
Rey pulang dengan perasaan sedih dan kecewa karena melihat seseorang yang pernah di temui nya itu jadi pergi dari hadapannya dan belum sempat kenalan dan bertanya ini itu.
Rey menyetir mobilnya dan pulang ke rumah. Dia membawa belanjaannya ke dalam rumah dan menaruhnya di dalam lemari. Ada pula yang di taruh nya di dalam kulkas.
Setelah itu Rey lalu beristirahat sambil membuka layar kotaknya yang berkaca. Benda itu jadi sangat penting sekarang dan merupakan sebuah kebutuhan di setiap harinya.
Kadang benda itu di sayang kalau sudah kotor atau kadang pula benda itu jatuh tanpa sebab mungkin karena ada makhluk ghaib yang ingin menjatuhkannya karena suatu alasan.
Angin di rumah Rey berhembus dingin dan Rey masih bersantai di rumah dengan kegiatan atau aktivitasnya sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.44 am dan sudah waktunya untuk sholat dzuhur tapi Rey malas untuk sholat dulu dia lebih memilih untuk bermain dengan gadgetnya itu.
Rey masih berpikir kapan dia bisa bertemu laki-laki itu kembali mungkin nanti atau kapa di kesempatan yang lain.
Rey lalu pergi untuk melaksanakan sholat dzuhur karena itu hukumnya wajib dan perintah Allah. Rey meletakkan gadgetnya di atas meja dan mulai berwudlu.
Setelah berwudlu Rey lalu sholat dengan khusyuk dan wirid sebentar sambil berdoa.
Ya Tuhan lindungilah kami dari siksa api neraka, amin.
Setelah selesai sholat Rey lalu berniat untuk pergi keluar sekedar mencari angin segar atau pergi ke rumah temannya.
Rey lupa kalau dia harus mampir ke toko buku dulu untuk beli buku bacaan di rumahnya. Tapi tadi Rey sempat lihat kalau masa aktif kartunya sudah mau habis dan ada di masa tenggang.
Ingin sekali dia mengisi kembali kartu itu dengan pulsa atau paketan data atau voucher. Atau membiarkannya begitu saja karena ada hajat lain.
Rey lalu mampir di konter dulu untuk mengisi kartunya itu. Dan ingin rasanya Rey beli kartu baru untuk di selipkan di dalam layar gadgetnya.
Rey berhenti di sebuah kios counter kecil di pinggiran jalan raya menuju kota Surabaya.
"Pak, isi pulsa.." Rey berkata.
"Berapa..?" tanya penjaga konter itu.
"Dua puluh ribu." jawab Rey tidak tanggung-tanggung. Biasanya dia mengisi kartunya itu sebanyak lima puluh ribu rupiah.
Bapak itu lalu mengisi pulsa dengan nomor pribadi Rey yaitu 085234xxx dan lalu di isinya oleh Bapak itu.
Setelah pulsanya masuk Rey lalu bertanya. "Berapa Pak..?"
"Dua puluh dua ribu.." jawab Bapaknya jelas. Rey lalu membayar dengan uang dua puluh lima ribuan.
"Nih Pak.." Rey memberikan uang itu. Bapak itu mengambil uang itu lalu mengembalikan uang kembaliannya.
__ADS_1
"Makasih Pak.." ucap Rey balik. Setelah itu Rey pergi dengan menaiki kembali sepeda motornya.
...**...
Rey pergi ke rumah Dian dan di situ di rumahnya Dian tidak ada katanya keluar makanya Rey pas keluar pergi ke kota sekedar jalan-jalan.
Di situlah Rey tanpa sadar bertemu dengan Nino saat berjalan di pinggiran kota. Sebelumnya Nino berpikir bagaimana sebaiknya dia mau ngomong apa enggak. Rey lalu berbalik dan mengejar Nino yang sudah berjalan jauh.
Di carinya sambil berjalan dengan arah yang sama dengan beberapa pejalan yang lain. Kemana laki-laki itu..? batin Rey masih kebingungan mencari Nino.
Rey lalu melihat laki-laki itu masuk ke dalam toko baju, Rey mengejarnya sambil pura-pura melihat baju-baju yang di gantung rapih.
Di lihatnya laki-laki itu sendirian. Rey lalu mendekat dan tetap dalan posisi waspada khawatir ada curiga.
Rey pura-pura nakal dan menabrakkan diri pada Nino. "Aww.." Rey berteriak dan langsung menabrak Nino yang sedang memilih baju.
"Astagfirullah.." ucap Nino kaget. Rey dan Nino saling pandang. Dalam hati Nino berkata.
"Orang ini lagi.." Nino sedikit kesal melihat Rey ada di depannya.
"Maaf Mas, tidak sengaja." kata Rey beralasan.
"Aku tahu kok kamu sengaja, bahkan aku lihat kalau kamu mengejar aku dari luar tadi. Sekarang aku ingin buat perhitungan sama kamu, ayo ikut aku keluar.." kata Nino emosi.
"Kemana Mas..?" tanya Rey takut.
Rey merasa kesakitan dan keluar darah dari hidung dan mulutnya.
"Mau lagi iya..?" tanya Nino kasar.
Rey menangis di lantai kesakitan, setelah itu Rey dan Nino di amankan oleh polusi setempat dan langsung di bawa ke kantor polisi.
Di ruang kantor polisi mereka di bawa dan di adili.
"Sebenarnya ini ada apa, berantem?" tanya polisi itu sedikit tegas meski terlihat orangnya sabar.
Rey diam tidak menjawab.
"Dia yang ngejar-ngejar aku Pak, aku jadinya terganggu.." kata Nino menjelaskannya pada Pak Polisi.
"Tolong ceritakan dengan detail.." Pak Polisi itu ingin tahu cerita sebenarnya. Nino menceritakannya dan juga Rey dengan versi yang berbeda.
Dari Nino.
__ADS_1
"Begini Pak ceritanya. Aku itu sedang berjalan keluar buat beli baju di toko. Eh ternyata ketemu dia lagi, ya langsung saja aku pukul dia. Untung daja tidak aku habisin." jelas Nino di depan Pak Polisi.
"Sebelum nya kamu bertemu dimana sama anak ini?" Pak Polisi tanya sambil menunjuk Rey yabg masih merasa sakit dan lebam di bibirnya.
"Aku bertemu dia fi Indomaret Pak, dia ngejar aku dan aku pergi saja. Dan sekarang dia ngejar aku lagi Pak.." keterangan Nino cukup membingungkan Pak Polisi.
"Sebentar, saya tanya dulu pada anak ini." kata Pak Polisi itu sambil memperhatikan Rey.
"Apa benar begitu?" tanya Pak Polisi itu.
"Iya Pak, tapi aku hanya ingin kenal saja Pak tidak lebih. Aku hanya ingin berteman sama dia itu saja."
"Tapi kalau dianya tidak mau gimana? Adik sebaiknya jauhi laki-laki ini. Dan aku terpaksa menahan kamu sementara di sini karena telah berlaku semena-mena pada anak ini. Kamu telah memukul anak ini sampai luka dan lebam dan kamu bertanggung jawab atas musibah yang menimpa anak ini." jelas Pak Polisi di depan keduanya yaitu Rey dan Nino.
"Jangan Pak, tidak usah. Jangan hukum dia Pak, dia tidak salah aku yang salah. Biarkan dia bebas Pak, lagi pula aku tidak merasa di rugikan kok malah aku kasihan sama dia." Rey berkata jujur dan mencoba untuk membela Nino di depan Pak Polisi.
"Maaf ya Dek, sampeyan itu sudah di sakiti dan malah di pukuli oleh Mas ini lah kok malah mau membela dia. Tapi tetap Mas ini saya penjara satu hari satu malam saja." kata Pak Polisi itu.
"Jangan Pak jangan di penjara. Kalau Bapak penjara dia biar aku juga di penjara Pak. Aku tidak mau dia di penjara sendiri di sini. Kasihan Pak.." Rey memohon pada Pak Polisi itu.
"Tapi dia tidak kasihan sama sampeyan lih, buktinya sampeyan di pukul sampai babak belur begini." kata Pak Polisi itu pada Rey di depan Nino.
"Maaf Pak, aku tidak mau di penjara, lagi pula aku kan tidak salah. Dia yang pertama kaki ngejar aku." Nino bersikeras mengejar dirinya sendiri.
"Masih.. saja mau membela diri lah wong sudah tahu keadaannya seperti ini..!" kata Pak Polisi Izzad itu.
"Pokoknya sampeyan tak penjara sama saya sekarang, ayo ikut aku sekarang!" suruh Pak Polusi pada Nino yang sedang duduk berdua sama Rey.
"Sebentar Pak, salah saya apa sih Pak.." kata Nino tidak mau.
"Masih tidak mau..?" kata Pak Polisi itu.
"Pak.. jangan Pak Please." Rey memohon.
"Pergi kamu dari sini, gara-gara kamu aku mau di penjara sekarang..!" kata Nino pada Rey.
"Eh, malah masih ngomong, ayo ikut Bapak sekarang." kata Pak Polisi itu. Nino di seret masuk ke dalam penjara.
"Pak, saya akan bayar berapa pun asal saya di lepas Pak.." Nino memohon ke Pak Polisi.
"Sudah.. ayo masuk!" kata Pak Polusi itu. Nino akhirnya terpaksa masuk penjara sore itu. Salahnya sendiri memukul Rey yang tidak bersalah.
Continue.
__ADS_1
Next Episode.
Rey tidak mau pulang dari kantor polisi menunggui Nino.