
Edsel mulai menyadari tatapan orang-orang disekitar dan ia sangat tahu kemana tatapan mereka tertuju. Ia tidak suka saat melihat beberapa orang yang berhenti hanya sekedar untuk menatap mereka atau bahkan sengaja mendengarkan percakapan mereka. Merasa risih, Ia mulai menarik tangan Angel dan membawanya keluar dari depan kelas Bisnis dan Manajemen kemudian membawanya ke bagian koridor The Great Alaska University yang terbilang sepi, menyisakan mereka berdua disana agar tak ada seorangpun yang melihat atau bahkan mendengarkan pembicaraan mereka.
Angel merasa kesal dan menghempaskan tangan Edsel, dan mundur beberapa langkah berusaha menjauhi tubuh pria tersebut. Ia bahkan tanpa sadar kembail mengelap tangannya dan melipatkannya di depan dada, agar Edsel tidak bisa menarik kembali tangannya secara sembarangan. Lagi, rasa jijik muncul di matanya, saat semua potongan ingatan dari pemilik tubuh saling terhubung dan membuat sebuah kenyataan yang nyata. Dia tak bisa tersenyum saat hatinya merasakan sakit yang luar biasa.
"Angel, kau tahu, aku sangat bahagia melihatmu sadar. Aku sangat sibuk hingga tak bisa mengunjungimu. Kau tak marah padaku kan?" tanya Edsel lembut. Matanya berbinar, penuh dengan kerinduan.
Mendegar itu hati Angel mengigil. Hatinya sangat dingin hingga terasa ingin menikam semua perasaannya. Bukankah pemilik tubuh ini sangat bodoh? Dan kini dia menyadari di mana letak kesalahannya. Tak ada yang salah dengan Angel yang asli. Hanya saja, pria di hadapannya ini sangatlah lihai bersandiwara. Tapi sekarang, dia Xin Narra. Seorang artis yang memilki segudang penghargaan. Baginya sangat mudah untuk menilai semuanya.
"Angel," panggil Edsel lembut saat menyadari Angel tak merespon. "Apakah aku mengatakan yang salah?" tanyanya hati-hati.
Angel tersenyum tipis. Sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Kau sangat sibuk? Dan tak pernah sekalipun mengunjungiku?" tebaknya dengan mencibir.
Mendengar itu Edsel tersenyum. Baginya, sikap Angel adalah sebuah kemarahan yang manis. Dan dia hanya perlu melakukan sesuatu yang membuat gadis di hadapannya bersemu merah.
"Kau marah? Oh, manisnya. Aku tahu bahwa kau selalu membuatku rindu," ujarnya sangat lembut. Tanpa aba-aba dia memeluk Angel dan merasakan aroma wangi sampo yang tak dia kenali. Tapi itu terasa sangat segar dan manis. Membuatnya nyaman dan rileks.
Terpaku, Angel tak menyangka bahwa Edsel akan memeluknya tiba-tiba. Dia melepaskan pelukan itu dan tertawa ringan. "Edsel, aku tidak marah. Tidak sama sekali. Kau bisa tak mengunjungiku selama yang kau mau,"
__ADS_1
Dan bagi Edsel, itu hanyalah kemarahan kecil. Kekasihnya ini hanya merajuk dan manja seperti biasa. Dia terlalu sering melihat ini selama ini. Dan dia terlalu terbiasa. "Sayang, aku mencintaimu. Aku tak merubah perasaanku meski aku tak bisa mengunjungimu. Kau hanyalah satu-satunya di sini. Dan aku selalu menantikan pertunangan kita."
Angel memejamkan matanya dan membawa satu tangannya menutupi muka. Tidak, itu sangat buruk untuk pendengarannya. Rasanya, dia ingin muntah berkali kali. Tangannya bahkan ingin sekali menampar wajah pria di hadapannya.
Mencintaiku? Kau mengatakan mencintaiku tapi tak memiliki waktu untuk mengunjungiku. Apakah kau menganggapku bodoh, Edsel? Kau benar-benar harus di beri pelajaran.
"Sayang," panggil Edsel sekali lagi. Dia jelas merasakan Angel menjadi sedikit aneh. Tapi dia mencoba mengabaikannya. Dia mencoba menepis perasaannya yang merasakan bahwa Angel jelas tidak merespon apapun yang dia katakan.
"Hentikan," ujar Angel muak.
Dan hal itu membuat perasaan Edsel semakin jelas. Bahwa kekasihnya ini benar-benar aneh. Dia mengingat lagi, pagi ini dia telah menunggu Angel cukup lama. Sudah menjadi sedikit aneh, saat dia merasa Angel sama sekali tak menghubunginya sejak gadis itu sadar dari tidur panjangnya. Biasanya gadis ini akan selalu menggangunya dengan telepon ringan yang sangat mengganggu.
Kini mata Edsel kembali menatap Angel dari atas hingga bawah. Dia mundur selangkah dan menjadi sedikit curiga. Melihat kaki jenjang Angel yang putih dan mulus tanpa cacat luka sedikitpun. Lalu pakaian itu, sejak kapan gadisnya mengenakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang cukup indah. Dia bahkan baru tahu bahwa gadisnya sangat halus dan ramping. Memiliki pinggang kecil yang selalu didamba oleh gadis-gadis seumurannya. Dengan perut rata yang sesekali menyajikan kulit putih saat tangannya terangkat membuat kulit perutnya terlihat.
Edsel kian tertegun. Tidak, dia baru menyadari perubahan kekasihnya. Juga warna rambut yang awalnya tidak terlalu dia perhatikan. Dan dia tersadar, kenapa semua mata pria menatapnya saat mereka berdua berbicara di depan kelas. Itu jelas karena gadisnya terlalu berharga untuk dilewatkan.
"Angel, kau, kau sejak kapan kau merubah gaya rambutmu? Dan pakaian ini. Ini, kau-"
__ADS_1
"Hentikan," ucap Angel lagi. Dia muak sekarang. Benar-benar muak. Dia melihat Edsel dan mendengus. "Aku tak memiliki hal apa pun untuk diucapkan. Kau benar-benar membuatku bosan!"
Usai mengatakan itu, Angel mencoba berlalu. Tapi tangan Edsel jelas bergerak cepat meraih tangan Angel. Kini dia benar-benar yakin pada perasaannya bahwa gadisnya ini benar-benar aneh dan terlihat asing untuknya. Angel yang dia kenal tak akan pernah mengatakan dia membosankan, atau akan bersikap dingin terhadapnya. Angel yang dia kenal akan memeluk dan mengucapkan kata rindu dengan bahagia. Tak peduli apapun, kekasihnya itu tak akan pernah meninggalkannya.
“Angel," panggil Edsel pelan. Matanya jelas menatap menyelidik. "Ada apa denganmu?” tanyanya heran. Jelas dia menuntut penjelasan.
“Ada apa denganku?” tanya Angel mengulang pertanyaan Edsel. Bibirnya melengkung tipis. Dia menatap Edsel dingin.
Hal itu membuat Edsel memicingkan matanya. Dia menatap lekat-lekat gadis yang ada dihadapannya sekali lagi hanya untuk memastikan dan membenarkan bahwa gadis ini adalah Angel. Dan dia tidak bisa menyangkal apapun. Gadis di hadapannya ini benar-benar Angelique Excellin. Kekasihnya dan calon tunangannya.
“Angel, apakah aku memiliki kesalahan?" tanyanya hati-hati.
Angel memutar bola matanya, tidak pernahkah pria itu berpikir sebelum bicara ? Tidak malukah dia mengatakan itu semua?
Apa kesalahanmu? Kesalahanmu terlalu banyak hingga tak bisa kusebutkan. Kau bahkan bisa berselingkuh dengan Meida, sepupuku! Lalu sekarang kau bertanya aoa salahmu? Edsel, apakah kau benar-benar ingin membodohiku? Jerit Angel tak terima di dalam hatinya.
Fakta bahwa Edsel tidak ada di rumah sakit saat dia bangun itu sudah sangat membuktikan tentang kesetiaannya. Jika saja pemilik tubuh ini adalah Angel dan bukan Xin Narra, maka dia akan langsung tersanjung dengan kata-kata manis pria dihadapannya. Bahkan mungkin dia akan berlari kepelukan hangat Edsel sedetik setelah dia mengucapkan kata-kata itu semua.
__ADS_1
‘Beruntunglah, Aku Xin Narra’. Batin Angel. Yang tak bodoh dan naif dengan mendamba cinta!