
Cupid Bar berada di kawasan elit, tempat yang sangat berkelas dan hanya kalangan atas yang bisa mengunjunginya. Berada di pusat kota, menjadi tempat hiburan paling terkenal di Alaska, tentu saja menjadi tempat yang bisa menghilangkan penat setelah bekerja seharian.
Sebuah mobil berwarna hitam dengan merek Koenigsegg CCXR Terevita melaju dengan cepat memasuki area parkir bawah tanah Cupid Bar. Tidak ada pihak keamanan yang berani menghentikan mobil itu, dari merek dan juga penampilan luar mobil itu sudah memperjelas status pemiliknya.
Beberapa saat terlewat begitu saja, mobil itu akhirnya berhenti dan terparkir dengan rapi. Seorang pria asing segera keluar dari sana, wajahnya terlihat sangat datar dengan tatapan mata yang tajam.
Pria itu memiliki postur tubuh yang tinggi dan porsi tubuh yang normal, rahangnya tegas dengan hidung mancung yang membuat ukiran Tuhan padanya semakin sempurna. Dia adalah Axenio, CEO Axton Word Group.
Seorang pria dengan jas hitam dan kacamata hitam menghampiri Axenio, pria itu kemudian membungkuk dan tersenyum. “Selamat malam, selamat datang di Cupid Bar.”
Axenio tak menyahut, ia hanya menatap dan segera melangkah ke dalam lift khusus untuk masuk ke ruang utama bar yang terletak pada lantai tiga dari ruang bawah tanah. Axenio menatap tak suka saat pria penjaga itu meliriknya, ia membuang muka dan saat itu pula lift tertutup.
Axenio yang kini berada di dalam lift menatap kaca, ia melihat pantulan dirinya di sana. Bibir tipis dengan warna merah alami, mata beriris hazel yang manis. Benar-benar sempurna sampai ia merasa bosan dengan wajahnya sendiri.
Setelah menunggu beberapa saat, lift akhirnya terbuka. Axenio segera keluar, ia melangkah pelan dan terus menuju pintu yang ada pada ujung lorong. Ada dua orang penjaga, mereka juga menggunakan setelah jas hitam dilengkapi dengan kacamata hitam.
“Selamat datang, Tuan. Silahkan masuk, semoga hari Anda menyenangkan.” Suara itu terdengar begitu berwibawa, dan pria yang mengucapkannya segera membukakan pintu untuk Axenio.
Axenio masih diam, ia segera melangkah dan disambut dengan suara berisik. Ruangan itu bercahaya remang, lampu warna-warni segera menghujani tubuh Axenio. Musik dengan nada mengentak menjadi pengiring orang-orang gila di sana untuk melanjutkan aktivitas, sedangkan para wanita berpakaian minim berlalu lalang tanpa lelah.
Axenio segera menuju meja bar, ia perlu minuman untuk meredakan rasa kesalnya. Kehadirannya seperti magnet, para wanita segera berhenti dari kegiatan masing-masing hanya untuk mencuci mata dengan melihat padanya.
“Bukankah dia Axenio? Ada apa CEO tampan itu datang berkunjung? Apa dia sedang mencari seorang wanita?”
"Oh, lihatlah, dia sangat tampan. Bukankah dia lumpuh sebelumnya? Tapi dia baik-baik saja sekarang. Apakah kabar itu sebuah kebohongan?"
"Dia terlihat sangat sehat dan menawan. Apakah dia baru saja pulang dari Amerika? Kudengar, dia keturunan Asia. Wajahnya sangat manis dan menggoda."
__ADS_1
Axenio dengan jelas bisa mendengar ucapan beberapa wanita. Ia memang sangat terkenal, wajahnya sudah terlalu sering terpasang pada bagian depan surat kabar.
Tak peduli dengan ucapan-ucapan itu, Axenio tetap melangkah dan segera duduk pada kursi di samping meja bar. Pria itu menatap Bartender yang kini sedang bertugas melayani beberapa tamu, wajahnya masih sama datar dan tatapannya juga tetap tajam.
“Tuan, minuman apa yang Anda pesan?” tanya sang Bartender.
“Wine paling mahal,” sahut Axenio.
Bartender itu segera menyiapkan pesanan Axenio. Sedangkan beberapa wanita mulai mendekat, mereka sedang berusaha menarik perhatian Axenio.
“Axenio, lama tidak bertemu.” Suara itu terdengar begitu menggoda, dan saat Axenio mengalihkan tatapannya pada sumber suara ia merasa sangat terganggu.
“Kau lupa padaku?” tanya wanita itu lagi.
Axenio masih diam, sedangkan para wanita semakin banyak berdatangan.
“Axenio, perkenalkan aku Stefani Wang. Apa kau ingat saat kita bertemu di jamuan bisnis perusahaan ayahku?” tanya wanita lain.
“Semoga Anda menikmati pelayanan kami, Tuan.” Bartender itu terlihat agak tak nyaman saat para wanita terus berdatangan. Ia melirik Axenio yang masih diam dan tak menyahut apalagi melirik wanita-wanita itu.
“Axenio, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya seorang wanita dengan pakaian minim. Wanita itu masih berdiri, saat Axenio tak juga menyahut ia memutuskan untuk duduk dan meletakkan gelasnya pada meja bar.
Axenio tak menggubris, ia tetap diam dengan tangan yang masih memainkan bibir gelasnya. Pria itu merasa tak nyaman saat para wanita terus menatapnya seperti mangsa, ia tak menyangka jika ada banyak orang-orang tak berkelas yang bisa berada di sana. Ataukah dia yang teralalu lama tak ke sini hingga lupa pada semua wajah yang ada di sini?
Wanita itu mulai semakin dekat dengan Axenio, ia sepertinya orang yang memiliki muka tebal dan cukup di segani di tempat itu. Tangan wanita itu dengan sengaja menyentuh jemari Axenio yang berada di atas meja.
“Upsss ... maaf. Aku tak sengaja menyentuhmu,” ujar wanita itu.
__ADS_1
Axenio mengalihkan tatapannya, ia mengamati wanita itu dengan saksama. Wanita asing, memiliki bibir dengan pewarna merah darah, baju yang sangat minim. Wanita malam pada umumnya, tipe penggoda dan dinilai tidak punya harga diri.
Axenio segera berdiri, ia mengulurkan tangan pada Bartender dan memberi tatapan tajam pada Bartender itu.
Sang Bartender yang mengerti segera meraih tangan Axenio yang tadi di sentuh wanita tersebut.
“Bersihkan dengan alkohol,” ujar Axenio dengan suara beratnya.
Bartender itu seger memeriksakan laci mejanya, ia meraih tisu dan juga cairan alkohol dan membersihkan tangan Axenio. Setelah beberapa saat semua telah selesai, Axenio segera meraih gelasnya yang berisi cairan wine dan menumpahkan cairan itu di atas kepala wanita tadi.
“Wanita tidak berkelas,” ujarnya pelan. Suara Axenio terdengar begitu datar, serak dan membuat para wanita itu ketakutan sekaligus kagum.
“Pergi!” tegas Axenio mengusir mereka semua.
Wanita yang mendapat guyuran air wine terlihat nyaris menangis, ia benar-benar malu sampai tak sanggup melangkah.
“Panggilkan pihak keamanan, usir wanita itu dari hadapanku.”
Tanpa diminta wanita itu segera pergi, semua mata tertuju padanya. Wanita-wanita yang sejak tadi mencoba berinteraksi dengan Axenio juga segera mundur, mereka tentu tak ingin dipermalukan seperti itu.
Axenio kembali duduk, ia terlihat diam dan menatap pada Bartender. Sang Bartender yang mengerti segera memberikan gelas dan minuman baru kepada Axenio.
“Maaf karena Anda merasa tak nyaman, Tuan.” Bartender itu merasa bersalah.
“Tidak masalah,” balas Axenio datar. "Bawakan minumanku ke sudut sana,"
Bartender itu mengangguk sopan saat melihat punggung Axenio menjauh dan duduk di sebuah bangku yang tak jauh. Tiba-tiba di sana suasana hening. Tak ada orang yang berani mendekat. Semua menjauh karena tahu batasan mereka semdiri. Meski mereka pernah mendengar Axenio lumpuh, mereka tak akan percaya semudah itu. Nyatanya pria itu kembali setelah beberapa tahun tak pernah kembali ke Alaska. Meski begitu, ketampanan, kekuasaan, dan wajahnya tak pernah dilupakan.
__ADS_1
***
Selamat malam, dengan ini saya umumkan bahwa Kekasih Nona Muda pindah ke lapak ****** dengan judul cerita yang sama. Jika ingin membacanya kalian bisa ke ******. Terimakasih