Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Aku tak membutuhkanmu!


__ADS_3

Saat ini Edsel mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Dia baru saja akan meraih tangan Angel, namun Angel menjauh. Dan hal itu membuat tatapannya kosong sesaat. Sebelum akhirnya bibirnya mengatakan sesuatu.


“Angel,” Ia mengucapkan nama itu selembut mungkin. Berusaha bersikap baik dan melakukan semua dengan kelembutan agar semua keadaan kembali normal. "Apa kau tahu? Aku meninggalkan semua pekerjaanku setelah tahu kamu sadar. Aku ingin melihatmu karena terlalu merindukanmu.  Aku ingin kita kembali membahas acara pertunangan kita yang gagal beberapa bulan lalu karena kecelakaanmu."


Mendengar hal itu Angel merasa muak, rasa panas aneh langsung menyerang telinganya. “Adsel, Cukup. Aku tak mau mendengarmu! Ini hari pertama aku kembali kuliah. Jadi, kau bisa kembali ke pekerjaanmu, dan aku bisa melanjutkan Aktivitasku.”


Angel berusaha menjauh dari Edsel dan akan kembali ke kelasnya namun Edsel kembali menarik tangannya.


“Angel? Apa kau marah padaku. Apa kau benar-benar marah? Baiklah, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kau kecewa karena tidak melihatku saat pertama kali kau bangun.”


Angel menghela napas, ia kembali melepas tangan Edsel. "Aku bangun beberapa hari yang lalu, Edsel!" tukasnya lelah.


“Aku tahu," jawab Edsel pelan melihat raut wajah Angel yang kecewa. "Dengar, Angel Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku saat itu. Ini untuk  masa depan kita. Aku ....”


Mendengar kata-kata Edsel, sekali lagi Angel ingin tertawa. Entah kenapa hal itu lucu di matanya namun hatinya menjerit tak tertahankan. Pria di hadapannya ini dengan mudah mengatakan semua demi masa depan mereka? Masa depan seperti apa yang pria ini katakan? Bukankah semua telah usai? Dia bahkan tak memiliki hati lagi sekarang. 


Angel menaikan sebelah alisnya akan bicara. Namun ketika dia mendengar suara dering telpon, dia mendesah pelan dan pasrah. Selanjutnya Edsel terlihat meraba sakunya lalu menatapnya memohon.


“Bolehkah Aku mengangkat telpon sebentar?” tanya Edsel dengan manis. Dia tak bisa membiarkan Angel marah lebih dari ini.


“Kau tidak perlu meminta ijin dariku.”

__ADS_1


Adsel mengangkat telepon sembari membelakangi tubuh Angel. Meninggalkan Angel sesaat dengan semua pemikirannya. Sedangkan  Angel menggerutu dalam hati, Apa pria ini jelas sedang berusaha menarik hatinya atau merayunya dengan meminta izin setiap apa yang akan dilakukannya. Itu terdengar manis dan perhatian. Namun entah kenapa hal itu tak Menggerakkan hatinya. Dia hanya menatap tubuh tegap bagian belakang Edsel dengan tatapan yang tidak bisa di lukiskan.


Jika di lihat dari masa lalunya sebagai Xin Narra, kau bahkan tidak pernah mengenali laki-laki ini. Tapi karena memory yang ditinggalkan dalam tubuh Angel, ia merasa bersyukur karena tidak terbangun dalam tubuh asing tanpa sisa memory apapun.


“APA!”


Edsel terdengar marah sekaligus terkejut dengan informasi yang baru saja ia dapatkan, dan itu tidak membuat Angel merasa kaget sama sekali. Ia membalas tatapan Edsel saat ia menatapnya sembari berbicara pada seseorang yang menelponnya.


Edsel yang merasa mendidih saat mendapatkan informasi tentang laporan pengeluaran keuangan tanpa sadar mencengkram erat ponselnya dan mematikannya secara sepihak tanpa melepaskan tatapannya dari Angel. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih dengan Handphone masih di dalam gengamannya. Dia mendekati Angel dan semua kelembutan langsung sirna.


“Aku meminta jawabanmu yang sebenarnya kali ini! Aku mendapatkan laporan bahwa kau memakai uang perusahaan dalam jumlah yang cukup besar, untuk Apa kau gunakan uang itu?" tanya Edsel dengan sedikit membentak, ia tidak bisa mengontrol amarahnya, membuat Angel menarik satu sudut bibirnya.


Belum sempat menjawab, Edsel bahkan sudah melanjutkan kembali kata-katanya. "Aku juga mendengar bahwa kau mematahkan hidung Meida. Angel kau benar-benar jahat! Bagaimana bisa kau melakukan semua itu?"


"Kau mempertanyakan hal yang aku lakukan?" tanya Angel dingin. Kakinya mundur selangkah dengan tatapan penuh luka. "Edsel, apakah kau benar-benar ingin tahu saat menanyakan semua hal itu padaku?"


Edsel tak lagi memperhatikan mimik wajah Angel yang terluka. Saat ini pikirannya jelas terfokus pada satu hal. "Kau, dari mana kau dapatkan semua uang itu? Bagaimana kau--"


"Apakah kau berhak menanyakan hal itu padaku?" potong Angel dingin. Dia menatap Edsel tanpa takut.


"Apa?" tanya Edsel tak percaya.

__ADS_1


"Edsel, kau bukan siapa-siapa! Dan aku menggunakan uangku. Semua hal yang kau kelola itu adalah milikku! Apakah kau lupa pada kenyataan ini?"


Bagai tersadar, Edsel tertegun. Tidak, dia tak akan pernah menyangka bahwa Angel akan mengingatkannya tentang ini semua. Dia tak pernah menyangka bahwa gadis ini kian berani dan tak menunjukkan rasa takut sedikit pun.


"Lalu," ucap Angel tertahan sesaat. Dia memejamkan matanya pelan dan kembali menatap Edsel muak. "... kenapa? Kenapa jika aku menyakiti Meida? Kau bahkan tak mempertanyakan hal yang terjadi padaku tapi meng klaim bahwa aku adalah wanita jahat? Edsel, apakah kau benar-benar mencintaiku? Apakah kau benar-benar pernah memikirkan aku?"


Hening! Untuk beberapa menit kedepan Edsel tak bisa menjawab. Dia bahkan terkejut dengan riak emosi yang Angel tunjukkan. Tatapan penuh luka dengan keraguan mempertanyakan semua hal yang baru saja dia ucapkan. Lagi, kata-kata itu menghantam bagian inti kepalanya.


"Apakah kau benar-benar mencintaiku? Apakaha kau benar-benar pernah memikirkan aku?"


Edsel tak bisa menjawab. Pertanyaan itu, berkali kali dia tanyakan pada dirinya sendiri. Namun nyatanya, tak satu pun jawaban yang muncul dan berikan pada gadis di depannya.


"Edsel, kita berakhir! Aku ingin kita berakhir."


Mata Edsel terbelalak saat Angel mendengar itu semua. "Berakhir?" tanyanya tanpa sadar. Senyumnya terlukis jelas. "Angel, jangan main-main! Pesta pertunangan, itu akan tetap terjadi. Aku akan menganggap tak pernah mendengarkan semua ini. Jadi bersikap baiklah selama aku masih mau menikahimu. Jangan menangis karena aku telah bersikap kasar padamu. Dan aku ingin kau meminta maaf pada Meida. Segera,"


Angel tersenyum tipis. Dia mundur selangkah lagi dan menatap Edsel benci. "Edsel, kau terlalu memikirkan dirimu sendiri. Kau terlalu menganggap dirimu terlalu tinggi. Lalu apa? Aku harus meminta maaf? Kenapa? Bahkan jika aku bersalah, aku tidak akan melakukannya. Kalian benar-benar orang yang menjijikkan!"


Tangan Edsel terangkat tanpa sadar. Tidak, dia tak menyangka bahwa Angel akan berani menyulutkan emosinya. Namun sebelum tangannya berhasil turun, Angel telah mengatakan satu hal yang membuat dirinya tertegun.


"Edsel, sebagai pemilik perusahaan yang kau kendalikan, kau di berhentikan! Aku tak membutuhkan orang-orangan sepertimu!"

__ADS_1


Angel bergerak mundur dan membalikkan tubuhnya. Dia berjalan meninggalkan Edsel yang terpaku. Namun dia tahu, bahwa itu tak akan bertahan lama. Pria itu pasti akan mengejarnya, jadi dia dengan cepat berlari menuju kelas lalu masuk ke dalammya. Membuat Edsel, bahkan tak bisa bergerak maju untuk mendekat.


__ADS_2