Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Amarah Meida.


__ADS_3

Pagi ini Angel memeriksa seluruh barang belanjaan yang baru saja dia beli kemarin. Dia sangat ingat semua model yang telah dia ambil.  Memeriksa semuanya, dia mendapati beberapa pakaiannya hilang tak terkirim. Namun dia sangat tahu bahwa pihak pusat mall telah mengkonfirmasi seluruh barang belanjaannya telah dikirim.


Senyum jahat Angel terlintas kemudian. Dia dengan ringan, berjalan menuju kamar Meida yang tertutup. Tanpa mengetuk dahulu, dia membuka pintu kamar Meida kasar. Menciptakan suara pintu kamar yang terbanting keras.


"Siapa yang berani--"


Ucapan Meida terhenti saat melihat sosok Angel di tengah pintu. Matanya terpaku cukup lama, untuk meneliti penampilan Angel yang tak biasa. Dia melihat Angel mengenakan celana jeans hitam pendek yang hanya menutupi setengah pahanya. Di padu dengan kaos pendek biru lembut yang juga hanya cukup menutupi pinggangnya. Saat tangan Angel bertepuk beberapa kali, dia bisa melihat sedikit kaos Angel yang terangkat. Menampilkan kulit bagian pinggangnya yang putih dan ramping.


"Apa ini?" gumam Meida tanpa sadar.


Sedangkan Angel, saat dia melihat seluruh isi kamar Meida  dia cukup tercengang. Kamar mewah itu penuh warna dengan berbagai ormanen yang memanjakan mata. Matanya kian meneliti dan mendapati beberapa barang miliknya dahulu. Membuat tangannya terangkat dan menepukkan beberapa kali.


"Bagus, bagus sekali. Tak hanya tak tahu malu, kau bahkan juga pandai mencuri," hardik Angel tanpa sadar.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Meida dingin.


Angel tak mengindahkan Meida dan hanya melirik sekilas. Melihat ada perban di hidung Meida yang memastikan bahwa tulang hidung Meida benar-benar patah karenanya. Namun kemudian tangannya dengan santai membuka seluruh lemari pakaian Meida dan mencari milikya. Membuat Meida maju dengan amarah yang tersulut.


"Apa yang kau lakukan!"


Angel menghentikan tangannya saat tangan Meida menepis tangannya dari aktivitas memilih baju. Hal itu membuat keduanya saling bertatapan tajam.


"Beraninya kau mengacak kamarku. Apa kau sudah tak waras?"


"Menyingkir, aku hanya mencari barangku yang hilang!" tekan Angel tak berminat pada seluruh barang milik Meida.


"Kau! Kau pikir barangmu cukup menarik mataku? Keluar, keluar dari kamarku!"

__ADS_1


Angel tertawa melihat Meida yang berusaha mendorong tubuhnya. Dia menghentakkan tangan Meida kasar. "Kamarmu? Aku tak tahu sejak kapan ruangan ini menjadi kamarmu!"


"Kau!" teriak Meida sakit kepala. Dia tak tahan dengan sikap Angel yang baru ini. Sangat berbeda dengan yang biasa dia kenali. Biasanya, Angel akan takut dan mundur dengan rendah hati saat dia merasa kesal. Tapi ini? Dia bahkan sudah marah dan menonjolkan seluruh urat nadinya karena nada tinggi yang dia katakan. Tapi Angel terlihat tak peduli dan semakin membuatnya marah.


"Meida, ini rumahku! Kau hanya tamu! Dan tamu tidak mencuri barang dari tuan rumah. Kecuali jika orang itu benar-benar seorang pencuri," sindir Angel tak berminat.


"Keluar!" bentak Meida kasar. "Aku tak tertarik pada barangmu! Kau pikir seleramu cukup bagus di mataku? Kau sangat menyedihkan."


"Oh benarkah? Aku menghabiskan empat juta dolar kemarin untuk membeli semua keperluan. Kau yakin kau tak mengambil beberapa di antaranya?"


Tatapan menyelidik Angel membuat Meida sedikit gugup. Mendengar Angel menyebutkan angka yang sangat banyak untuk berbelanja  hatinya menjerit. Dia tak yakin bahwa kata-kata Angel benar. Jadi dia hanya mencibir.


"Kau sangat membual,"


Angel tak tertawa. Dia hanya mendekat dan menyingkirkan Meida dari depan lemari. "Menyingkirlah. Aku hanya butuh waktu sedikit,"


"Diam atau aku akan mematahkan hidungmu sekali lagi," ancam Angel malas.


Meida hanya mengikuti Angel yang telah mengambil beberapa pakaian lengkap dengan aksesoris tas, hight hell, jam, gelang dan lainnya. Matanya tak bisa tenang, saat dia melihat dua gaun edisi terbatas dan terbaru dari brand ternama yang dia sukai di asingkan. Dan itu di tangan Angel. Dia tak bisa diam, jadi mencoba menahan Angel dengan semua hal yang dia bisa.


"Angel, hentikan! Itu milikku. Itu juga, milikku. Letakkan! Letakkan!"


Angel menoleh dan menyeringai. "Milikmu? Kapan kau membelinya? Aku sangat ingat bahwa aku memilih gaun ini kemarin karena ini berasal dari brand yang kusukai. Dan di negara ini hanya ada tiga buah. Dimana dua yang lainnya telah di miliki artis di negara ini. Jadi, apakah kau yakin, kau memilikinya? Dan bukan mengambil dari barang belanjaanku?"


"I-itu," ujar Meida kaku. Dia tak bisa menjawab dan hanya bisa menahan kesal saat Angel menginjak seluruh pakaiannya sebelum akhirnya meninggalkannya tanpa kata.


"Angel, Angel, dia milikku. Angel,"

__ADS_1


Meida mengikuti langkah Angel dan memasuki kamar Angel yang masih terbuka. Dia melihat Angel memasuki ruang koleksi dan dia tertegun tak percaya. Dia dalam ruangan itu, dia melihat seluruh pakaian dari brand ternama tergantung tapi. Berbagai model sepatu flat, sket hingga hight hell juga terpajang rapi. Tas, jam tangan, hingga aksesoris lainnya. Membuat matanya berbinar penuh minat.


"Jangan menyentuhnya!" peringat Angel tiba-tiba saat melihat tangan Meida terulur untuk menyentuh sebuah gaun.


Hal itu menyadarkan Meida, dan dia segera menarik tangannya. Dia melihat Angel yang menatapnya dingin. Entah kenapa tatapan itu membakar hatinya. Dia tak tahu, sejak kapan Angel memiliki selera pakaian yang bagus dengan model yang modis. Lalu dia melirik tubuh Angel yang kurus, pinggang itu sangat ramping dengan perut yang rata. Meski tak memiliki dada yang besar seperti dirinya, namun tak membuat Angel terlihat datar.


Apa ini?


Kenapa dia baru menyadari bahwa tubuh Angel cukup bagus dan langsing?


Kenapa dia baru menyadari bahwa Angel memiliki kulit yang putih dan halus.


Lalu rambut itu? Sejak kapan Angel merubah warna rambutnya menjadi golden brown yang merubah wajah lugunya menjadi menonjol dengan kecantikan alami yang fres.


Meida melirik sekali lagi, dan lagi-lagi melihat kaki Angel yang panjang dan mulus. Selama ini dia hanya tahu bahwa Angel cukup tinggi, lebih tinggi darinya. Tapi dia tak pernah melihat Angel yang mengekpos kecantikannya seperti saat ini.


Tiba-tiba perasannya menjadi terengut tanpa alasan. Dia menatap panas wajah Angel dan menyadari bahwa tak ada jejak luka satu pun di sana. Sedangkan dia? Hidungnya patah dan harus menjalani operasi. Dia bahkan tak bisa kuliah karena terlalu malu untuk keluar.


Memikirkan hal itu amarah Meida mendidih. Dia tiba-tiba maju dan menampar wajah Angel. Tapi itu belum sampai, dan tangannya hanya tertahan di udara. Angel telah menangkap tangannya dan menatapnya dingin.


"Kau!" teriak Meida tak tahan.


"Meida, aku tak akan menahan lagi. Aku tak akan diam saat kau menyakitiku seperti dulu."


"Ka-kau,"


"Keluar!" ujar Angel dingin. "Keluar karena kau hanya memiliki waktu dua hari di rumah ini,"

__ADS_1


Berita itu membuat mata Meida terbelalak lebar. Apa yang terjadi? Kenapa dia menerima kabar ini? Tidak, kenapa Angel mengatakan hanya dua hari. Dia telah tinggal nyaman di rumah ini dan merasa bahwa tak akan pindah. Tapi, Angel ... tanpa menunggu, dia langsung keluar dan mencari ayahnya. Dia harus tahu sesuatu dan memastikan semuanya.


__ADS_2