Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Lalu apa? Batalkan saja pertunangan kita.


__ADS_3

Angel mengingat momen haru saat keluarga pamannya terkejut melihat kehadiran Neandro di rumah kecil mereka. Keluarga itu tampak bahagia. Dan dia hanya bisa melihat semua itu dari balik kaca mobilnya. Memang  dia sengaja tidak turun dengan alasan ada banyak hal yang harus dia urus.


Tapi dia tak menyangka, bahwa pada akhirnya dia akan pulang ke rumah. Dan lagi-lagi di kejutkan saat ada beberapa mobil di halaman rumahnya. Rumahnya itu juga tampak sedikit ramai. Bertanya-tanya, dia mulai melangkah. Dan entah kenapa dia memilih jalan pintu kebelakang dan bukan pintu utama.


Samar, dalam perjalanan melewati taman bagian belakang, dia mendengar suara rengekan yang manja. Hal itu membuatnya memperlambat langkah dengan mengendap dan mencuri dengar. Itu terdengar sangat manja, penuh luka dan kesakitan.


Apa yang terjadi! Pikirnya.


"Apakah sakit?"


"Sayang, kau harus memberinya pelajaran saat bertemu nanti. Hidungku benar-benar patah karenanya."


Angel semakin mengendap saat suara itu kian jelas terdengar. Pada akhirnya matanya mendapati sebuah pemandangan yang indah. Di sebuah bangku dekat taman, dia bisa melihat Meida tengah menangis manja di depan seorang pria. Dan pria itu dengan sangat hati-hati mengusap pundak Meida. Tatapan Angel mendingin, saat tahu bahwa pria itu adalah Edsel! Kekasihnya dan calon tunangannya.


"Sayang," rengek Meida manja. "Apa kau benar-benar belum bertemu dengannya?"


Satu sudut mulut Angel terangkat, dia berdiri tenang dan sedikit penasaran dengan jawaban Edsel. Mereka baru bertemu pagi ini di kampus. Dan dia ingin tahu, apakah Edsel akan sejujur itu pada Meida


Namun mengejutkan. Edsel menggeleng pelan. "Aku belum bertemu dengannya."


Meida bernapas lega. Sebenarnya dia sedikit khawatir karena perubahan Angel sangat banyak akhir-akhir ini. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya khawatir. "Itu, kurasa dia sedikit berbeda. Angel terlihat sedikit berbeda,"


Edsel yang mendengar itu setuju, tapi dia tidak akan mengucapkannya. "Apa maksudmu?"


"Kau akan bertemu dengannya. Dia berubah. Menjadi sedikit cantik,"


"Benarkah?" tanya Edsel santai.  "Lalu kenapa jika dia berubah? Aku tetap mencintaimu. Tak peduli, seberapa berubahnya dia, dia tak akan secantik dirimu. Dia tak akan berguna tanpa harta yang dimilikinya."

__ADS_1


Mendengar sanjungan itu, kedua pipi Meida bersemu merah. Dia menunduk malu dan bersandar dalam dada Edsel. "Apakah kalian akan benar-benar bertunangan?"


Edsel mengelus rambut Meida lembut. "Sayang, aku harus melakukan itu untuk semua rencana kita. Kau bisa tenang, setelah menikahinya maka aku juga akan tak akan segan."


"Tetap saja, aku cemburu."


"Kita harus bertahan untuk rencana kita," ujar Edsel memberi harapan.


Meida mengangguk mengerti. Rencana mereka tak boleh gagal. Semua harusnya berjalan lancar. Tapi akhir-akhir ini dia menjadi sedikit khawatir melihat perubahan Angel.


"Apakah pertemuan keluarga sudah mulai?" tanya Meida tiba-tiba, mengingat sesuatu.


Edsel melihat jam di pergelangan tangannya. "Ini baru setengah delapan. Kurasa sebentar lagi akan mulai. Apakah Angel sudah pulang?"


Meida menaikkan bahunya tanda tak mengerti. "Aku berharap dia tak pulang. Pertemuan keluarga itu, harusnya aku yang ada di sana. Dan itu menjadi urusan kita karena kita saling mencintai."


Tatapan Meida penuh iri saat mengingat tujuan pertemuan keluarga hari ini. Tentu saja, ini tentang pesta pertunangan antara Edsel dan Angel yang akan di laksanakan. Hatinya tak bisa terima saat harus melihat Edsel, pria yang dia cintai, akan bertunangan dengan sepupunya sendiri.


Sedangkan di tempat tersembunyi,  Angel masih berdiri dan tersenyum tipis mendengar semuanya. Jadi pria itu, Edsel, juga tak akan jujur pada Meida bahwa telah bertemu dengannya? Lalu pertemuan keluarga? Kenapa dia baru tahu ini, hari ini.


Dia melangkah tanpa menahan kakinya hingga derap langkahnya sudah pasti akan terdengar. Dia sengaja mengabaikan Meida dan Edsel yang tergagap karena terkejut akan kehadirannya. Tapi baginya, itu sangat bagus. Dia sorang artis sebelumnya. Dan akan sangat bodoh jika dia tak menggunakan semua hal yang dia dengar untuk membatalkan rencana mereka.


"A-a-angel," ujar Edsel terbata. Dia dengan keras mendorong tubuh Meida dari pekukannya hingga gadis itu terhuyung ke belakang beberapa saat.


Tatapan terkejut juga datang dari Meida. Dia menyeimbangkan tubuhnya dan merapikan sedikit gaunnya. Tersenyum lembut dan menyapa Angel ringan. "Sepupu, kau sudah pulang? Aku tak tahu kau akan lewat sini. Biasanya kau--"


"Apakah aku juga butuh ijinmu untuk lewat sini?" potong Angel dingin. Matanya menatap Meida tajam dan wajahnya berubah dengan ekspresi penuh luka. Seakan akan dia telah di aniaya. "Aku mendengar semuanya. Kalian, kalian--"

__ADS_1


"Angel," potong Edsel cepat. Dia bergerak mendekati Angel namun gadis itu mundur dan menjauh.


"Edsel, aku melihat semua." ujar Angel lirih. Wajahnya tampak pucat dan kesedihan. Seakan akan dia benar-benar tersakiti. "Aku melihat kalian berpelukan. Dan, dan," ujarnya sengaja tak di lanjutkan. Tubuhnya alami bergetar, seakan dia terguncang hebat dengan hal yang tak bisa dia terima.


"Angel, itu tak seperti yang kau lihat," sanggah Edsel meraih jemari Angel. "Aku bisa menjelaskan. Aku bisa menjelaskan semuanya."


"Sepupu, Edsel benar. Kau pasti salah," ujar Meida mendukung Edsel. "Kami hanya mengobrol ringan."


Meida pikir itu akan membantu, tapi dia tak akan menyangka bahwa itu akan jadi jalan untuk Angel. Angel menatap Meida lama, senyum tipis muncul di bibirnya sesaat. Hanya sesaat dan itu kembali tergantikan oleh tatapan penuh luka.


"Meida," panggil Angel cukup keras. Tangannya menghempaskan tangan Edsel, dan dia menjauh dari Edsel. Tatapannya mengunci Meida lalu Edsel secara bergantian. "Apa maksudmu? Apakah kalian pikir aku sangat bodoh dan mudah dibohongi? Kalian jelas berselingkuh di belakangku!"


"Angel,"


"Angel,"


Seru Meida dan Edsel secara bersamaan. Keduanya terlihat panik saat air mata Angel turun dan tak tertahankan. Gadis itu bahkan menunduk dan mencoba menghapus air matanya. Tubuh kurusnya tampak bergetar dan kesakitan. Dia terihat rapuh dan bisa saja hancur dalam satu sentuhan.


"Angel," panggil Edsel lembut. "Dengarkan aku, ini tak seperti itu. Sayang aku benar-benar ... kami tidak seperti itu." ujarnya sangat bingung.


Tak ada yang tahu, bahwa Angel yang menunduk tengah tersenyum dan menghapus air matanya. Dia mendongak dengan ekspresi sedih yang tak dapat dilukiskan. Menatap Edsel, dia berujar lantang.


"Edsel, mari kita batalkan semuanya. Aku tak ingin menikah denganmu. Bukankah pagi ini sudah aku katakan? Aku ingin berakhir!"


Mendengar itu Meida terbelalak. Kata 'tadi pagi' memperjelas semuanya. Bahwa Edsel telah betemu


Angel sebelumnya. Dan pria itu membohonginya. Dia tak bisa menahan ekspresi gelapnya saat Edsel sama sekali tak merasa bersalah karena telah membohonginya. Lalu saat dia melihat Edsel bergerak mencoba memeluk Angel, hatinya memanas. Dia tak bisa menahan semuanya saat mendengar semua kata-kata Edsel yang terucap. Rasanya, dia ingin melenyapkan Angel saat ini juga.

__ADS_1


"Angel, itu tak bisa. Keluarga kita telah bertemu sekarang. Dan itu untuk memutuskan hari kita bertunangan. Berhenti bercanda. Aku benar-benar tak memiliki hubungan apapun dengan Meida," Edsel memeluk Angel perlahan tapi kemudian kembali di dorong oleh Angel. Gadis itu menatapnya penuh luka.


"Lalu apa?" tanya Angel lirih. "Itu semua tak merubah keputusanku. Edsel, batalkan saja pertunangan kita."


__ADS_2