
"Paman, aku akan melepaskannya,"
Hening! Tak ada kata-kata yang terucap setelahnya saat suara Angel memecahkan kebisuan. Dia bergerak gelisah karena mendapati rencananya tak mendapat respon.
"Paman, benar. Aku melakukan kesalahan. Aku, aku pasti sudah buta sebelumnya karena percaya dengan semua kata-kata mereka. Paman aku--"
"Angel," potong Luke lembut. Dia menatap wajah keponakannya dengan lembut. Jelas, dia melihat emosi yang tak biasa. Dia tersenyum tipis melihat wajah Angel yang tampak merasa bersalah. "Tak apa, biarkan saja. Kami sudah menjalani ini selama dua tahun. Tak apa, kami--"
"Tidak!" potong Angel cepat. Tubuhnya berdiri dengan amarah yang berapi api. "Paman, kau hanya perlu menunggu. Besok, kau pasti akan melihat Neandro di sini! Di rumah ini. Dan semua, semua akan kembali normal. Aku berjanji, dan paman bisa memegang janjiku."
"Angel, Angel, Angel,"
Luke berjalan menyusul Angel yang telah melangkah setelah mengucapkan janjinya. Dia hanya bisa melihat punggung Angel yang pergi meninggalkan halaman rumahnya. Dia mendesah lalu menoleh saat Cealine memegang punggungnya.
"Dia, tampak berbeda. Apakah dia benar-benar keponakanku?"
Luke membawa tangannya untuk menggaruk ujung alisnya. "Kurasa bukan hanya aku yang merasa dia seperti orang lain."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga. Melihat Alysia bermain dalam diam.
"Dia bertengkar dengan Meida hari ini," pecah Luke membuat tatapan Cealine terbelalak.
"Dan aku sangat terkejut saat mengetahui bahwa tulang hidung Meida patah karenanya."
"Patah?" tanya Cealine memastikan.
Luke menggangguk. "Tak memiliki rasa bersalah, dia terlihat tenang dan tersenyum puas. Dia bilang, dia hanya membalas."
"Itu artinya dia terluka?" tanya Cealine terkejut.
"Ya," jawab Luke pasti. "Kau sudah melihat perban di kepalanya."
__ADS_1
"Kepalanya, bukan luka operasi karena kecelakaan atau sesuatu?" tanya Cealine lagi.
Luke menggeleng. "Luka itu terjadi hari ini. Setengah hari aku mengantarnya ke rumah dan sore dia kembali ke rumah sakit dengan berdarah darah."
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Cealine lirih. Ada rasa takut di hatinya. Gadis itu, adalah satu-satunya anak yang dimiliki oleh kakaknya. Dan dia tak bisa tak khawatir meski Angel sudah membuat kehidupan keluarganya menjadi menderita.
"Dia baik. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, sejak kapan Angel menjadi anak pemberontak dan sangat dingin? Dia, biasanya sangat penurut pada Pamannya terlebih pada Meida. Dia selalu menganggap kata-kata mereka benar. Tapi kali ini, Angel berani membuat Meida terluka."
"Apakah sesuatu terjadi padanya saat kecelakaan?"
Luke diam. Dia hanya bisa memendam rasa curiganya. Tapi dia yakin, bahwa tak ada yang aneh pada Angel. Kecuali cara berpikirnya yang berbeda.
***
Angel baru saja sampai di rumah utamanya. Dia memasuki rumah dan menatap para pelayan yang terkejut akan kedatangannya. Satu di antaranya terlihat menatap Angel penuh permusuhan. Dia yakin, bahwa pelayan ini pasti melayani Meida dengan patuh. Tapi dia tak memusingkan ini. Dia hanya bertanya dengan acuh tak acuh.
"Dimana paman?"
"Katakan padanya untuk pulang!"
Tawa mengejek kembali terdengar. Pelayan tersebut maju sedikit dan menatap Angel remeh. "Kami sangat sibuk. Kau bisa meneleponnya sendiri. Lagi pula Tuan besar pasti sangat sibuk sekarang."
Mendengar itu Angel menarik satu sudut mulutnya ke atas. "Tuan besar?"
Pelayan itu tersenyum tipis. "Aku yakin kau pasti akan menerima hukuman karena telah melukai nona Meida,"
Mendengar itu Angel kian berminat. Sepertinya dia harus bertindak lagi untuk memperbaiki hal kecil dihadapannya. Dia menatap lekat pelayan di depannya dan kian mendekat. "Siapa aku?" tanyanya dingin.
"Apa kau hilang ingatan?" balas pelayan tersebut tanpa takut.
Kilatan mata dingin Angel terlintas. Dia menarik satu tangannya lalu menampar keras pelayan di hadapannya. "Jadilah anjing yang baik dan tak menggigit tuannya!" ucapnya kasar dengan bahasa kiasan China yang selalu di gunakan untuk menegur pelayan yang tak patuh pada tuannya.
__ADS_1
"Kau!" teriak pelayan tersebut belum mengerti. Sedangkan dua pelayan lain mulai mundur dan menunduk. Mereka merasa bersalah karena tak memberi tahu kejadian sore ini pada temannya hingga temannya tak berlaku sopan pada Angel.
"Siapa aku?" tanya Angel sekali lagi.
Pelayan itu masih belum mengerti. Dia berpikir bahwa Angel masihlah sama. Dimana dia bisa memperlakukan Angel sesukanya.
"Kau Angelique Excellin!" jawab pelayan tersebut tanpa takut. Satu tangannya bahkan akan terangkat sebelum tangan Angel lebih dulu menyapa pipinya kembali.
Tamparan itu keras. Membuat pipi pelayan tersebut memerah.
"Sepertinya aku harus mendisiplinkan mulutmu! Kau benar, aku Angel. Tapi apa kau meninggalkan otakmu hingga lupa nama keluargaku?"
Mata pelayan tersebut melebar. Satu kenyataan yang baru saja Angel katakan meluruskan pikkrannya. Dia bahkan hampir lupa, siapa Angel dan siapa Meida. Tapi tidak, nonanya bahkan terluka karena gadis lemah di hadapannya. Jadi dia akan membalas untuk Meida.
"Aku akan mengatakan semua ini pada Tuan besar! Kau akan dihukum berat sampai aku harus tertawa melihatnya,"
Plakkk! Satu tamparan lagi mendarat di pipi pelayan tersebut. Membuat pelayan tersebut pusing. Dia menatap mata Angel nanar namun tersadar saat tatapan dingin Angel menghujam wajahnya. Terlihat tenang dan kejam. Membuat hatinya perlahan bergetar dengan rasa takut yang mulai merayap.
"Sepertinya kau juga lupa siapa tuanmu! Sejak kapan Alexander Blanche menjadi Alexander Excel"
Satu kenyatan lagi membuat pelayan tersebut tersadar. Dia mundur tanpa sadar dan terhuyung. Namun matanya tetap menatap mata Angel yang tak berkedip menatapnya. Seakan memberinya pelajaran karena melupakan tuannya! Tubuhnya terus mundur hingga tanpa sadar terjatuh di tangga. Namun meski begitu, dia tak berani mengeluh karena rasa sakitnya.
"Jangan halangi jalanku! Menyingkir atau aku akan menyingkirkanmu dari sini!"
Pelayan tersebut tersadar lalu menepi. Dia menunduk takut dan tak berani bergerak. Membiarkan Angel melangkah ke lantai atas meninggalkan mereka. Saat melihat Angel benar-benar telah tak terlihat, dua temannya mendekat.
"Kau selamat hari ini. Lain kali, jangan membuat masalah dengan nona besar. Dia bukan nona yang dulu lagi. Nona Meida bahkan kalah darinya,"
Pelayan tersebut tak menjawab. Hanya menurut saat temannya membantunya berdiri dan pergi ke ruangan belakang. Di dalam perjalanan, dia mengingat semua peringatan Angel dan setiap tamparan keras yang mendarat di pipinya. Hal itu membuat jantungnya berdetak kencang dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Tatapan dingin itu, lalu setiap ekspresi kekejaman yang terlihat. Benar-benar bukan seperti Nona Angel yang pernah dia kenal sebelumnya.
Tidak, karakter itu terlihat jauh berbeda. Dia mengenal nona Angel yang dia layani. Tampak lemah dan penakut. Hingga mudah ditindas dan tak berani melakukan apapun. Bahkan tak satupun pelayan yang akan melakukan perintahnya. Tapi hari ini, dia seakan diingatkan. Bahwa Gadis itu adalah Nona Besar keluarga Excel. Nona besar dan tuan yang harus mereka layani. Nona besar yang berkuasa atas semua kekayaan keluarga Excel.
__ADS_1