Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Kedatangan Arsen yang tiba-tiba.


__ADS_3

Itu Arsen! Yang baru saja datang dan tertegun saat melihat sosok cantik keluar dari kantor polisi. Dia turun dari mobil dan melihat mobil sport merah yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Melangkah, dia bisa melihat gadis berkulit putih itu tengah melangkah lambat seperti menunggu seseorang.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanyanya pelan pada diri sendiri.


Angel baru saja melangkah keluar dari kantor polisi. Langkahnya sengaja lambat karena menunggu Neandro keluar. Di tengah suasana sore yang sejuk di kota Alaska, dengan pemandangan langit yang mulai meredup, kulitnya terlihat putih dan itu menciptakan pemandangan yang indah.


Menunggu, dia bersandar di dinding kantor dan menunduk. Memainkan kakinya dengan mengayun dan mengais lantai di bawah kakinya. Seakan ada sesuatu yang akan dia dapatkan dari sana. Dalam pikirannya, dia tidak bisa untuk tidak lega. Dan dia akan membawa Neandro pulang ke rumah Pamannya. Lalu melihat, keluarga kecil itu akan bahagia.


Tanpa terasa senyum di bibirnya terukir. Jika dia tahu bisa berbuat banyak di masa lalu untuk menyenangkan orang tua dan keluarganya, maka dia akan melakukannya tanpa menunggu. Tapi nyatanya dia terjerat dalam dunia yang dia pikir selalu baik padanya. Cinta yang dia pikir akan membuatnya bahagia, ternyata membuatnya menemui neraka dunia. Benar-benar miris.


"Ibu, apakah kau hidup dengan baik?" ujarnya sangat lirih. Jelas sebagai Xin Narra dia merindukan kedua orangtuanya.


Dia sangat ingat, raut kecewa ayah dan ibunya. Lalu tamparan yang dia terima. Itu terasa baru terjadi beberapa hari yang lalu, dan dia tak bisa menahan rasa menyesal yang tumbuh dalam. Bahkan tak bisa percaya bahwa semua telah usai. Dia mati, dan pemilik tubuh ini juga mati. Hanya saja, dia tak sepenuhnya mati. Melainkan di lahirkan kembali untuk menjadi Angel.


"Angel,"


Angel menautkan kedua alisnya saat suara asing terdengar. Dia mendongak pelan lalu menatap lurus ke samping.


"Hal baik, aku tak salah mengenali orang," ujar Arsen dingin. Dia bisa melihat raut keterkejutan di mata hitam yang berbinar. Itu sangat pekat dan indah saat tampak serasi dengan kulit yang putih pucat.


"Ar-sen," ujar Angel tertegun. Dia tak menyangka akan bertemu dengan pria dingin ini di kantor polisi.


Begitupun dengan Arsen. Dia melihat raut bingung di wajah Angel dan tak bisa tak memperhatikan. Jelas, gadis di hadapannya ini adalah gadis yang membosankan satu hari lalu. Dan sekarang, gadis ini menjelma menjadi peri cantik yang suka menyendiri.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Apa yang kau lakukan disini?"


Tanya mereka bersamaan. Lalu keduanya kembali diam. Jelas terlihat, ada suasana canggung di antara mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan disini?" ulang Arsen pelan mengulang pertanyaannya yang sama.

__ADS_1


Angel menoleh ke pintu kantor polisi dan menaikkan dua pundaknya. "Menunggu seseorang."


Lalu kilatan dingin terpancar di mata Arsen. Jawaban Angel tidaklah baik di matanya. Ini adalah kantor polisi dan gadis ini menunggu seseorang. Bukankah itu bukan kabar yang baik? "Apa kau membuat ulah?" pikirnya merujuk pada kebiasaan Angel yang ceroboh.


Angel kembali mengerutkan keningnya. Dia menatap Arsen tak mengerti. "Apa maksudmu?"


Arsen tak menjawab, di matanya  gadis ini jelas ceroboh dan pembuat ulah. Dia tak akan repot untuk dekat atau mengenal gadis di depannya jika ayahnya tak memerintahnya kemarin.


"Aku tidak," ucap Angel lagi memperjelas. Melihat Arsen yang diam, dia tahu, bahwa di mata pria ini dia sangat buruk. "Kau, sendiri, kenapa ada disini?"


"Aku pengacara," jawab Arsen lugas.  Tanpa menjelaskan bahwa dia disini untuk suatu urusan.


"Oh," ucap Angel tak tertarik. Dia baru tahu bahwa Arsen juga seorang pengacara. Tapi entah kenapa dia sama sekali tak berminat untuk mengetahui lebih banyak.


"Angel," panggil Neandro tiba-tiba. Dia sudah berpakaian rapi. Dan ternyata itu adalah set pakaian yang di belikan Angel untuknya. Setelah mencoba pakaian yang pertama kali ia gunakan saat di tahan tak lagi cocok untuk tubuhnya. Dia memutuskan menerima pakaian yang Angel tinggalkan melalui seorang polisi. Pakaian itu sangat santai. Hanya celana  jeans pendek selutut dengan kaos oblong hitam sebagai atasannya. Membuatnya terlihat sedikit tampan dan santai.


Angel dan Arsen menoleh secara bersamaan. Angel tersenyum dan tanpa kata meninggalkan Arsen begitu saja. Sedangkan Arsen, tatapannya menyipit saat melihat wajah asing yang menatapnya tegas. Seakan tak menyukai kehadirannya dan tengah memperingatkannya dengan kata-kata seperti ini.


Jangan mendekati gadisku atau berbicara padanya!


"Apa ini? Apa dia memiliki kekasih lain?" tanyanya lebih seperti pernyataan. Lalu tatapan jijik seakan melintas di matanya. Dia tak menyangka bahwa gadis polos itu punya nyali untuk menjadi wanita yang murah.


Selama Angel berjalan, tatapan Neandro tak lepas dari Arsen. Dia memutuskan pandangannya saat suara ringan sepupunya itu terdengar.


"Terlihat bagus saat kau pakai,"


Neandro tahu itu merujuk pada pakaian yang ia gunakan. " Seleramu tak buruk," ujarnya memberi pembalasan.


"Ayo pulang, paman akan sangat terkejut melihat kau pulang,"


Angel memimpin jalan dan membiarkan Neandro mengikutinya. Dia tak tahu bahwa saat ini Neandro memperhatikannya. Pria itu jelas,  sekali lagi menilai pemampilannya dan menggeleng.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar sepupuku?" tanyanya kemudian tanpa sadar.


Angel terlihat tak tertarik pada pertanyaan Neandro. "Apa kau benar-benar berharap aku mati?"


Neandro tertawa kecil. Tidak, dia baru tahu bahwa sepupunya ini kini begitu pandai dalam berkata kata. Tapi dia kemudian tertegun saat melihat mobil sport merah ada di depannya dan sepupunya itu telah masuk ke dalam mobil.


"Kau tak naik? Aku bisa meninggalkanmu jika kau ingin," tegur Angel.


Neandro diam. Tapi dia melangkah dan memasuki mobil. Duduk di samping Angel dan mobil itu melaju halus.


"Mobil baru?"


Angel mengangguk. "Mobil lamaku hancur saat kecelakaan."


Neandro tak menjawab dan kian tertegun. Dia tak tahu bahwa pilihan mobil sepupunya juga berubah. Dia tahu, bahwa mobil yang dia naiki ini tidaklah murah. Harganya hampir dua juta dolar. Dan gadis di sampingnya ini membeli seakan itu bukan masalah besar.


***


Sedangkan itu, di Ted Stevens Anchorage itu terlihat sangat ramai. Di Bandara internasional Alaska ini seorang pria dengan pakaian santai tengah berjalan menikmati kesendiriannya. Mata coklatnya menyapu setiap sisi bandara dan langkahnya kian terlihat ringan.


Dia adalah Axenio. Jelas, kedatangannya yang tiba-tiba tanpa perencanaan ini membuat bawahannya tak menyadari kedatangannya. Namun itu adalah hal yang dia butuhkan. Dia menghentikan sebuah taxi dan langsung menuju salah satu apartemen miliknya. Tepat saat dia memasuki apartemennya, telepon genggamnya berbunyi. Tanpa banyak berpikir, dia sudah tahu bahwa itu adalah bawahannya.


"Tuan, para tetua ingin kau segera pulang ke Alaska,"


Axenio melemparkan handphonenya ke sebuah sofa. Dia berujar pelan. "Katakan aku akan pulang tiga bulan lagi."


"Tapi Tuan," ujar bawahannya keberatan.


"Aku lumpuh!" tekannya dingin. Jelas, itu sebuah kebohongan hanya untuk menghindari kakek dan neneknya. "Lalu, bagaimana dengan calon istriku? Kau sudah menemukannya?"


"Tuan, kurasa itu sedikit-"

__ADS_1


"Sejak kapan kau bisa memberikan pendapatmu?" tanya Axenio kian dingin.


"Aku mengerti tuan," ujar suara di ujung sana terdengar putus asa.


__ADS_2