Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Arsenio Aglilio


__ADS_3

Angel memejamkan matanya sesaat lalu menatap Adrian yang duduk di hadapannya. "Paman, bisakah aku meminta sesuatu dari asetku?"


Kening Adrian mengerut. "Semua milikmu. Kau tak perlu mendapatkan ijin siapapun untuk mendapatkan sesuatu."


"Tapi tak semudah itu, paman." desah Angel frustasi.


Melihat itu Adrian menyadari sesuatu bahwa ada yang salah dengan putri sahabatnya ini. "Angel katakan. Apa kau diancam atau mengalami sesuatu? Sebagai pengacara keluargamu, aku harus tahu."


Angel mengangguk. "Paman, aku bahkan tak bisa meminta kartu kredit untuk membeli sesuatu. Saat ini aku tak memiliki satu dolar pun di dompetku. Aku terlihat kaya, tapi kenapa aku sangat miskin? Paman,"


"Mereka tak mengijinkanmu?" tanya Adrian hati-hati.


Angel mengangguk sekali. Wajahnya terlihay sangat menyedihkan. "Bisakah paman mendapatkanya untukku?"


Adrian mengangguk. "Itu bisa aku atasi. Kau hanya perlu menunggu. Katakan, apa saja yang butuhkan, maka aku akan bergerak untukmu."


Mendengar itu mata Angel berbinar. "Aku butuh mobilku. Aku butuh kartu kreditku,"


Adrian mengangguk. "Aku akan langsung menghubungi bagian pusat pengurusan keuangan keluarga Excel dan meminta semua yang kau inginkan."


Angel mengangguk sekali lagi. Dia membiarkan Adrian menelepon untuk beberapa waktu. Dia hanya duduk diam dan memikirkan hal apa yang harus dia lakukan setelah ini. Namun matanya tak bisa dibohongi. Mata hitam itu berair dengan binar yang mengesankan. Seakan harapan telah terkabul dan dia dalam suasana hati yang baik.


Setelah dua puluh menit, Adrian kembali dan duduk di hadapannya. "Ini sedikit sulit awalnya. Angel  ada apa dengan semua? Kenapa orang pusat tak mengenalimu sebagai pewaris dan mereka mengatakan Meida sebagai dirimu. Lalu, apa ini? Kau benar-benar membiarkan kekasihmu mengatur semua keuangan dari properti milikmu? Apakah kau waras?"


Angel tertegun. Dia menganguk lalu menggeleng. "Paman, aku bersalah. Itu kesalahanku. Dan aku datang kali ini juga mau meminta pendapatmu tentang aku yang ingin mengambil alih semuanya. Aku, aku  ... rasanya terlalu banyak kebodohan yang aku lakukan di masa lalu. Aku bahkan tak bisa menerima kebodohanku di masa lalu,"


Adrian tersenyum tipis. Dia bernapas lega. Setidaknya kali ini gadis di hadapannya telah mengerti hal yang akan di lakukan. "Itu bagus. Aku telah membekukan beberapa kartu kredit yang di pakai Meida dan kekasihmu. Lalu aku telah memesankan kartu gold edition milikmu. Kartuku tanpa batas. Dan kau harus mengambil alih semua keuangan dengan cepat."

__ADS_1


Angel mengangguk mengerti. "Tapi paman, mereka bahkan tak mengijinkan aku untuk masuk ke dalam rapat keluarga."


Adrian menatap Angel geli. "Apa yang sulit? Kau hanya perlu masuk dan duduk di sana. Aku akan datang membantumu untuk mengambil alih semuanya."


Mendengar itu Angel tak bisa tak berlonjak senang. Dia menatap Adrian dengan tatapan penuh suka cita. Akhirnya, satu langkah telah dia dapatkan dengan benar. "Paman, terimakasih. Kau menyelamatkan hidupku. Kau benar-benar menyelamatkanku."


Adrian mengangguk. Bibirnya meledak dengan tawa kecil yang penuh dengan suka cita. "Kapan rapat keluarga di mulai?"


Angel diam dan berpikir. "Kurasa satu minggu ke depan,"


"Kau harus mengabariku sehari sebelum rapat keluarga di gelar. Aku akan mengosongkan jadwalku hari itu."


"Aku merepotkan paman."


Adrian menggeleng. "Itu bukan apa-apa."


"Pak Adrian, ada paket untukmu. Dan ini berasal dari--"


"Berikan padanya, itu milik Angel." potong Adrian dengan tangan menunjuk Angel.


Angel berdiri dan menerima sebuah paket dari sang resepsionis. Tangannya dengan cepat membuka paket tersebut dan tertegun saat mendapati tiga buah kartu kredit dengan warna berbeda. Hal itu juga di sadari oleh sang resepsionis yang menatap tak percaya. Tapi dia jelas mendegarkan atasannya bahwa semua kartu itu milik Angel.


"Aku menelepon beberapa bank yang di pakai keluargamu untuk mendapatkan kartu tersebut. Harusnya beberapa kartu yang Meida dan kekasihmu gunakan telah dibekukan atas namamu."


Mendengar itu Meida sekali lagi tak bisa menahan perasaan senangnya. Hal itu di sadari oleh sang resepsionis yang terlihat iri dengan keberuntungan Angel. Kali ini, dia percaya bahwa Angel adalah pewaris sah keluarga Excel. Dia pamit dan undur diri dengan sopan. Meninggalkan keduanya untuk berbincang.


"Paman, aku akan mulai mengurus semua hari ini. Aku akan mengabarimu jika menemukan kesulitan."

__ADS_1


"Apa kau butuh seseorang untuk menemanimu?"


Angel menggeleng. "Aku bisa pergi sendiri."


Adrian menggeleng. "Tidak, itu tak aman bagimu. Pergilah bersama Arsen,"


"Arsen?" ulang Angel menyebutkan nama asing.


Adrian mengangguk. "Aku akan menghubunginya. Dia putra tertuaku. Dan sedikit lebih tua darimu. Mungkin sekitar empat atau lima tahun,"


Angel hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menolak. Meski akan sangat merepotkan tapi dia butuh tumpangan untuk sampai ke show room mobil.


"Paman, aku akan turun. Tak perlu menghubungi Arsen, aku bisa sendiri."


"Dia sudah menunggu di bawah. Kau bisa turun dan menemuinya."


Angel membeku. Namun langkah kakinya bergerak kaku. Menemui? Bagaimana dia bisa tahu bahwa akan ada orang yang dia kenali? Dan akhirnya, dia berpikir untuk memesan taksi lalu pergi sendiri. Ada banyak hal yang harus dia lalukan hari ini.


Melangkah ke lantai dasar, Angel sama sekali tak berniat untuk menemui Arsen. Dia hanya terlihat acuh tak acuh saat sang resepsionis menunduk sopan. Dia melangkahkan kakinya keluar dari gedung dan menunggu taxi sebelum tiba-tiba sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depannya.


Mengerutkan kening, Angel sama sekali tak merasa bahwa mengenal mobil di depannya. Kaca mobil tersebut turun dan memperlihatkan wajah yang tampan. Dengan dua alis tebal yang membingkai mata tajam dengan warna biru yang menghanyutkan. Itu terlihat seperti lautan luas yang sunyi, sepi dan ganas! Lalu hidung tinggi yang menjulang diikuti bibir seksi yang terkatup rapat. Kulitnya putih bersih dengan potongan rambut yang rapi dan jas hitam yang memperlihatkan tubuhnya sangat proposional.


Dalam menilai, Angel memamg mengakui bahwa pria di hadapannya ini cukup tampan. Dia adalah artis di kehidupan sebelumnya dan selalu bertemu dengan para artis pria yang tampan. Jadi saat melihat pria di hadapannya, itu sama sekali tak membangkitkan minatnya. Dia memilih untuk bergeser dan kembali menunggu. Namun saat suara asing itu terdengar, dia menunduk dan menatap wajah yang baru saja menyapanya.


"Masuk,"


Perintah itu terdengar dingin dengan lirikan mata tajam yang menatapnya malas. Angel tak bergerak dan memilih diam. Dia merasa tak mengenal pria di hadapannya.

__ADS_1


"Arsenio Aglilio," ucap pria itu menyebutkan namanya. Tatapannya sangat tajam dengan raut wajah yang datar. Dia melirik sedikit gadis di samping mobilnya dengan malas.


__ADS_2