Kekasih Nona Muda

Kekasih Nona Muda
Kekayaan yang tertinggal.


__ADS_3

Di ujung sana Adrian sontak berdiri saat nama Excel di sebutkan. Mulutnya berkedut lembut dengan perintah tegas yang terucap. "Aku akan menjemputnya!"


Sebelum resepsionis itu menjawab, telepon itu telah tertutup. Dia menatap Angel yang berdiri tenang. Meneliti Angel sekali lagi dan masih tak percaya bahwa di hadapannya ini adalah pewaris keluarga Excel. Dia telah bekerja di kantor ini lebih dari lima tahun. Jadi dia tahu dengan siapa saja Pengacara Adrian berkoneksi. Jadi ini adalah pertama kalinya, dia melihat seorang ahli waris yang terlihat seperti orang biasa saja. Tak menunjukkan kekayaan terlebih terlihat sangat menyedihkan.


"Angel!"


Angel dan sang resepsionis menoleh saat suara berat terdengar. Jika tak melihat dengan mata kepala sendiri, sang resepsionis tak akan percaya bahwa gadis di depannya ini benar-benar bernilai hingga pengacara Adrian sendiri turun untuk menjemputnya. Dia menunduk sesaat dan tersenyum, berharap Angel tak menyulitkannya sama sekali.


"Paman Adrian," ujar Angel lembut. Senyumnya melebar saat melihat pria berumur lima puluh tahunan mendekat.


Adrian tersenyum hangat. Memeluk Angel tanpa aba-aba. Dia bisa melihat, bagaimana gadis di depannya sangat kurus. Dia bahkan mengingat, bahwa gadis kecil ini dulu sangat akrab dengannya. Lalu karena kesibukan masing-masing, dia seakan lupa dan hubungan itu renggang. Namun jelas, bahwa dia telah menjadi pengacara keluarga Excel sejak masih muda.


"Hal baik kau mengunjungiku. Akhirnya kau datang. Masuk, ayo masuk dahulu dan bicara di dalam,"


Angel menurut saat Adrian memintanya masuk. Dia mengikuti Adrian yang lebih dulu masuk ke dalam lift. Menuju lantai dua belas, mereka hanya saling berpandangan sesekali dan tersenyum.


"Ikuti aku," ujar Adrian saat lift itu terbuka.


Angel menurut dan berakhir duduk di sebuah ruangan besar berwarna abu-abu dan putih. Ruangan itu sangat rapi dengan banyaknya berkas yang tersusun di setiap rak. Lalu di meja utama itu, dia bisa melihat dengan jelas, ukiran nama, Adrian Aglilio.


"Minumlah dulu," ujar Adrian dengan menyodorkan secangkir kopi panas.


Angel mengangguk dan menyesapnya pelan. Dia menatap Adrian yang menatapnya.


"Katakan, ada masalah apa hingga kau menemuiku dan tak menyuruhku datang? Lalu perban di kepalamu, apakah kau baik-baik saja?"


Tangan Angel terulur menyentuh perban di kepalanya. "Aku baik, paman. Ini hanya luka dari kecelakaan kecil. Lalu aku datang untuk meminta pertolongan,"


Kening Adrian mengerut. "Hal apa yang bisa aku lalukan? Katakan dengan pelan, maka aku akan membantumu."


"Paman, bukankah paman memegang surat wasiat yang ayah tinggalkan?"

__ADS_1


Adrian mengangguk. "Semua atas nama dirimu. Seluruh aset kecuali satu. Perusahaan,"


Kali ini kening Angel mengerut. Bagaimana bisa, pikirnya.


"Kau memiliki tiga puluh persen saham di dalamnya. Lalu pamanmu memegang tiga puluh lima persen. Sedangkan tiga puluh lima persen lainnya adalah para pemegang saham yang tengah ada di luar kota."


"Bagaimana bisa?" tanya Angel tanpa sadar. Dia ingat, saat mendengar Adrian membacakan surat wasiat pertama kali. Itu semua miliknya. Dan pamannya bukanlah apa-apa.


"Kau bertanya? Itu juga yang aku tanyakan. Apakah kau diancam atau kau mengalami sesuatu? Kenapa kau bisa menyerahkan sahammu begitu saja pada pamanmu saat itu? Aku sangat terkejut dan marah padamu. Itu sebabnya aku tak pernah datang menemuimu,"


Dan Angel tersadar. Tidak, bagian ini dia tak mengingat apapun. Sebanyak dia mencoba mengingat, dia merasa tak pernah memberikan saham ayahnya kepada pamannya. Tapi orang di hadapannya ini dengan yakin mengatakan itu semua.


Melihat Angel yang bingung, Adrian bergerak menuju barisan dokumen dan mencari. Setelah tak ditemukan, dia mencari dalam brangkas pribadinya dan menemukan dokumen keluarga Excel di sana. Dia membawanya dan menyerahkan pada Angel.


"Bacalah terlebih dahulu. Kau menandatanganinya dan aku sudah memastikan bahwa tanda tanganmu asli."


Angel menerima dan memeriksa dokumen tersebut. Seakan tersadar, saat matanya bergerak melihat logo mawar di ujung kertas, ingatan dari pemilik tubuh bangkit. Itu sudah lama. Dan itu benar-benar dirinya yang menandatanganinya.


Saat itu jelas, dia sangat ingat. Meida tergesa karena akan mengajaknya pergi untuk mengatur kencannya. Sebuah surat yang Meida berikan dan Meida tak membiarkannya membaca terlebih dahulu. Gadis licik itu tak membiarkannya membaca surat di tangannya! Dan dia sangat percaya pada Meida dahulu. Lalu saat itu dia sangat bahagia karena akan pergi kencan dengan kekasihnya. Hingga dia menandatangani surat itu begitu saja. Lalu kini apa? Bukankah dia dahulu terlalu naif dan polos? Terlalu bodoh dan mudah di manfaatkan?


"Paman, ini, aku melakukan kesalahan. Aku, aku, aku--"


"Lalu ini," potong Adrian tak sabar. Tangannya memberikan lembaran baru lagi pada Angel.  "Baca dan renungan. Apakah kau yakin akan menikah dengannya?"


"Menikah?" ulang Angel tanpa sadar sebelum membaca surat di tangannya.


"Bacalah. Aku saat itu menahanmu untuk menandatanganinya. Apa kau ingat?"


Angel membaca surat di tangannya dan membelalakkan matanya. Dia jelas melihat surat pernyataan bahwa dirinya dengan sadar akan membiarkan kekasihnya mengambil alih dan mengurus semua properti miliknya. Dan itu sudah sejak satu setengah tahun yang lalu!


Persetan kau Angel! Maki Xin Narra  keras di dalam hati. Apa kau buta atau kau sangat mendamba cinta! Bisa-bisanya kau melakukan kesalahan seperti ini! Kau benar-benar bodoh hingga ke dasar jurang!

__ADS_1


"Paman, ini--"


"Hal baik yang kau pegang adalah copiannya. Dan itu palsu. Aku memalsukannya untukmu saat itu. Dan ini yang asli. Kau belum menandatanganinya."


Angel menerima satu lembar kertas lagi dan bernapas lega. Itu benar. Belum ada tanda tangannya di atas beamatrai. Dia benar-benar bernapas lega. Dia masih selamat.


"Angel, ada apa? Kau tak bisa mengingat semuanya?" tanya Adrian mulai curiga.


Angel menggeleng. "Paman, aku baru saja sadar dari tidur yang panjang. Aku mengalami kecelakaan mobil dan koma selama tiga bulan. Aku baru saja sadar dua hari yang lalu,"


Adrian terlonjak kaget dan tertegun. Matanya meneliti Angel dan menatap prihatin. Dia tak tahu sama sekali kabar ini. Dia tak tahu jika anak sahabatnya mengalami hal seperti ini.


"Kau baru sadar? Kenapa pamanmu tak mengabariku saat kau mengalami itu semua? Kenapa mereka -"


"Paman, hentikan. Aku baik-baik saja sekarang." potong Angel menenangkan Adrian. "Aku benar-benar baik-baik saja."


Adrian bernapas lega. "Tak apa, wajar jika kau tak mengingat. Itu pasti karena efek kecelakaan yang kau alami."


Angel mengangguk. Lalu menyerahkan satu dokumen di tangannya. "Ini, bisakah aku menarik sahamku kembali dari pamanku?"


Adrian melihat poin itu dan menggeleng pelan. "Tidak. Kau tak bisa menariknya karena itu telah benar-benar sah."


Angel mendesah kecewa. Lalu menatap Adrian sesaat. "Jadi, hal apa saja yang masih aku miliki paman?"


Adrian membuka surat lain di tangannya dan membaca pelan. "Kau masih memiliki saham tiga puluh persen, lalu semua resor di Alaska yang ayahmu miliki juga beberapa di luar negeri. Total semua sekitar sepuluh resor. Dan beberapa hotel berbintang di berbagai kota Alaska."


Angel tertegun. Tidak, dia baru tahu. Ternyata dia sekaya ini?


***


Double update yah untuk ganti hari kemarin yang tak bisa update. Don't Forget to like, vote, coment and save to ur libary. Aku juga akan sangat berterimakasih jika kalian memberikan penilaian 5 bintang.

__ADS_1


lalu jika kalian memiliki ide, kalian bisa sampaikan di chat grup. Kuy, thank you ....


__ADS_2