Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Dia Angel?


__ADS_3

Angel melihat riak keberatan di wajah Arsen dan berkata,  "Kau bisa pergi. Aku bisa pergi sendiri."


"Masuk!"


"Aku tidak mau,"


"Aku tak suka mengulangi kata-kataku. Masuk! Ayahku meminta untuk mengantarmu."


"Kau bisa mengatakan pada paman bahwa kau sudah mengantarku," balas Angel kesal. Pria di hadapannya ini sangat kaku dan dingin. Memerintahnya dengan wajah datar yang tak ia sukai.


"Kau merepotkan!" geram Arsen kesal. Dia turun dari mobil dan langsung menarik tangan Angel.  Memaksanya masuk ke dalam mobilnya lalu menutup pintu mobilnya rapat.


Angel hanya bisa menurut dan duduk diam saat Arsen sudah duduk di sampingnya.


"Perlu kupasangkan sabuk pengaman?" tanya Arsen dingin. Matanya sama sekali tak melirik Angel yang juga terlihat kesal.


Angel menggeleng. Dia memasang sabuk pengamannya dan kembali diam.


"Kemana kau akan pergi?"

__ADS_1


"Show Room mobil,"


Setelah itu tak ada satupun kata-kata yang terucap. Keduanya tampak tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lalu, dengan lirikan sedikit, Arsen bisa melihat Angel yang diam dan tak bergerak. Itu sedikit aneh di matanya. Dia mengenal Angel. Bahkan mungkin sangat mengenalnya meski gadis itu tak mengenal dirinya. Gadis bodoh di sampingnya ini adalah kekasih temannya.


Dia tak hanya sekali melihat Angel yang rela datang dan menunggu temannya saat akan kencan. Dan temannya itu terlihat sama sekali tak keberatan ataupun peduli meski Angel telah menunggu ber jam jam di luar ruangan saat udara sangat dingin. Dia juga bisa melihat bahwa Angel sangat polos dan tak menarik! Ya, gadis di sampingnya ini sama sekali tak bisa cara berpakaian yang baik. Terlihat kuno dan tua untuk seumurannya.


Dia yakin, Angel juga bodoh karena di umur dua puluh satu, gadis itu belum mendapatkan gelar sarjana sama sekali. Hal apa yang bisa menarik pria untuk berdekatan dengannya? Bahkan sebagai pria, dia bisa melihat tatapan jijik temannya saat bergandengan tangan dengan gadis di sampingnya. Dan gadis di sampingnya ini masih tak menyadari dan selalu berpikir bahwa kekasihnya itu sangat mencintainya. Bahkan rela memberikan semua hal yang kekasihnya minta. Bukankah itu sungguh tidak masuk akal?


Dan kali ini ayahnya memintanya untuk mengantarkan Angel dan sama sekali tak mau mendengarkan alasannya. Dia hanya bisa mendesah pasrah lalu meninggalkan pekerjaannya untuk mengantar gadis di sampingnya. Hal yang lebih menyebalkan lagi, gadis di sampingnya ini sama sekali tak mudah untuk di tangani. Dia harus mengatakan hal yang sama berulang kali agar dia mengerti perintahnya. Membuat suasana hatinya yang kesal menjadi kian kesal.


Namun ada sesuatu yang aneh di matanya. Dia tahu Angel tak banyak memiliki teman dan biasanya gadis ini selalu tersanjung saat pria asing mencoba mengenalnya. Lalu selanjutnya dia akan bertingkah sok manis dan kekanakan dimana itu semua adalah hal yang paling dia benci. Dia sudah menduga semua ini. Tapi beberapa saat lalu, dia sempat tertegun dan terkejut.


Selama tenggelam dengan pikirannya sendiri, Arsen tak menyadari bahwa tujuannya sudah sampai. Dia melirik Angel yang telah membuka sabuk pengaman tanpa kata-kata.


"Sampai," ujarnya dengan dingin. Arsen melirik Angel yang tak menjawab dan memilih turun dari mobilnya.


"Terimakasih,"


Samar, Arsen mendegarkan kata-kata itu sebelum pintu mobilnya tertutup. Dia hendak turun dan mengawal Angel untuk menemani memilih mobil, tapi melihat sikap Angel yang aneh, dia memilih diam dan melihat dari jauh. Dia akan menunggu, mobil apa yang akan Angel pilih saat keluar di jalanan nanti.

__ADS_1


Setelah setengah jam menunggu, sebuah mobil Ferari LaFerari merah keluar membelah jalanan. Arsen membelalakan matanya saat matanya mendapati Angel menyetir di balik kemudi dan meninggalkannya. Dia tertegun sesaat dan tersenyum sangat tipis. Dia tak menyangka bahwa gadis bodoh itu memiliki selera yang cukup bagus untuk memilih mobil.


Angel tertawa senang saat berhasil membeli mobil Ferrari LaFerrari yang dia pilih. Mobil ini selalu menjadi pilihannya saat dia menjadi Xin Narra yang merupakan Artis di China. Namun siapa yang menyangka bahwa di kehidupan sebagai Angel, dia masih bisa memiliki mobil yang sama. Dia berselancar dan membelah jalanan kota Alaska. Sebelum akhirnya berhenti di sebuah mall terbesar di kota tersebut.


Dia masuk ke sebuah salon ternama setelah memikirkan mobilnya. Tersenyum tipis saat seorang pegawai datang dan dia menerangkan hal yang dia inginkan. Mulai dari mengubah penampilan rambutnya dengan warna golden brown yang terlihat cocok untuk kulit putihnya. Dia tanpa segan, memotong rambut hitam lurusnya sebahu menjadi sedikit lebih bermodel agar tampilannya sedikit lebih baik.


Selesai dengan itu semua, dia mulai berjalan memasuki berbagai toko termahal dan memilih lebih dari seratus pasang pakaian lengkap dengan sepatu dan aksesorisnya. Tak hanya itu seluruh perawatan yang biasa dia gunakan saat menjadi artis dia juga menerapkan pada kehidupan ini sekali lagi. Dia harus memperbaiki penampilan dan kehidupannya. Dia harus berdiri dengan anggun sebagai pemilik sah keluarga Excel.


Tanpa terasa dia menghabiskan waktu satu hari penuh untuk membeli semua hal yang dia butuhkan. Dia hanya mengira bahwa hari ini, dia telah menghabiskan lebih dari 4 juta dollar Amerika untuk seluruh keperluannya. Dia terlihat bahagia dan dengan riang untuk segera pulang menuju rumahnya.


Sedangkan Arsen, dia mengutuk Angel berkali kali karena harus bertugas mengawal perjalanan Angel dengan selamat. Dia awalnya mengikuti secara jauh dan diam. Namun kemudian memilih menunggu di dalam mobil seharian. Tanpa melakukan apapun dan sesekali hanya mengangkat telepon saat ayahnya menghubunginya.


"Sial!" maki Arsen kesal. "Monster seperti apa wanita itu? Kenapa bisa menghabiskan waktu satu hari penuh untuk berbelanja?"


Namun bibirnya terkatup rapat saat melihat sosok cantik yang berjalan ke area parkir. Dia yakin dia tidak buta. Wajah itu masih sama, hanya mengalami sedikit perubahan. Rambut hitam itu kini berubah warna. Baju tua itu tergantikan dengan rok mini setinggi sepuluh centi di atas lutut dan dipadukan dengan kaos santai berwarna hitam. Memperlihatkan kulitnya yang putih mulus dengan kaki jenjang yang panjang. Lalu sepatu tinggi sepuluh centi berwarna hitam juga menegaskan kulit kakinya yang mulus tanpa cacat.


Arsen memejamkan matanya sekali. Berharap penglihatannya salah. "Tak mungkin. Itu tak mungkin gadis bodoh itu yang berubah," gumamnya pelan.


Tapi saat Arsen membuka matanya sekali lagi. Dia semakin terpaku saat sosok putih itu benar-benar masuk ke dalam mobil Ferrari LaFerrari merah di samping mobilnya. Lalu tak lama mobil itu melaju melewati mobilnya. Meninggalkannya sendiri dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Dia Angel?" tanyanya sendiri dengan nada tak percaya.


__ADS_2