
Pagi ini, Angel tak melihat siapapun saat turun ke ruang utama. Dia pun tak membiarkan waktunya terbuang sia-sia. Jadi dia segera menuju kampusnya dan mulai mengerjakan banyak hal yang tertinggal. Ia tidak pernah berpikir akan mengalami hal ini dalam hidupnya. Mengejar segala yang tertinggal mengharuskannya pulang senja hari. Dia tak akan membiarkan reputasinya hancur sekali lagi. Dia harus membuat prestasinya agar semua orang tak bisa meremehkannya. Menelusuri jalananan yang mulai sepi, dia memasuki mobil Ferari LaFerari merah dan memulai perjalanannya menuju rumah.
‘Menuju Rumah’. Angel tertawa dalam hati.
Mungkin takdir sedang mencoba mempermainkannya. Meskipun dalam hati ia benar-benar ingin pulang menuju rumah, rumah yang sebenarnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering merindukan China. Namun saat mengingat luka di hatinya dengan wajah Aaron yang menyertainya hatinya mendingin. Seperti membeku karena ribuan jarum es menusuk hatinya. Membekukan hatinya dengan dendam dan luka yang dalam.
Ia mengetukan jari-jarinya sambil memegang setir saat lampu merah mengharuskannya berhenti melajukan mobil, beberapa kendaraan dibelakang pun ikut berhenti. Bosan dan bingung, Ia sedang tidak ingin kembali ke rumah sekarang. Apalagi ia masih teringat dengan ancaman yang di lakukan Edsel. Mengingat kejadian kemarin malam, entah kenapa rasa takutnya datang tiba-tiba. Membuat punggungnya berkeringat basah meski ac mobilnya menyala.
“Ya Tuhan, kenapa aku selalu terpikirkan kejadian kemarin malam? Apa yang harus aku lakukan?” ucap Angel bermonolog.
Selama menunggu lampu hijau lalu lintas yang akan menyala, dia diam berpikir dan terus berpikir. Hingga tiba-tiba wajah Pengacara Adrian terbesit dalam pikirannya. Ia tentu tidak lupa darimana semua ini berasal. Pakaian bagus dan mobil yang sedang ia gunakan sekarang. Ia tidak akan mendapatkan semua ini jika bukan karena bantuan dari Adrian. Tanpa pikir panjang, Angel langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Pengacara Adrian. Berharap bahwa kali ini bantuan akan dia dapatkan.
Hanya butuh waktu 30 menit Angel sampai di kediaman Adrian. Dan sepertinya keberuntungan bukan berada di pihaknya untuk langsung bertemu Adrian kali ini. Adrian belum pulang dari kantornya dan baru akan pulang jam 7 malam nanti. Tapi Itu bukanlah masalah, dia bisa menunggu satu jam di Ruang tamu kediaman Adrian.
Sebuah foto yang terbingkai dengan rapi berhasil mencuri perhatian Angel. Di dalam foto itu adalah gambaran seorang anak laki-laki tampan yang tengah tertawa sembari menunjukan deretan gigi yang rapih sembari mengacungkan sebuah medali. Ia tidak perlu menebak siapa anak laki-laki itu, karena siapa lagi jika bukan Arsenio Aglilio.
Seperti sebuah mantra saat Angel memikirkan dua nama itu. Ia terkejut saat pintu utama di buka menampilkan tubuh tegap pemuda yang bernama Arsen yang tadi ia pikirkan. Ia kembali menaruh foto itu kembali ke tempatnya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan di disini?” tanya Arsen yang sama terkejutnya dengan kehadiran Angel di rumahnya.
‘Bukan urusanmu.’ Batin Angel yang sedikit tersinggung dengan nada pertanyaan Arsen yang dingin dan kaku. “Aku datang kesini untuk menemui Paman Adrian.”
“Ayah tidak akan pulang cepat,” Jawab Arsen dengan tegas.
Ia membuka Jas yang ia pakai, menyisakan kemeja putih yang membungkus tubuhnya sembari melonggarkan dasi yang ia pakai. Gerakannya sangat santai dan lugas. Hal itu tak luput dari pandangan Angel, saat dia bisa melihat gambaran tubuh Arsen di balik kemeja putihnya.
Jika itu adalah Angel sang pemilik tubuh asli sebelum kecelakaan dan bukan Xin Narra, pasti saat ini Angel sudah tidak akan menahan pandangannya. Terlihat memuja dengan raut merah yang jelas. Tapi dia adalah Xin Narra. Artis terbaik yang biasa melihat model dan aktor tampan dengan tubuh yang sama bagusnya. Jadi saat melihat Arsen yang melonggarkan dasinya, itu terlihat biasa saja di matanya. Dia biasa melihat itu dua tahun lalu. Atau berfoto bersama aktor tampan demi sebuah majalah dan kerja sama.
"Kau bisa menunggu atau kembali lagi saat Ayah sudah pulang," ujar Arsen dingin. Matanya jelas melihat Angel yang menatap lurus pada tubuhnya meski hanya sesaat. Dan hal itu membuat perasaan jijik di hatinya muncul tanpa di minta.
“Aku tidak bilang kau harus pergi dari sini,” kata Arsen menghempaskan tubuhnya kesalah satu sofa. Ia menyilangkan kakinya sembari menatap Angel datar.
Tanpa aba-aba Angel ikut duduk di sofa yang berseberangan dengan Arsen. Dia menopang kepalanya santai dengan satu kaki di tumpukan pada lutut lainnya. Hal itu membuatnya terlihat sangat santai meski berkali kali keningnya mengerut karen terus saja memikirkan sesuatu.
"Apa kau punya malasah?" tanya Arsen kemudian saat melihat Angel yang diam. Sungguh pertanyaan yang dia ajukan hanyalah formalitas saja agar dia tak membiarkan Angel berpikir bahwa dia kurang sopan.
__ADS_1
Angel melirik Arsen sesaat tanpa minat. Kepalanya menggeleng pelan, "Tidak."
Mendengar itu Arsen tak merespon. Lagi pula Angel bukanlah orang yang bisa membangkitkan rasa ingin tahunya. Jadi dia hanya diam dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Matanya terpejam sesaat untuk rileks sebelum pertanyaan konyol dari gadis di depannya terdengar.
"Arsen, dimana bar terbaik di negeri ini?"
Kening Arsen mengerut mendapati pertanyaan Angel. Dari pada menjawab, dia lebih suka berujar, "Kekasihmu sering berada di Cupid Bar. Apa kalian memiliki masalah?"
Angel menghela napas mendengar jawaban itu. "Aku tak bertanya tentangnya, oke. Aku bertanya dimana bar paling bagus di sini? Bar yang biasa di datangi oleh para pria yang keren,"
Mendengar kata 'Keren' dari mulut Angel, perasaan Arsen kian memburuk. Sebelumnya dia tahu bahwa Angel adalah orang yang selalu buruk dalam pikirannya. Dia telah melihat Angel berkali kali sebelumnya hingga rasa jijik itu timbul begitu saja. Dan kini gadis ini menanyakan hal yang benar-benar tak pernah dia duga. Angel, gadis itu, apa yang dia pikirkan hingga harus mendatangi bar untuk mencari pria yang keren?
"Kau tak berniat menjual tubuhmu, bukan?" tanya Arsen sarkastik. Tatapan jijik itu terlihat jelas dengan raut wajahnya yang tampak enggan menatap Angel.
Mendengar itu, kepala Angel bagai tersengat listrik. Matanya menapat nyalang dengan ekspresi marah yang di pendam. Pria ini, apa maksudnya dengan mempertanyakan hal buruk tentang dirinya? Merasakan api di hatinya tersulut, dia hanya bisa diam karena menyadari posisinya sekarang. Dia butuh Adrian, jadi dia akan bertahan meski Putra pemilik rumah ini berpikir rendah tentangnya. Meski begitu, dia tak akan membiarkan siapa pun merendahkannya.
"Apakah aku terlihat miskin di matamu?" tanya Angel tajam. Dia menatap mata Arsen lekat dengan tenang. "Arsen, aku adalah pemilik keluarga Excel! Aku tak kekurangan uang hingga harus menjual tubuhku! Tapi, jika aku mau, aku bisa membelimu!"
__ADS_1
***
Don't forget to like, Vote Coment and give me 5 Stars. thank you.