Kejar Daku (Novel)

Kejar Daku (Novel)
Chapter 19


__ADS_3

...Kadang orang harus tersenyum dulu sebelum membaca. ...


Hari ini Rey sedang galau karena harus kehilangan uang recehnya sebesar empat puluh ribu rupiah buat beli memori.


Tapi sudahlah itu tidak penting dan tidak usah di bahas rizki minallah.


Kedua malam ini malam bulan bercahaya penuh. Rey duduk di sebuah tempat yang di terangi lampu penerangan.


Rey ingat akan seseorang yang tadi menyapanya cakep, atletik, ganteng, cool, care and baik hati.


Kedua Jo Amin yang dua kali sehari sudah bertemu di tempat yang sama.


Ketiga Sohail yang janji mau jual memori tali tidak jadi. Rey juga bertemu yang lain.


Bali.


Rey sekarang masuk hotel berbintang menuju ke resepsionits bersama Nino. Mereka bertanya dulu harga perkamar berapa dan mulai mengmbil kunci kamar. Mereka tiba di kamar pukul empat sore.


"Hah, akhirnya masuk hotel juga. Sudah lama ngidam tidur di hotel." kata Rey memberitahu. Nino meletakkan tasnya ke dalam lemari bersama punya Rey.


"Kita makan dulu yuk, lapar." kata Nino ngajak Rey.


Rey jalan ikut Nino ke lantai bawah meski tidak begitu terasa lapar.


"Kita mau makan apa..?" tanya Rey sama Nino.


"Kita makan apa yang ada di situ dulu di menu makanan." jawab Nino.


"Nanti pas mahal..?" kata Rey.


"Tidak hsah di pikir, aku yang bayar." Nino menjawab. Rey merasa tidak enak sama Nino meski dia pegang uang cukup banyak.


"No, kita makannya di mana kok aku tidak tahu jalannya..?" tanya Rey bingung.


"Ikut aku aja." kata Nino.


"Eh, gimana kalau kita makannya di luar aja biar kita tahu pengalaman di luar juga, gimana..?" tanya Rey.


"Boleh. Berarti tidak jadi dong makan di hotel?" tanya Nino.


"Iya." jawab Rey.


Setelah itu mereka jalan berdua sambil mencari makanan.


"Capai ya jalan terus. Kita makan di dekat sini aja." kata Rey bilang.


"Iya. Yuk di sana." kata Nino menunjuk warung makan yang ada di situ.


Mereka akhirnya duduk berdua di kursi tempat makan yang letakknya di pinggir jalan pinggir pantai. Pantainya kelihatan dari situ.

__ADS_1


"Aku kok bingung ya, kayaknya kita itu enaknya makan di hotel deh." Rey plin plan.


"Huh, bikin oramg bingung saja. Kalau kita mau pindah, pindah aja." kata Nino menjawab.


"Yuk kita pindah aja." ajak Rey.


Di jalan mereka akhirnya balik ke lobi hotel dan pergi menuju tempat makan hotel yang bisa di bilang cukup nyaman.


"Nah, ini tempat yang tepat untuk makan." kata Rey sambil melihat menu makanan.


"Alhamdulillah, nasi pecel ada." kata Rey senang. Rey memang dari dulu suka sama nasi pecel yang biasa di belinya di warung.


"Kamu makan nasi pecel, tidak rawon atau gule, sate..?"


"Nggak ah, aku nasi pecel aja. Tanggung." kata Rey menjawab.


"Kamu?" tanya Rey sama Nino.


"Aku makan nasi campur sama ikan ayam." jawab Nino.


Setelah itu mereka pesan makanan lalu makan berdua sambil pesan minuman seperti biasa. Setelah kenyang mereka akhirnya pergi dari situ setelah membayar.


"Setelah ini kita kemana..?" tanya Rey ingin tahu.


"Kita istirahat dulu di hotel, setelah itu malamnya kita pergi ke diakotik, aku yakin diskotik di sini beda loh, ama yang ada di Jakarta atau Surabaya." kata Nino menjelaskan.


"Oke, aku setuju tapi yang teraktir nanti gantian aku, kan yang bayar makan tadi kamu." kata Rey bilang sama Nino sok baik.


"Sekali-kali teraktir lah No, malu sama kamu." Rey jawab gengsi.


Setelah itu mereka mandi bareng dan lalu tidur karena kecapaian sampai pukul tujuh malam. Rencananya mereka mau bangun jam enam tapi mereka masih ngantuk karena tafi jalan-jalan terus.


"Ehm.. udah jam berapa sih..?" kata Rey sambil melihat jam di hp. Ternyata sudah jam tujuh.


"Ya Allah No, udah jam tujuh, kita telat ke diskotiknya, manalagi belum sholat maghrib sama isyak." kata Rey mengingatkan dirinya dan Nino.


"Udah kamu sholat duluan sana, aku masih mau tidur dulu." kata Nino sambil terus tidur. Sepertinya dia ngantuk banget sore itu.


Rey bergegas untuk sholat maghrib di jamak sama maghrib. Setelah sholat selesai baru dia bangunin Nino untuk sholat isyak dulu karena kalau sama Maghrib dia tidak akan mau dan tidak akan kuat.


"No, ayo sholat isyak dulu..!" kata Rey memerintah.


"Iya, nanti dulu aku maaih ngantuk Rey." Nino menjawab sambil terus lelap.


"Aduh, kapan nih anak mau bangun. Kalau udah tidur bangunnya susah." Rey berkata sendiri di atas kasur samping Nino.


Rey mengambil hp-nya lalu membuka facebook. Membuat status sebwntar lalu turun ke bawah meninggalkan Nino yang sedang tidur.


Rey berjalan tidak jauh dari kamar hotel, dia melihat sekeliling hotel dan jalan di depannya. Beberapa kendaraan lewat begitu saja. Rey tidak tahu dia ada di mana sekarang, di Bali pulau dewata.

__ADS_1


Dalam pikirannya Rey bertanya, beaok mau kemana? Oh ya, besok acara ke pantai. Besok harus bawa celana pendek dsb.


Rey pergi ke kamar siapa tahu Nino udah bangun. Ternyata Nino sudah siap-siap berangkat dengan penampilannya yang memukau.


"Nino, ganteng banget dandanannya. Waduh, jadi tambah sayang deh." Rey berkomentar.


"Sorry ya, cowok cakep tidak boleh di sentuh atau di bawa." kata Nino sambol menyisir rambutnya yang rapih dan sudah di kasih minyak.


Rey menelan ludah sekali, dia tahu kalau Nink sudah ada yang punya, meski masih rahasia.


Tidak mungkin Rey menebas begitu saja Nino yang cakepnya selangit di mata Rey. Meski Rey harus sedih melihat Nino bukanlah milik dia seutuhnya.


"No, nama cewek kamu siapa, ingin tahu?" kata Rey moro ngucap.


"Angel, namanya Angel." jawab Nino jujur. "Sebenarnya aku mau rahasiain dari kamu sih. Eh, kamunya nanya duluan jadi pas kelepasan. Ketahuan deh." kata Nino baik di depan Rey.


Rey tersenyum sedih melihat Nino yang ada di depannya sambil mencoba untuk menenangkan dia.


"Kamu yang sabar ya, aku masih ada di sini bersama kamu." kata Nino pada Rey yang sedih.


"Aku nggak akan kemana-mana kok Rey, aku akan tetap di hati kamu, beneran." Nino meyakinkan Rey malam itu juga.


"Yuk, kita jalan." ajak Nino pergi ke luar, dengan tujuan ke diakotik.


Mereka akhirnya berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Mereka tidak malu karena di Bali hal itu sudah biasa terjadi.


"Kamu tahu kenapa aku ajak kamu ke sini..?" tanya Nino sama Rey.


"Enggak, kenapa emang?" tanya Rey sungguhan.


"Aku ajak kamu ke sini biar semua orang tahu kalau aku cinta sama kamu." jawab Nino bohong.


Rey mengangguk meski dia berpikir lain.


"Kirain kamu mau ngindarin orang-orang karena malu." kata Rey berkata sambil berjalan.


"Malu, tidaklah Rey aku tidak malu sama siapa pun. Aku malunya itu ke kamu, soalnya kamu itu mandang aku sebagai laki-laki normal kan. Lalu akunya begini sama kamu." kata Nino menjelaskan.


"No, aku jadi tidak enak sama kamu." kata Rey menhawab. Tangan mereka masih bergandengan.


"Kita mau ke mana..?" tanya Rey.


"Ke klub. Kita kan maunya ke diskotik!" jawab Nino.


"Tapi aku malas ah, mending ke pantai aja cek adem."


"Rey, ini malam minggu loh, tanggung kita kalau ngelewatin malam ini." ucap Nino setengah menasehati. Rey nau saja nurut.


Continue.

__ADS_1


Next Story.


Mereka masuk ke diskotik untuk yang ke dua kalinya yakni di Bali.


__ADS_2