
Di kamar itu percakapan terus mengalir deras dari kedua mulut Rey dan Nino.
"Rey, kamu kedatangan tamu sekarang." Nino bohong.
"Nino, katanya mau ke taman?" ajak Rey pagi itu.
"Ayuk!" jawab Nino sambil mengajak Rey keluar rumah menuju taman.
Mereka berjalan berdua sambil bergandengan tangan.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nino sambil berjalan.
"Tentang seseorang yang telah pergi." ucap Rey sambil berjalan, di depan sudah ada matahari yang menyambut kedatangan mereka.
"No, lihat matahari itu." ucap Rey sambil nunjuk matahari terbit.
"Kenapa?" tanya Nino.
"Matahari itu muncul masih baru, pagi ini, seger, bening, cemerlang, seperti kita yang baru sadar dari bangun tidur.
Alhamdulillahil ladsi ahyana ba'da ma amatana wailihain nusyur.
Rey berdoa.
"Kenapa?" tanya Nino yang mendengar doa itu dari mulut Rey.
"Dzikrullah, dzikir pada Allah Swt. Mengingat Allah di pagi hari, setiap waktu. Subhanallah.. ibdahnya pagi ini." Rey membentangkan tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Nino merada aneh atas sikap Rey yang begitu di lantai depan rumah Nino yang megah, di depannya terdapat taman yang luas.
Rey membuka kedua matanya yang sebelumnya terpejam. "Aku sedang memperagakan senam pagi dan menghirup udara segar." ucap Rey yang lalu di tiru oleh Nino.
Alhasil keduanya, sama-sama beryoga di pagi hari. Menghirup udara pagi, lalu melepaskan kedua tangan ke samping.
Rey laku duduk setelah puas. Dia duduk di kursi tidak jauh dari dia. Kursi itu sengaja di letakkan di luar agar bisa duduk.
"No, aku tidak tahu ini hukuman apa, tapi aku masih terima dan mensykuri nikmat yang Allah Swt berikan sama aku.
"Aku sudah biasa sendiri seperti ini, dari dulu tanpa kekasih." ucap Rey tenang.
"Aku kekasih kamu, tenang aja." Nino menjawab.
"Maksud aku kekssih beneran, bukan ghoib kayak kamu." jawab Rey kesal.
"Kalu tidak suka, pergi aja atau samperin siapa yang kamu suka, di situlah cinta kamu berada." jelas Nino.
"Bukan anak-anak.." kata Rey lagi.
"Lalu siapa..?" tanya Nino tidak mengerti.
"Zou Vi." Rey berbisu di telinfa Nini pelan.
"Zou Vi siapa?" tanya Nino.
"Kekasih aku?" jelas Rey pada Nino.
"Tidak ada, yang ada itu kamu dan hati kamu, kemana pun dan di mana pun kamu berada. Masalah Ibu kamu itu masalah aku juga." kata Nino lanjut.
"Bukan itu Nino, kita kembali fokus pada nasib kita berdua. Apa jadinya nanti kalau tulisan ini tidak jadu terbit..?" Rey gelisah.
"Terbit terbit.. insya Allah. Sudah di tukus di Lauhil Mahfudz." Nino menjawab yakin.
"Yang mana..?" tanya Rey ingin tahu.
__ADS_1
"Yang kita."
"No, please No, aku ingin segera tahu rahasia itu, kamu kan paranormal. Kamu tahu bisikan itu, iya kan..?"
Nino mengangguk sambil mengambil nafas, tergugu, berpikir, diam dan menelaah atau memfilter ucapan Rey tadi.
"Kamu kenapa No..?" tanya Rey lagi.
"Aku, aku sedang memikirkan seseorang yang belum kesampaian hajatnya."
"Siapa..?" tanya Rey.
Nino diam sambil berpikir. Dia lalu mengangguk mengerti.
Seseorang yang di hukum atas perbuatannya di masa lalu.
"Kamu yang sabar ya Rey, karena setelah ini insya Allah akan ada perubahan." terang Nino.
"Perubahan apa..?" tanya Rey lagi.
"Perubahan nasib kamu selanjutnya." ungkap Nino apa yang ada di dalam pikirannya.
"Serius..?" tanya Rey girang.
"Iya serius, tapi kamu tidak bisa muda lagi. Kamu akan jadi Bapak dengan dua anak kamu nanti, insya Allah. Percaya deh sama aku." kata Nino menjelaskan.
Rey diam tak berucap.
"Berarti pikiran aku benar dong yang kemarin. Di mana pintu pernikahab adalah gerbang kehidupan kedua setelah fase lajang atau perjaka muda..?" tanya Nino ragu.
"Iya, di situlah Allah Swt berada." jawab Nino.
"Maksud kamu?" tanya Rey tidak mengerti.
"Jujur saat ini aku kangen sama Nas Rangga." ucap Rey lagi.
"Siapa Rangga..?" tanya Nino tidak mengerti.
"Rangga adalah Mas aku yang ngasih aku ide untuk menulis dan membuat Novel. Kamu belum tahu ya..?" tanya Rey sama Nino.
"Belum." jawab Nino.
13 Romadlon 1440H.
Aku di beri songkok sama Kiai Nurkhotim Bahar. Kamis khotmul Quran.
Continue.
"Belum, aku belum tahu. Lagian ngapain kamu kenal orang itu?" tanya Nino tidak mengejar.
"Apanya sih, aku tidak ngerti." kata Rey manja.
"Kamu ngerti aku yang tidal ngerti." kata Nino.
"No." tanya Rey.
"Apa..?" jawab Nino.
"Aku ingin ganti nama."
"Kenapa?"
"Bosan, kenapa emang. Nama kita itu sudah jadi sejarah pernovelan. Ngapain di ganti?" jawab Nino lagi.
__ADS_1
"Aku pamit pulang dulu." Rey pamit.
"Iya, hati-hati." jawab Nino.
Rey pulang dengan sepeda motornya sambil memandangi sekitar jalan. Nino sedikit kepikiran kenapa Rey harus pulang cepat, mungkin karena ada tugas di rumah.
Di pertengahan jalan Rey melihat seorang laki-laki yang tengah menyapu bersama seorang Kiai di pesantren. Rey jadi tidak enak duduk di atas sepeda motor.
Rey juga bertemu seorang laki-laki yang di cintainya sampai saat ini, namanya Tere, dia pakai kaca mata. Mungkin pagi ini dia sedang tidur.
Sampai sekarang Rey tidak punya kekasih tapi dia tahu kalau perempuan di dunia ini banyak. Rey cari perempuan dengan nama Rinta. Keluarlah Rinta di facebook tapi kurang cantik orangnya.
Rey menncari lagi nama perempuan, namanya Eva, dia adalah teman Reynaldi yang pisah kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Lengkapnya Eva Hestiana.
Ada juga Yuli kakak Eva. Tapi sekarang mereka ada di Jakarta. Nanti Rey akan pergi ke rumah Klara temannya dulu sejak kecil.
Di kamar Rey menulis sendirian. Rey punya banyak teman laki-laki yang harus di temuinya di luar rumah.
"Gimana aku harus hubungi mereka yang di rumah." kata Rey dalam hati.
Rey mencoba menghubungi Feri teman kampusnya.
"Hallo, Feri apa kabar?"
"Iya, siapa ini?" jawab Feri.
"Ini aku Rey, aku kenal kamu di kampus kemarin saat kamu duduk itu."
"Maaf, aku tidak kenal." kata Feri.
"Dasar cowok narsis!" kata Rey kesal.
Setelah itu, Rey menghubungi seseorang bernama Udin Chaniago. Dia biasa pakai sepeda Vixion saat sekolah. Memang, umur Udin terlampau jauh daripada Reynaldi, untungnya Rey tidak menikah sampai sekarang.
"Hallo, assalamualaikum?" Rey berucap salam.
"Sapah reh..?" jawabnya dengan loghat madura.
"Kauleh, Reynaldi. Sampeyan serah?" tanya Rey nyamar.
Klik.
Handphone lalu di tutup. Udin sepertinya tidak kenal siapa itu Rey.
Rey lalu chek list seseorang yang mungkin dia sudah kenal, tapi hanya di film aja.
"Hallo, apakah ini kugy?"
"Iya, ini siapa?"
"Ini saya Reynaldi, mau tanya and kenal sama Mbak Maudy. Maaf tadi saya sempat sebut Mbak dengan panggilan Kugy karena saya suka.
"Iya, nggak apa-apa. Ada apa, ya?"
"Enggak, makasih." Rey menutup telepon.
Kenapa cerita ini harus ngelantur kemana-mana.
Continue.
Next Story.
Rey mencari seseorang sebagai pengganti Nino Fernandes.
__ADS_1