
Edsel menyentakkan cengkeramannya dan menatap Angel tajam. Tak ada lagi raut lembut atau cinta yang biasa dia tunjukkan. Hanya rasa muak dan jijik yang terlintas secara bersamaan.
"Jadi, aku tak ingin mendengar kau mengoceh mengakhiri hubungan kita. Karena aku tak akan melepaskanmu sampai kapanpun!"
Angel terhuyung kebelakang saat cengkeraman itu terlepas. Seluruh rahangnya terasa sakit dan ngilu. Tangannya tanpa sadar memegang rahangnya dan memastikan tak ada satu pun luka kuku yang menyakiti kulitnya. Dia mendongak dan menatap Edsel hati-hati. Hari ini, akhirnya dia bisa melihat warna asli kekasihnya.
"Oh, kau akhirnya menunjukkan dirimu," seru Angel tanpa takut. Dia menatap Edsel lekat. "Edsel, katakan. Kau tak pernah mencintaiku dan hanya menginginkan hartaku, bukan?"
Tersentak, tatapan Edsel langsung mengarah pada bibir tipis Angel. Dia tak tahu harus bertindak seperti apa saat kata-kata Angel itu menohok hatinya.
"Apa yang kau katakan?" tanyanya dingin. Seakan tak mengakui tuduhan Angel.
Angel tertawa kecil meski merasa kesakitan. "Edsel, aku tahu. Kau sama sekali tak pernah mencintaiku sedikitpun. Targetmu hanyalah warisanku!"
Edsel melangkah lebar dengan amarah di hatinya. Dan tanpa sadar Angel mundur perlahan. Tapi Edsel sangat cepat. Dia mendorong tubuh Angel hingga membentur dinding. Mempersempit jarak hingga tak ada ruang di antara keduanya. Tatapannya dalam, dan senyum sinis terukir di bibirnya dengan bisikan halus.
"Apa kau begitu ingin tahu?" tanyanya dingin. "Karena itu maumu, maka aku akan jujur. Kau benar, aku tak tertarik padamu. Kau bodoh dan tak menarik. Kau sangat membosankan dan lugu. Kau tak akan berarti tanpa harta yang kau miliki,"
Insting Angel secara naluriah menuntunnya pada rasa takut. Meskipun dia Xin Narra, dia hanyalah seorang wanita. Jadi dia menunduk dan mendegarkan semuanya. Tubuhnya bergetar dengan emosi yang mendidih. Tapi untuk saat ini, dia tak akan memprovokasi Edsel dan berakhir buruk pada dirinya. Jadi dia akan mengalah dan menuruti hatinya.
"Ed-edsel," ujar Angel bergetar.
__ADS_1
Melihat Angel yang ketakutan, Edsel sangat puas. Dia menarik dagu Angel sekali lagi dan tersenyum sinis. "Lalu kenapa? Kenapa jika kau tahu aku tak pernah mencintaimu? Apakah kau akan memberikan semua hartamu padaku?"
Angel menggeleng kuat. "Jangan bermimpi!"
Edsel sudah mengira ini. Jadi dia tak terkejut. "Maka jadilah baik. Karena aku tak akan melepaskanmu semudah itu!" ujar Edsel dengan kata penuh penekanan. "Aku tak akan membiarkanmu lari sampai aku menyiksamu sampai mati!" bisiknya sekali lagi.
Mata Angel terbelalak lebar saat mendengar ancaman itu. Keringat dingin mengucur di punggungnya tanpa sadar. Ancaman itu, entah kenapa mengingatkannya dengan Aaron! Mantan tunangannya saat dia hidup sebagai Xin Narra di china! Dan satu hal yang menghamtam kesadarannya. Apa salahnya? Dan apa salah sang pemilik tubuh? Kenapa pria ini ingin menyiksanya sampai mati?
"Menyiksaku sampai mati?" tanya Angel mengulang kata-kata Edsel. Matanya bergerak takut, tapi ketenangan di wajahnya masih terjaga.
Edsel mundur selangkah dan jarak du antara mereka terlihat. Dia jelas bisa melihat tubuh Angel yang bergetar ketakutan. Awalnya, dia tak pernah sedekat itu dengan Angel. Tapi karena suatu alasan, dia sekarang jadi tahu, bahwa kekasihnya itu sangat mungil dan memiliki kulit yang sangat halus. Dan jika dilihat dari dekat, wajah kekasihnya tidaklah seburuk perkiraannya. Gadis itu memiliki kulit yang sangat putih dan bibir segar yang menggoda. Namun sayannya, itu semua tak cukup membangkitkan minatnya. Jadi dia memberi peringatan sekali lagi.
Mendengar pertanyaan dari kekasihnya, dia tak berminat untuk memberi penjelasan. Tapi dia hanya akan mengingatkan. "Jadilah baik dan jangan mengusik Meida. Atau kau akan tahu akibatnya."
Edsel terkekeh mendengar suara Angel. Seakan itu bukanlah masalah untuknya. Dia menepuk puncak kepala Angel beberapa kali, dan tatapan penuh cinta itu hadir setelahnya. "Sayang, kita akan bertunangan satu minggu lagi. Pastikan kau mencoba gaun pertunanganmu beberapa hari lagi. Aku akan menunggumu,"
Angel menghindar meski itu gagal. Dia terlihat waspada karena menyadari bahwa Edsel bukanlah lawan yang mudah. Dia mengutuk dan ingin sekali berteriak. Namun hal yang dia ucapkan hanyalah suara lirih yang bahkan Edsel tak akan dengar. "Kau gila! Dan aku tak akan menjadi bonekamu!"
Edsel mengerutkan keningnya. Saat menyadari bibir tipis segar di depannya bergerak untuk mengucapkan sesuatu. Meski dia tak yakin tapi dia tahu bahwa itu bukanlah kata-kata yang baik yang ingin dia dengar. Jadi dia mengulurkan tangannya, mencubit pipi Angel pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
__ADS_1
Angel menatap jijik dan melepaskan tangan Edsel dari pipinya. Dia tak percaya bahwa Edsel bahkan lebih buruk dari mantan tunangannya, Aaron. Jelas, dia mengumpulkan semua keberaniannya dan mengatakan keputusannya.
"Bermimpilah sampai kau sadar! Edsel, kau benar-benar sampah. Dan aku akan memiliki cara untuk menyingkirkan sampah sepertimu."
Edsel tertawa mendengar ancaman itu. Dia baru akan menyentuh wajah Angel sebelum akhirnya gadis itu menjauh dan dia hanya mendapati udara kosong di tangannya.
"Kata-katamu sungguh manis," ujar Edsel tak berminat. Dia melangkah dan melirik Angel sekali lagi. "Aku lelah dan akan pulang terlebih dahulu. Ingatlah, aku tak ingin mendengar penolakan. Jadi jangan membuat keributan atau kekacuan yang membuat pertunangan kita batal,"
Tubuh Angel luruh ke lantai saat Edsel keluar dari rumahnya. Tubuhnya terasa lemas dengan keringat dingin yang mengucur. Tidak, dia tak bisa seperti ini. Dia tak bisa bersama pria gila seperti Edsel. Dia tak akan memperburuk semuanya tapi dia butuh cara yang lebih efektif. Otaknya berpikir cepat. Namun tak satupun cara yang dia dapatkan. Dia kalah!
Angel menggeleng pelan. Dia tidak percaya bahwa dia tak memiliki jalan keluar apa pun. Jadi dia menarik napas dalam dan menenangkan dirinya. Dia harus tenang agar otaknya mampu bekerja dengan baik. Perlahan, dia mulai berpikir dan mencari jalan keluarnya. Melangkah ke lantai atas dan mengunci rapat pintu kamarnya. Berjalan ke kesana sini dengan berpikir dalam. Namun sejauh dia berpikir dia tak memiliki satu pun cara.
"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Xin Narra, ayo berpikir. Kau cerdas, kau tahu itu. Dan kau pasti memiliki cara."
Angel menghempaskan tubuhnya dan berpikir sekali lagi. Dia mengamati semua ancaman yang Edsel berikan dan tiba-tiba sebuah ide muncul di benaknya. Dia tersenyum senang dengan mata berbinar. Menjentikkan ibu jarinya hingga mengeluarkan suara.
"Benar, jika dia bisa memiliki Meida, kenapa aku tidak? Dia tak akan melepaskanku bukan? Tapi bagaimana jika dia aku campakan? Bagaimana jika aku memiliki seseorang yang mampu menekannya? Benar, seseorang. Seseoarang pria yang setara atau lebih kuat dari Edsel."
Angel bangkit dan menepuk kedua pipinya. "Xin Narra, kau benar-benar cerdas. Ya, ya, itu adalah satu-satunya cara yang aku miliki. Aku harus mencari pria yang lebih kuat dari Edsel. Seorang pria yang akan mengatakan pada dunia, bahwa aku adalah miliknya. Hahaha, Xin Narra, kau benar-benar cerdas!"
***
__ADS_1
Ok, part meluncur. Saya pikir kalian sudah bisa menebak alurnya kan. Yap, mari kita lihat, apakah kalian bisa menebak alur yang akan saya gunakan. Don't Forget to Vote, like, Coment and give me 5 stars. Thank you...