
"... jika aku mau, aku bisa membelimu!"
Sudut pikiran Arsen tersentil saat mendengar kata-kata Angel. Entah kenapa bagian akhir kata-kata tersebut selalu terngiang di telinganya. Menyulutkan egonya sebagai pria dan dia merasa di rendahkan.
Membeliku? Apakah aku semudah itu di matamu? Angel, kau terlalu menganggap dirimu tinggi! Aku bukan barang yang bisa kau bawa pulang!
Terlebih dari hal yang menyulut egonya. Arsen memilih diam dan menatap mata hitam Angel dengan lekat. Mata hitam itu, tampak tenang, dengan kilatan emosi yang hampir tak terlihat. Tersentak, dia memutuskan pandangannya dan mengerutkan alisnya. Hal yang dia lihat, itu tak mungkin benar bukan? Dia, yang seorang pengacara tak bisa mendeteksi emosi apapun di mata lawannya.
Sekali ini, gadis di hadapannya itu memberinya kejutan!
Namun dia tak akan melepaskan Angel semudah itu. Berpikir lagi, dia mengingat kejadian di kantor polisi satu hari lalu. Saat itu dia jelas mendapati Angel pergi bersama seorang pria meski telah memiliki kekasih. Tak cukup hanya dua pria gadis di hadapannya ini kini bahkan menanyakan tempat di mana pria 'keren' sering berkumpul. Bukankah itu sudah sangat buruk? Seakan kurang, kini tiba-tiba gadis di hadapannya ini menyatakan bahwa akan membeli dirinya! Apakah dia, terlihat seperti pria yang akan tunduk pada wanita?
Angel, kau terlalu bermimpi! Makinya dalam hati.
Gadis di hadapannya ini tak lebih seperti wanita murah dan tak cukup dengan kekasihnya, Edsel. Jika dia berpikir lagi, hal apa yang akan Edsel lakukan jika dia memberi tahu bahwa kekasihnya berminat untuk membelinya? Lalu setelah itu hal apa yang akan terjadi dan apakah itu akan memberikannya tontonan? Sudut mulutnya terangkat ke atas penuh minat. Angel, gadis ini benar-benar punya nyali untuk mencari masalah dengannya.
Jemari Arsen terangkat sedikit dan mengetuk pelan pada pegangan samping sofa. Memberikan suara di tengah suasana yang sepi. Saat ini, matanya kembali menatap Angel yang masih terlihat tenang. "Kau, hati-hati dengan ucapanmu!" peringatnya langsung.
__ADS_1
Mendengar itu Angel tersenyum tipis. Membuat kedua pipi halusnya bergerak ringan. Dia memiringkan kepalanya sedikit hingga rambutnya mengikuti gerakannya. "Kenapa? Apakah kau khawatir aku akan membelimu dengan harga murah?"
"Angel," peringat Arsen dengan suara cukup tegas. "Kau terlalu menganggap dirimu tinggi! Kau bahkan tak bisa membuatku tertarik seujung kuku pun. Dan kau mengatakan akan membeliku? Kau terlalu banyak bermimpi!"
"Kau yakin aku tak dapat membuatmu tertarik, Arsen?" jawab Angel tak memberi jeda saat suara Arsen jatuh. "Seujung kuku pun?" ulangnya dengan senyum ringan. "Jika begitu, jangan salahkan aku, jika kau jatuh dibawah kakiku!"
Kata-kata provokasi itu membuat Arsen tertawa mengejek. Dia menatap Angel jijik lalu mencibir. "Bangunlah dan berkaca! Aku tak akan tertarik pada wanita sepertimu!"
Satu sudut bibir Angel terangkat ke atas sedikit. Dia tiba-tiba bangkit dan berjalan anggun menuju Arsen. Ini tak sulit baginya. Untuk mencoba apakah Arsen benar-benar tak tertarik padanya. Jadi dia hanya perlu menjadi Xin Narra yang tengah syuting sebuah film dengan adegan memikat kekasihnya penuh cinta.
Pelan, dia menggerakkan tangannya dengan anggun untuk menyembunyikan rambutnya di belakang telinganya. Dia duduk langsung di samping tubuh Arsen dan menatap wajah Arsen lekat. Dengan Ekspresi penuh pemujaan dan cinta yang tak terkira. Seperti dia melihat sebuah berlian mahal dengan niat memiliki yang kuat meski dia tahu itu tidak mudah.
Mata bulat hitamnya berkedip sesaat. Membuat bulu mata lentiknya terlihat sedikit lebih panjang di bawah sinar lampu yang membuat bayangan hitam di bawah matanya. Wajahnya bersemu merah menggoda dengan tatapan penuh kasih dan takut secara bersamaan. Menampilkan emosi memikat di matanya. Dimana terlihat, dia seakan takut di campakkan dan tak akan dapat memiliki berlian di matanya. Lalu dia akan terluka dan kehilangan. Hingga dia harus menggenggam erat berliannya atau itu akan sirna.
"Arsen," panggil Angel lembut. Suaranya sangat halus dengan tangan yang tiba-tiba menyentuh jemari Arsen. Dia menjatuhkan kepalanya tepat di pundak Arsen dengan satu tangan lainnya bergerak mengelus lengan Arsen. "Kau tahu, aku mengalami kesulitan." lanjutnya dengan nada yang tiba-tiba sedih.
Kepalanya bergerak sedikit dan mendongak. Dia menatap Arsen yang tak dapat berekspresi dan seakan membatu akan perlakuan tiba-tibanya. Dan dia tak akan melepaskan kesempatan itu! Jadi dia menatap Arsen dengan wajah putus asa. Di mana secara bersamaan tatapan penuh cinta itu tak pernah lepas dari matanya. Mulutnya bergerak pelan dengan mengigit bibir atasnya. Membuat bibir merahnya terlihat lebih segar dan menggoda.
__ADS_1
"Arsen, maukah kau menikah denganku?"
Ekspresinya sangat lembut dengan raut sedih dan putus asa. Seakan akan Angel telah teraniaya dan tengah berjuang untuk mempertahankan cintanya. Rona merah di kedua pipinya juga membuat wajah cantiknya terlihat kian cantik. Dia, terlihat seperti peri yang tengah jatuh cinta dan tengah ketakutan di tinggalkan kekasihnya.
Pendengaran Arsen terasa terganggu saat kata lamaran itu sampai di telinganya. Tubuhnya terasa kaku dengan ekspresi yang tak bisa di ungkapan. Tidak, ini salah. Sejak awal dia melihat Angel yang bangkit dan berjalan menuju ke arahnya, dia sudah merasakan ada hal yang salah. Tapi dia sama sekali tak waspada karena merasa Angel bukanlah masalah.
Lalu tiba-tiba ekspresi gadis itu berubah. Membuatnya tak mengerti dan sebelum dia berhasil berpikir, aroma lembut yang menenangkan itu sampai di hidungnya. Dia tersentak saat tiba-tiba Angel duduk di sampingnya dan memegang lembut jemarinya. Sentuhan lembut di lengannya menyambut setelahnya.
Lalu, samar, dia merasakan aroma shampo yang segar menusuk hidungnya. Gadis itu, tanpa aba-aba berani menyandarkan kepalanya di pundaknya. Sungguh berani. Tapi sebelum dia bisa berteriak atau bereaksi, kepala itu bergeser dan menatap wajahnya tanpa ampun. Dia tak bisa tak tertegun. Tubuhnya kaku bagai tersengat listrik dan tak bisa di gerakkan. Terlebih Ekspresi lemah yang gadis itu tunjukkan. Membangkitkan jiwa lelakinya untuk melindungi gadis yang tengah menatapnya. Jiwanya tanpa sadar, seakan rela bertarung untuk wanita di sampingnya!
Namun sebelum dia berhasil bereaksi, pegangan di tangannya itu terlepas. Dia melihat Angel yang seakan sadar akan sesuatu dan tersenyum senang. Gadis itu bahkan melupakan semua hal yang baru saja di ucapkan saat tubuhnya berdiri dan bergerak menjauhinya.
"Benar, kenapa aku sangat bodoh? Aku bisa mengunakan ini. Ya Tuhan," ucap Angel mencari sebuah Handphone di dalam tasnya.
Arsen mengerutkan keningnya saat melihat Angel yang tiba-tiba berbalik menatapnya. Gadis itu terlihat tenang dengan tatapan tak perduli pada semua hal yang telah dia lakukan. Lalu dengan satu lambaian tangan, bibir tipis itu mengucapkan kata-kata dengan cepat dan tak bisa dia cegah.
"Aku akan pergi. Katakan pada Paman, aku sudah menemukan jalan keluarnya."
__ADS_1