ada orang." Nino memberitahu.
"Hm, ya udah tidak apa-apa. Lain kali jangan lupa mampir ke sini ya?"
"Iya." jawab Nino sungkan.
Laki-laki yang baru di kenal Rey itu lalu keluar berjalan masuk menuju mobilnya. Rey menyusul Nino kemudian.
"Eh, No. Ini aku bawakan anggur buat kamu. Bisa di minum di rumah." kata Rey sambil memberikan sebotol anggur sama Nino.
Nino terima anggur itu lalu di letakkannya di kursi mobil depan.
"Makasih ya Rey.."
"Sama-sama." Rey menjawab.
Mobil hitam itu lalu keluar dari halaman rumah Rey. Rey melihatnya sambil mengiba. Rey berpikir bagaimana jadinya nanti kalau di rumah tidak ada orang. Rey tidak tahu harus kemana lagi.
Bersambung ke Chapter 6
Cerita selanjutnya.
__ADS_1
Rey ke rumah Nino dan bertemu seorang perempuan di situ.