Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Aku tak akan melepaskanmu!


__ADS_3

"Angel! Angel,"


Edsel mengejar Angel yang mundur dan mulai berjalan meninggalkannya. Namun saat ini Meida tiba-tiba menahan tangannya.


"Edsel, kau membohongiku!"


Edsel menoleh dan menatap Meida sesaat. Dia tanpa sadar menghentakkan tangan Meida yang memegang erat tangannya. "Aku tak mengerti apa maksudmu,"


"Kau mengatakan bahwa belum bertemu dengannya. Tapi Angel bilang-"


"Apakah itu penting?" potong Edsel memburu. Tatapannya terasa panas karena dia terlalu panik. "Kita ketahuan. Hubungan kita sudah terbongkar."


"Lalu kenapa?" tanya Meida dengan nada yang sama. "Kenapa jika dia tahu? Kita saling mencintai. Tidak bisakah kau meninggalkannya saja? Kita sudah memiliki beberapa dari miliknya,"


"Kau gila!" maki Edsel sambil melangkah dan tak menghiraukan kata-kata Meida yang terucap. Hal itu membuat Meida geram dan mengejar Edsel. Keduanya memasuki rumah secara bersamaan. Dan mereka semua tertegun saat melihat Angel sudah berada di pertemuan keluarga.


Beberapa menit lalu Angel melangkah memasuki rumah. Dia berjalan dan tak peduli pada orang di belakangnya atau pun di sekitarnya. Dia hanya ingin mandi dan tidur. Hari ini sangat melelahkan baginya. Dia bahkan belum makan malam tapi rasanya dua hama yang baru saja dia temui di taman belakang rumahnya sangat mengganggu. Tapi saat dia hendak menaiki tangga, langkah kakinya tertahan saat Alex memanggil namanya.


Dia mendekat dan berdiri tenang melihat beberapa orang asing yang menatapnya. Hal yang dia sadari bahwa beberapa orang yang duduk di bangku itu adalah orang tua Edsel dan saudara lainnya. Dia menunduk sesaat sebagai salam kesopanan. Tapi Alex menarik tanganya untuk duduk di antara mereka semua.


"Angel," panggil Alex lembut. Hal itu jelas membuat Angel merinding kareba Alex tak pernah memperlakukannya seperti ini. "Pertemuan keluarga kali ini adalah untuk menentukan hari pertunangan kalian,"


Angel tersenyum tipis. Matanya menyipit, dengan ekspresi yang datar. Dia melirik semua orang secara bergantian dan berkata, "Paman, itu tidak mungkin. Aku dan Edsel telah berakhir," suaranya lembut dan bermatabat. Tak ada raut kecewa di wajahnya. Hanya ketenangan dan tatapan muak yang sesekali terlintas.


Keterusterangan itu langsung memecahkan suasana. Mereka semua saling berbisik tak mengerti. Lalu semua mata menatap Angel tajam. Terlebih Alex.


"Angel, apa yang kau katakan?" tanya Alex dingin. "Jangan bercanda, ini bukan waktunya."


Tatapan Angel beralih pada Alex, "Paman, apa di matamu aku seperti anak kecil yang mudah kau kendalikan? Dan pertemuan ini, kenapa tak ada yang mengabariku sebelumnya? Apakah paman lupa? Aku adalah pemilik keluarga Excel!" Alih-alih menjawab, Angel lebih suka mempertegas posisinya.


"Angel," tegas Alex tak suka. Jelas ini membuatnya terlihat buruk di hadapan para keluarga Clovis. Seakan akan dia bukanlah siapapun yang berhak atas keluarga Excel. "Bukankah aku Walimu? Apakah aku tak berhak mengatur kebahagiaanmu?"

__ADS_1


Kata-kata itu cukup jelas meski tidak keras. Seakan akan Alex terluka pada kata-kata keponakannya. Hal itu menekankan bahwa Angel selalu membantah dan bersikap buruk padanya secara tidak langsung. Dengan ini dia juga menjatuhkan citra Angel di mata keluarga Clovis.


Mendengar itu, Angel tertawa kecil. Membuat semua orang menatapnya tak mengerti. Tatapannya menyapu semua mata dengan geli. Dia tak menyangka bahwa pamannya akan  bertindak sehalus ini untuk memperburuk dirinya dan menghancurkan citranya. Dia tidaklah bodoh. Semua orang tak akan percaya bahwa dia adalah pewaris keluarga Excel karena tak pernah muncul dalam pertemuam penting. Itu semua karena Meida telah mengatur semuanya agar dia sibuk dengan sendirinya lalu Meida mengambil alih tempatnya.


"Paman, tidakkah kau tahu?" tanya Angel mengejek. "Edsel dan Meida adalah kekasih yang saling mencintai. Mereka menikamku dari belakang. Lalu, apakah aku harus menikah dengan pacar sepupuku? Aku tidak seburuk itu,"


Dan setelah kata-kata itu jatuh, keributan terdengar. Hal itu seakan rahasia besar dan Angel baru saja membukanya. Namun Angel tahu, bahwa semua hanyalah sandiwara. Dia sangat ingat, bahwa semua rencana Edsel, keluarga Clovis juga mengetahui.


"Angel, itu tidak mungkin," sela Alex dengan raut terkejut. Wajahnya terlihat bingung dan tampak malu di depan keluarga Clovis. Angel bahkan mengamati itu semua. Dan itu sangat natural.


Dia bukan artis yang buruk. Tapi dia lupa, bahwa aku adalah Xin Narra! Ejeknya dalam hati. Tatapan tenangnya menyapu semua mata sekali lagi. Dia duduk bersandar dengan santai lalu berkata, "Lalu apa?" tanyanya lagi. "Itu tak merubah fakta bahwa aku dihianati. Biarkan mereka menikah. Dan aku akan menyiapkan pestanya,"


"Itu bohong!"


Tiba-tiba Edsel yang baru saja masuk berteriak cukup keras. Tak lama kemudian Meida mengikuti dan berdiri di samping Angel.


"Sepupu, aku tak mengerti. Kenapa kau menuduh kami. Bukankah sudah aku jelaskan, kami tak memiliki hubungan." jelas Meida anggun. Suaranya tampak jernih dan lembut. Seperti akan melunakkan siapa saja yang mendengarnya.


Bertindak sangat lembut dan memperjelas semua dengan menyalahkan Angel secara tidak langsung. Edsel telah mengatur plot agar semua terlihat bahwa Angel hanya tengah marah dan semua hal yang Angel katakan tidaklah benar.


"Kenapa tidak?" tanya Angel dingin. Matanya menatap Edsel dengan menantang. "Kita telah berakhir,"


Edsel tertawa. "Angel, kau aneh sejak mengalami kecelakaan. Apakah kau sakit? Ayo, aku akan mengantarkanmu untuk periksa,"


Edsel menggengam tangan Angel dan menariknya. Namun Angel sama sekali tak melangkah. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Edsel dengan kasar.


"Hentikan!" ucap Angel dingin. Matanya menyapu pintu rumah sesekali. Ini semua sudah cukup. Semua orang memperlakukannya dengan tidak adil dan berpikir bahwa dia bodoh. Tapi dia mulai lelah. Dia tak akan bertahan untuk menanggung emosinya yang akan meledak.


"Dan keluar. Keluar dari rumahku sekarang juga!" lanjut Angel tegas dengan sedikit berteriak.


Semua tertegun saat perintah Angel terdengar tegas. Itu sangat serius dan tak ada tanda-tanda kelucuan di sana.

__ADS_1


"Angel," seru Meida, Alex dan Edsel bersamaan.


"Keluar," ucap Angel sekali lagi. Tangannya menunjuk pintu dengan tatapan dingin. "Aku ingin kalian semua keluar dari rumahku! Karena tak akan ada pertunangan apa lagi pernikahan!"


Tatapan kecewa dari keluarga Clovis terdengar. Mereka melangkah dengan marah dan tatapan jijik yang tertuju pada Angel.


"Aku tak tahu bahwa calon Nona Muda yang telah di pilih Edsel sangat buruk,"


"Sombong dan tak tahu sopan santun!"


"Apakah dia pikir bisa main-main dengan keluarga Clovis? Mari kita tunggu,  hal apa yang akan terjadi selanjutnya."


"Aku tak akan memanggilnya sepupu meski dia menikah dengan Edsel. Benar-benar buruk!"


Cacian itu jelas terdengar saat para kelurha Clovis meninggalkan rumah utama keluarga Excel. Saat semua telah pergi, kini hanya bersisa Alex, Meida dan Edsel. Mereka semua jelas, menatap Angel murka. Tak ada lagi sandiwara di sana. Kini semua kembali pada warna mereka sendiri.


"Kau puas?" tanya Alex dingin. Lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipi Angel. Itu sangat cepat dan Angel tak sempat menghindar. "Aku terlalu bersabar padamu akhir-akhir ini. Tapi kau semakin tak tahu diri! Apa kau pikir, aku takut padamu? Sadari tempatmu dan jadilah baik! Aku ingin kau tetap bertunangan dengan Edsel,"


Setelah itu Alex pergi. Meninggalkan Angel yang masih memegang pipinya yang panas.


Melihat ayahnya menampar Angel, Meida sangat senang. Dia segera mendekati Angel dengan tangan bersedekap di dada. "Jangan coba memanjat ke tempat yang lebih tinggi. Ikuti saja permintaan itu, lalu kau akan bahagia. Bukankah itu tak sulit?"


Angel tersenyum tipis, mengangkat kepalanya untuk bertemu dengan Meida. Tapi itu salah. Yang dia tatap saat ini adalah Edsel. Dia tak tahu Edsel telah mendekat dan mencengkram dagunya. Mengarahkan wajahnya untuk menatap Edsel lurus. Jelas, dia mendengar ancaman dari bibir Edsel.


"Jadilah baik dan jangan bertingkah. Kau tahu aku tak suka direpotkan. Dan jangan pernah berani untuk mengatakan kita berakhir! Aku tak akan melepaskanmu semudah itu,"


Angel berusaha bergerak mundur tapi tak bisa. Matanya menatap panas saat rahangnya terasa kian menyakitkan karena cengkeraman Edsel kian kuat. Namun dia tak akan tunduk semudah itu. Tidak, dia tak akan masuk dalam neraka yang akan menghancurkan hidupnya.


***


Satu part lagi akan meluncur agak sore. Pembacaku yang tersayang, mohon sedekahkan vote, like dan bintang 5 di samping deskripsi cover. 1 vote saja sudah berarti. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2