
Arsen tertegun untuk beberapa waktu dan masih tak bisa berpikir secara normal. Tidak, dia terlalu terkejut pada hal yang dia terima dan dengar. Tak menyadari bahwa sosok Angel telah pergi, dia masih duduk di posisi yang sama dan terlihat linglung. Entah kenapa rasa jemari Angel masih terasa di atas kulitnya. Dan kerlapan penuh cinta dengan tatapan memuja, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena waktu yang tak berputar.
"Arsen, aku mengalami kesulitan,"
Lagi, kata-kata sedih putus asa itu mengoyak hatinya. Tatapan penuh luka dengan mata berbinar seakan dia adalah satu-satunya orang yang bisa di harapkan, membuat sudut hatinya tergerak untuk mengasihi. Namun semu itu kian menjadi seperti mimpi saat kata-kata lainnya mengikuti.
"Arsen, maukah kau menikah denganku."
Dan saat itu juga telinganya seakan mampu mendengar jeritan hatinya. Dia bisa merasakan aroma napas Angel yang terlalu dekat dengan wajahnya. Lalu pada bibir merah yang menggoda. Seakan itu menuntutnya untuk mengatakan 'iya' pada setiap permintaam yang gadis itu pinta.
Tanpa sadar, tangan Arsen bergerak meraba jantungnya. Itu masih berdetak normal jadi dia menarik napas sekali lagi dan menghembuskan. Saat ini pikirannya sudah jauh lebih tenang. Namun entah kenapa dia masih tak percaya pada lamaran yang dia terima.
Gadis lugu itu berubah menjadi wanita centil dalam hitungan menit. Menggodanya lalu memintanya untuk menikahinya. Setelah mengatakan hal-hal yang membuat jiwa lelakinya tertarik keluar. Tiba-tiba raut tanpa emosi itu dia lihat sekali lagi. dan kata-kata menyebalkan pun mengikiti.
"Jika aku mau, aku bisa membelimu!"
"Apakah kau tahu bar terbaik di negeri ini? Bar yang sering di datangi oleh pria keren,"
Saat kata-kata itu terngiang, Ekspresinya berubah gelap. Rasa jijik itu muncul di hatinya. Gadis itu sangat sombong dan seakan akan bisa membelinya. Lalu setelah itu ekspresinya berubah dan memintanya untuk menikahinya. Gadis itu apakah benar-benar waras? Bisakah dia berpikir sedikit normal? Kenapa dia sangat ceroboh dan terlihat murah? Benar-benar menyebalkan!
__ADS_1
Namun entah kenapa di merasa aneh. Seakan semua tidaklah benar. Arsen mengerutkan matanya lalu mencoba menghubungkan semuanya. Matanya melebar setelahnya saat mengingat Angel pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya dan lamaran yang bahkan belum dia berikan jawaban.
"Sial!" makinya tanpa terasa. Dia meremas rambutnya dan kian melonggarkan dasinya. Berdiri lalu berlari menuju pintu. Namun nyatanya mobil sport merah itu telah pergi dari rumahnya.
"Dia, tidak bebar-benar pergi ke bar kan?" gumamnya tanpa sadar.
Dia berbalik memasuki rumah dan tersadar. "Tunggu, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku harus peduli tentangnya. Benar biarkan saja dia. Dan ayo beri tahu Edsel, agar kekasihnya menemukannya."
Arsen menarik jas nya lalu melangkah ke lantai atas. Dia membersihkan dirinya lalu duduk dengan tenang. Namun entah kenapa, wajah sedih Angel dan permintaan itu selalu terbayang. Membuat hatinya resah hingga akhirnya dia bangkit dan menukar pakaiannya. Melangkah turun dan mulai mengendarai mobilnya.
"Benar-benar merepotkan," gerutunya tanpa sadar.
Sementara itu Angel tengah mengendarai mobilnya setelah pulang dari rumah Adrian. Dia tak bisa tak bahagia saat menyadari kebodohannya. Benar, sudah berapa lama dia sadar dan terbangun di tubuh asing? Dan dia melupakan bahwa terkadang semua informasi yang dia butuhkan bisa dia dapatkan dengan mudah.
Hanya saja, dia tak terbiasa. Atau mungkin sangat terbiasa dengan jadwalnya yang padat hingga tak memiliki waktu untuk bermain telepon genggam. Dan itu dia bawa saat berada di tubuh Angel. Dia sudah membeli Handphone dari beberapa hari lalu. Membawanya ke dalam tas kemanapun dia berada tapi tak pernah sekalipun menggunakannya. Bukankah itu suatu kebodohan yang nyata?
Angel tertawa keras menyadari kebodohannya yang sangat sederhana. Sudut matanya bahkan hampir menangis karena terlalu bahagia. Mulutnya berkedut saat erangan muncul dari bibirnya. "Xin Narra, terkadang kau tak memakai kecerdasanmu dengan benar. Kau bahkan harus melamar seorang pria yang tak kau kenal dengan baik. Tapi untung saja, aku melihat handphonenya yang berada di saku celananya. Tanpa terasa dia benar-benar membantuku,"
Angel tersenyum geli sekali lagi. Dia mengingat hal yang telah dia lakukan dan ekspresi Arsen terbayang. Di menahan tawanya lalu berujar.
__ADS_1
"Benar, dia pasti kebingungan kan?"
Meski begitu dia tak mempedulikan. Dia menghentikan mobilnya sesaat lalu meraih handphonenya. Menyalakannya dan mulai berselancar. Hal utama yang dia lakukan adalah mencari bar terbaik di Alaska. Dan dia tertegun saat kata-kata Arsen sekali lagi terbayang.
"Kekasihmu selalu berada di Cupid Bar."
Angel menatap layar ponselnya sekali lagi dan tersenyum tipis saat informasi yang dia dapatkan sungguh sama. "Cupid Bar. Dia, sebenarnya sudah mengatakannya secara tidak langsung. Tapi ada apa dengan ekspresinya saat itu? Benar-benar menyebalkan!"
Angel meletakkan handphonenya dan kembali menyetir. Namun tiba-tiba tersadar saat ini dia mengunakan pakaian yang tak layak. Dari informasi yang dia dapat, Cupid Bar hanya menerima pelanggan kalangan kelas atas. Jika begitu, dia butuh pakaiannya yang layak untuk masuk ke dalam sana tanpa masalah.
Memahami hal itu dia memutar stir nya lalu kembali ke rumah. Melangkah ke lantai atas tanpa merasa aneh melihat rumahnya yang sepi. Dia membuka kamarnya dan langsung menuju pakaian koleksinya. Setelah menimbang, akhirnya dia mengambil sebuah gaun yang pernah Meida inginkan.
Angel mengenakan gaun berwarna merah dengan potongan kerah V yang sedikit rendah. Gaun itu terlihat biasa saja namun terkesan mewah dalam waktu yang sama. Di tubuhnya gaun itu terlihat lebih pas dan membentuk body tubuhnya dengan sempurna. Berjarak lima belas centi di atas lutut membuat kaki jenjangnya terekpos dengan indah. Dia tak menambahkan kalung dan lebih memilih sebuah gelang yang berwarna sama dengan dompet genggamnya. Dan semua di akhiri dengan sepatu hak tinggi sebelas centi meter yang berwarna hitam dengan taburan mutiara putih di setiap tepinya.
Angel berjalan menuju meja riasnya dan memulai merias wajahnya dengan ringan. Itu tak sulit baginya karena sebagai artis sebelumnya dia sudah terbiasa dengan make up. Menarik turun rambut di setiap sisi telinganya setelah dia mengikat tinggi rambut lainnya. Hal itu membuat lehernya terlihat lebih menawan dan serasi dengan gaunnya. Terakhir dia mengenakan lipstik berwarna baby pink yang membuat penampilannya terlihat lebih muda dan menawan.
Dia terlihat seperti bunga yang baru saja mekar. Menampilkan kecantikan yang alami dan segar. Merasa puas, dia akhirnya turun dan mulai melajukan mobilnya. Cupid Bar tidaklah jauh. Dia hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai di sana.
Dan saat dia telah sampai di ruang parkir bawah tanah Cupid Bar. Dia menatap wajahnya sekali di depan kaca mobilnya dan tersenyum tipis. "Benar, ayo cari pria keren dan buat hidupmu sedikit lebih mudah, Angel. Karena sebagai Xin Narra aku juga harus membalas Aaron yang terlalu lama hidup bahagia."
__ADS_1
Angel turun dan mulai berjalan menuju Bar setelah beberapa penjaga ber jas hitam dengan kaca mata hitam yang sama menyapanya. Setelah mengalami beberapa pemeriksaan ringan oleh penjaga, dia akhirnya bisa masuk ke dalam lift dan menuju lantai tiga. Tempat diman ruang utama Cupid Bar berada. Setelah keluar dari lift dia di periksa kembali karena penjaga tak mengenalinya sama sekali. Pemeriksaan itu tak sulit, dia hanya harus menyebutkan nama keluarganya, dan penjaga akan memeriksanya. Setelah informasinya keluar penjaga akan membiarkan mereka masuk. Dan disinilah dia saat ini. Di tengah hiruk pikuknya keramaian dengan wajah-wajah baru yang belum dia kenal.