
"Kau terlalu banyak bicara!" bentak Alex geram. Dia berusaha mendekat namun satu tangan Angel terangkat memberi peringatan.
"Berhenti! Jangan coba melangkah!"
Alex pun tak tinggal diam. Dia berusaha meraih rambut Angel dan menariknya. Namun dengan cepat tangan Angel terulur dan menahan tangan Alex pada rambutnya.
"Paman," panggil Angel pelan namun sangat dingin. Dia menatap dalam manik mata pamannya tanpa berkedip. "Bukankah aku sudah terlalu sabar? Hingga kau lupa dimana tempatmu!"
Dengan satu hentakan, tangan Alex terhempas. Angel masih menatap Pamannya tajam seakan memberi peringatan. Dia membenarkan rambutnya yang telah di pegang Alex dengan anggun. Dia adalah seorang artis sebelumnya, dia bisa menampilkan banyak emosi dan ekspresi. Dan di depan pamannya ini, dia tak perlu menahannya lagi. Dia akan terus melawan tanpa takut dan gemetar.
"Aku pasti bodoh karena pernah menandatangani sahamku menjadi milikmu. Tapi ingat, hal yang kumiliki bukan hanya perusahaan. Menurutmu, jika aku mendatangakan pengacara pribadiku, apakah kau masih bisa bertahan?"
Kilatan dingin di mata Alex terlintas. Berbalut keterkejutan dan rasa takut yang perlahan muncul. Dia tak tahu, bahwa keponakannya ini akan membahas hal tersebut. Suatu hal yang dia lalukan secara licik untuk memgambil alih semuanya. Dia juga tak tahu, sejak kapan keponakannya ini sangat cerdas hingga mampu memukulnya mundur.
"A-Angel, ka-kau-"
Angel tertawa sinis. "Kenapa? Bukankah sudah jelas? Siapa di antara kita yang pencuri?" tawanya mengejek. "Lalu, katakan, kenapa kau begitu kalut saat aku menghabiskan uangku sendiri? Uangku, bukan milikmu!"
Alex tak bisa menjawab dan bahkan Angel tak memberikan Alex kesempatan untuk menjawab. Dalam satu tarikan napas, suara Angel kembali terdengar.
"Bukankah kalian senang karena dapat menekanku sebelummya? Paman, ingatlah. Aku bukan Angel yang sama. Yang buta dan tak bisa melihat ketulusan seseorang. Sebelum fajar tiba, aku ingin kalian meninggalkan rumahku."
Angel berlalu dengan santai. Alex terlihat pias dan bingung. Matanya jelas melihat kesungguhan dalam setiap kata dan permintaan yang Angel katakan. Dia tak bisa berharap bahwa Angel telah berubah sedemikian cepat. Lalu kilasan semua hal yang di lakukan sejak Angel baru saja sadar terbayang. Dia tak bisa diam, dia berusaha mengejar.
__ADS_1
"Angel, Angel, Angel, dengarkan paman. Angel,"
Angel yang sudah menaiki tangga menoleh. Dia melihat Alex yang menyusul langkahnya menaiki tangga.
"Aku bisa pergi. Tapi tidak secepat itu. Berikan aku waktu. Lagi pula kau akan segera bertunangan. Itu hanya masalah waktu." terang Alex mengingatkan sesuatu. Tentu saja dia tak akan keluar dari rumah utama ini dengan mudah.
Angel mengerutkan keningnya saat kata 'bertunangan' itu disebutkan. Hatinya mengigil karena kebencian. Dia menggeleng pelan. "Dua hari. Dan tak akan ada pesta pertunangan. Aku tak butuh dia."
Alex membelalakkan matanya. Dia tak mempercayai kata-kata Angel begitu saja. "Apa yang kau katakan? Pesta itu kau yang minta. Bahkan para dua keluarga telah berkumpul untuk menentukan tanggal. Dan itu jauh sebelum kau kecelakaan,"
Tatapan Angel tak bisa tenang. Dia mencoba menggali ingatan sang pemilik tubuh dan menatap Alex lama. Sudah bukan rahasia jika pamannya ini bekerja sama dengan kekasihnya. Jika Pamannya melakukan dengan licik, maka kekasihnya melakukan secara terbuka dengan menawarkan jasa untuk mengurusi semuanya. Dan dia sangat sadar, bahwa Angel sebelumnya sangat bodoh dan mendamba cinta.
Jika pamannya menginginkn perusahaan, maka kekasihnya telah mengambil jalan untuk mengambil seluruh aset yang dia miliki. Setelah berhasil menguasai semuanya, maka dia akan di tinggalkan dan dibuang. Lalu kekasihnya akan menikahi Meida dan seluruh harta keluarga Excel akan berada di tangan keduanya. Bukankah rencana itu telah tersusun matang? Tapi dia akan menghancurkannya!
Dengan itu Alex berlalu meninggalkan Angel dan naik ke tangga berikutnya lebih dulu. Hal itu membuat Angel tersenyum miris. Orang-orang ini tak akan membiarkan dia mengambil semua langkah dengan tenang. Tapi tak apa, dia memiliki banyak cara untuk merusak semuanya.
***
Sementara itu, di kota D, Los Angeles. Seorang pria tengah menunduk menahan frustasi yang dia rasakan. Dia hanya bisa melirik tuannya pelan.
"Tuan, para tetua menginginkan kau untuk segera menikah."
Itu adalah ucapan yang sama dan yang ketiga kalinya dia ucapkan dalam waktu kurang lebih dari sepuluh menit. Tapi orang yang tengah duduk menikamati wine di tangannya itu terlihat acuh tak acuh dan tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk membujuk tuan muda?" tanyanya dalam hati.
Melihat tuan mudanya yang tak merespon dia berkata lagi. "Lalu para tetua juga ingin tuan kembali ke Alaska,"
Hening! Tak ada tanggapan ataupun respon. Hanya terdengar dentingan gelas wine yang telah habis dan di letakkan di atas meja. Suara ringan selanjutnya terdengar. Tubuh atletis itu berputar dan menatap orang yang telah berbicara untuk mengganggu waktu tenangnya.
"Itu yang dikatakan kakek?" tanyanya dingin. Mata coklatnya jelas terlihat lembut dan tawa jenaka terdengar. Membuat suasana yang sepi sedikit terpecahkan. Tapi itu jelas tidaklah bagus. Itu berarti berita itu membuat suasana hatinya sedang buruk. "Carlen, apakah kau lupa mengatakan? Bahwa aku lumpuh! Dan tak bisa pergi kemana pun! Dengan kondisiku yang seperti ini, sipa wanita yang akan rela menikahiku?"
Mendengar namanya disebut, Carlen memejamkan mata frustasi sekali lagi. "Tuan Axenio, kau sudah mengunakan alasan ini dari lima tahun yang lalu untuk tidak kembali ke Alaska. Dan hal itu membuat para tetua tidak senang."
"Kenapa?" tanya Axenio dingin. "Bukankah bisnis berjalan lancar? Aku memberikan semua hal yang mereka inginkan. Perusahaan menjadi besar hingga memiliki anak cabang di seluruh dunia. Lalu aku sudah membuat mereka kaya berkali kali lipat dengan meninggalkan hatiku dan kesepianku. Tidakkah kau berpikir bahwa mereka meminta terlalu banyak? Menurutmu, berapa lama mereka bisa menekanku?"
"Tuan," panggil Carlen merasa bersalah.
"Tidakkah kau pikir, bahwa mereka meminta terlalu banyak?" ulang Axenio mengatakan pertanyaan yang sama.
"Tuan, mereka hanya ingin kau menikah dan hidup sedikit lebih santai lalu bahagia, oke? Dan ini permintaan yang sama dari lima tahun lalu."
Kilatan luka terlintas di mata Axenio. Bayangan tangisan ibunya terbayang dan itu merengut seluruh hatinya. Sudah bukan rahasia bahwa dia menjadi pria yang sangat dingin sejak kematian ibunya. Ingatan lama jelas telah terkubur dalam tapi hari ini semua kembali tergali dan meninggalkan luka yang dalam di hatinya. Rasanya semua luka itu baru saja terjadi dan membuat luka di hatinya kembali menganga.
"Begitukah?" tanya Axenio dingin. "Mereka hanya ingin aku kembali dan menikah?"
Carlen mengangguk pelan. Terlihat pasrah dan tak memiliki kekuatan untuk membantah. "Itu benar tuan."
__ADS_1
Senyum tipis di bibir Axenio terukir. "Lalu apa yang kau keluhkan? Cari wanita acak dan aku akan menikahinya!"