
Pagi ini saat matahari baru saja menampakkan sinarnya, Angel terlihat menatap wajahnya di depan cermin. Tak peduli, seberapa banyak dia bercermin, sebanyak itu juga dia mengutuk kehidupan Angel di masa lalu. Wajahnya tidaklah buruk. Itu putih, dengan hidung mancung yang meruncing. Dua alis yang tak terlalu lebat namun sangat berantakan. Selanjutnya, bibir atas yang melengkung sempurna, di bingkai bibir bawah yang sedikit sensual. Memperlihatkan bibirnya yang menggoda jika dia menerapkan lipstik berwarna merah. Tapi bibir itu pucat. Bahkan sangat kering hingga kulit bibirnya mengelupas.
Angel memejamkan matanya sekali lalu mengutuk sekali lagi. Dia kembali membuka matanya, untuk melihat wajah ovalnya yang pas. Setidaknya dia bernapas lega, karena kulitnya putih dan mulus. Tak memiliki masalah kulit yang akan membuatnya menjadi frustasi. Selanjutnya dia memegang rambutnya yang sebahu. Itu tak terlalu lurus dan sedikit bergelombang dengan warna hitam pekat. Dia menimbang pelan, sebelum akhirnya meyakinkan, untuk merubah penampilannya dengan merubah warna rambut dan memotongnya.
Setelah memutuskan hal apa yang akan dia lakukan hari ini, dia bergegas untuk pergi. Namun tersadar sekali lagi, saat dia menyadari tak memiliki sepeser uang pun dalam sakunya. Benar, sejak kelahirannya kembali, dia bahkan lupa membeli semua hal yang dia butuhkan. Ya Tuhan, kenapa dia bisa sekali. Tapi karena hal ini, dia menjadi mengerti kemana harus pergi.
Melangkah menuruni tangga, dia mengabaikan beberapa pelayan yang masih bekerja. Dia berlalu saat sebelum seorang pelayan menyapanya pelan.
"Nona, sarapannya telah siap."
Angel menoleh, melihat pelayan tersebut yang tersenyum lebar. Melihat ini dia menjadi tertarik. Dengan ringan dia melangkah, lalu mendekati sang pelayan.
"Siapa namamu?"
"Abell Nona,"
"Abell, kau bisa menikmati sarapanku pagi ini. Pastikan kau menghabiskan, atau kau akan keluar,"
"No-nona," ujar Abell keberatan. Namun Angel tetap melangkah keluar.
"Panggilkan supir untuk mengantarku hari ini," perintah Angel sebelum menutup pintu dan menunggu di luar
Tak lama kemudian mobil hitam berhenti di depan Angel. Sang supir menunduk sesaat lalu membukakan pintu mobil. Melihat Angel yang telah masuk dan duduk, sang supir mulai masuk dan melajukan mobilnya. Dari kaca jendela, Angel bisa melihat beberapa pelayan tengah membersihkan halaman luas di depan rumahnya. Membuat matanya tersadar sekali lagi, bahwa rumah besar mewah yang dia miliki adalah miliknya.
__ADS_1
"Antarkan aku ke kantor pengacara keluarga Excel,"
Sang supir mengangguk meski tak menjawab. Dari sudut matanya, jelas dia mencoba mencuri pandang melalui kaca di atasnya. Namun saat melihat Angel yang duduk tenang dan tenang, sang supir bernapas lega. Dia pun akhirnya membuka suara.
"Nona, apakah ada hal serius yang terjadi? Kenapa nona tidak menelepon Tuan Adrian lalu memintanya untuk datang?"
Angel menatap ke depan. Saran sang supir memang benar. Tapi baginya itu sedikit tidak aman. "Tak apa. Aku hanya bosan di rumah dan ingin keluar sesekali,"
Sang supir hanya diam mendengar alasan Angel. Selama tiga puluh menit perjalanan, Angel hanya menyusun semua rencananya. Saat mobil terhenti, sang supir menoleh kebelakang.
"Nona, kita sudah sampai. Perlukah saya membuatkan janji sebelumnya agar Tuan Adrian datang menemui Nona?"
Angel menggeleng. "Tak perlu. Aku akan masuk sendiri. Kau bisa pulang dan menjemput paman, kurasa Meida akan pulang hari ini."
"Nona, apakah ada hal yang bisa kami bantu?" sapa sang resepsionis.
Angel tersenyum sedikit. "Aku ingin bertemu dengan pengacara Adrian."
Mendengar itu sang resepsionis melirik Angel sesaat. Matanya meneliti Angel dari atas hingga bawah dan senyum kesal hadir.
"Maaf Nona, Tuan Adrian tengah sibuk." jawab sang resepsionis tanpa beban. Jelas, senyumnya tak seramah tadi. Di dalam hatinya, dia jelas mengejek Angel yang berani datang dan mencoba bertemu dengan pengacara terbaik di kota ini. Berani-beraninya orang sepertinya membual untuk bertemu pengacara Adrian. Di saat tak semua orang bisa mendapatkan pelayanan pak Adrian.
Adrian Aglilio adalah seorang pengacara kelas S yang sangat di segani. Tak semua orang yang berada di negara Alaska dapat menyewa jasanya. Namun kelurga Excel adalah salah satu keluarga yang sangat di segani oleh Adrian. Selain itu, orang tua Angel adalah salah satu sahabat Adrian dari masa mereka kuliah. Hal ini membuatnya tak keberatan saat keluarga Excel datang dan memilihnya menjadi pengacara pribadi keluarga Excel. Hanya saja, tak semua orang tahu, bahwa dia adalah pengacara pribadi keluarga Excel bertahun tahun lalu.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" tanya Angel dingin. Dia sudah biasa dengan tatapan remeh yang tertuju padanya. Dia bisa mengerti, saat ini di hadapan semua orang, dia tak lebih dari orang biasa saja yang tak memiliki apapun untuk membuat orang terkesan. Dan karena masalah itu dia kemari.
"Sambungkan teleponnya. Katakan ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Dan ini sangat mendesak," lanjut Angel lagi.
Sang resepsionis masih saja tak bergerak. Dia bahkn tak mengindahkan Angel dan memilih menerima telepon yang baru saja berdering. Hal itu membuat Angel bosan dan melangkah semakin dalam. Dia akan mencari keberadaan pengacara keluarganya sendiri.
Menyadari Angel yang menghilang dan melangkah lebih jauh. Sang resepsionis mengejar. Dia jelas menarik tangan Angel dan menahannya.
"Nona, nona tak bisa seperti ini. Nona tak bisa masuk ke dalam. Pengacara Adrian tengah sibuk dan tak bisa di ganggu."
Angel menatap datar. Ini masih pagi, dan bahkan resepsionis ini menahannya dengan alasan yang tak masuk akal. Apakah dia berada di level dimana semua orang bisa meremehkannya? Sepertinya dia benar-benar harus bergerak lebih cepat untuk memperbaiki penampilannya.
"Jika kau tak ingin masuk. Maka sambungkan teleponnya. Aku yakin, pengacara Adrian akan menyambut kedatanganku."
Sang resepsionis masih saja mengejek. Mereka saling berbicara lebih dari sepuluh menit sebelum akhirnya sang resepsionis mengalah. Dia hanya bisa menuruti kata-kata Angel dan menelepon Adrian. Membuat Angel menunggu sekali lagi dengan tenang.
"Nona, bisakah saya tahu nama nona? Pengacara Adrian ingin tahu sebelum akhirnya menentukan pilihan,"
Setelah beberapa saat sang resepsionis akhirnya menanyakan sesuatu pada Angel. Angel yakin, telepon itu sudah pasti tersambung. Hal itu membuatnya lebih lega. Dia yakin bahwa langkahnya kali ini tak akan salah.
"Angelique Excellin," sebut Angel jelas. Dia menekan nama Excel agar sang resepsionis mendengar suaranya dengan jelas juga. "Katakan, bahwa pewaris keluarga Excel ingin segera bertemu. Karena ada hal yang sangat mendesak."
Setelah mendengar semua itu sang resepsionis tertegun. Dia tak bisa tak membatu saat mendengar semuanya. Keluarga itu, keluarga Excel, adalah salah satu keluarga yang bisa membuat pengacara Adrian bekerja dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada. Tentu saja, itu sebelum keluarga Excel jatuh sejak sang kepala keluarga tiada dan di gantikan oleh saudaranya, Alexander Blanche!
__ADS_1