
"Tuan," ujar Carlen keberatan. Dia tak mengerti hal-hal yang di minta tuannya.
"Cukup kerjakan apa yang kuminta. Aku akan kembali tiga bulan lagi. Kau bisa kembali ke Alaska dan mengatakan semuanya pada para tetua yang tak akan hidup lama."
Carlen baru saja saja akan bicara sebelum suara Axenio kembali terdengar. "Jangan kembali dan membuatku marah. Kau hanya perlu mengkonfirmasi dengan telepon,"
"Tuan--" ujar Carlen keberatan. Ada nada sedih dalam panggilannya tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Lagi, dia di asingkan karena mengurusi hal yang tak tuannya sukai.
Axenio mengerakkan punggung tangannya beberapa kali. Menandakan pengusiran yang jelas. Melihat itu Carlen hanya bisa mendesah pasrah. Dia tak memiliki otoritas yang bisa melawan tuannya. Tuannya itu sangat sulit di hadapi tapi juga terkadang menjadi orang yang sangat murah hati. Dia hanya tahu bahwa hati tuannya telah mati.
"Aku akan melakukan semuanya seperti yang Tuan minta," ujar Carlen pada akhirnya. Dia menarik napas dalam dan menghembuskan pelan.
"Pastikan kau menemukan wanita yang tak merepotkan. Dan jangan lupa, katakan pada calon istriku bahwa aku lumpuh!" peringat Axenio saat mendengar persetujuan bawahannya.
Carlen memejamkan matanya sekali lagi dan mengutuk dalam hati. Dia hanya bisa pasrah tanpa bisa melawan. Hal-hal ini memang sangat merepotkan. Tapi dia juga mengerti kenapa para tetua menginginkan tuannya menikah. Itu karena mereka khawatir tuannya akan hidup kesepian dan penuh luka. Berharap pernikahan dan bayi kecil dapat mengobati luka di hati tuannya.
"Baik, maka aku akan pergi."
Carlen melangkah meninggalkan rumah besar bernuansa sunyi tersebut. Membuat Axenio kembali menuangkan Wine di gelasnya. Lalu tangannya dengan riang menarik gelas itu di tangannya dan menggoyangkannya pelan. Saat melihat sosok Carlen yang telah berada di halaman rumahnya, dia berdiri pelan dan menatap Carlen dari jendela kaca besar di hadapannya.
__ADS_1
Wajahnya membeku tanpa ekspresi. Tatapannya datar tanpa emosi. Sesekali tangannya membawa gelas ditangannya ke bibir tipisnya yang melengkung sempurna. Meninggalkan warna merah yang membuat bibirnya menggoda dengan ketampanan yang sempurna. Udara di sekitarnya seakan di tarik turun dengan cepat. Menyesuaikan kedinginan hatinya yang tak tersentuh.
Sosok tegapnya terlihat sempurna. Dengan warna kulit sedikit kecokelatan yang menggoda. Di hiasai dengan dua mata indah berwarna coklat madu yang sayu. Lalu alis tebal yang meruncing. Seakan itu memang di lukiskan dengan rapi untuk menunjang wajahnya yang dingin. Hidung mancung yang meruncing tinggi, dengan bibir tipis yang menggoda. Setiap orang pasti akan setuju, bahwa ketampanan pria ini sempurna!
Tapi siapa yang mengenal kebaikannya? Dia di kenal sebagai pria kejam tak berperasaan. Tak memiliki hati dan hanya memiliki hati yang mati. Kekayaan yang melimpah dan kesendirian yang dia pilih membuat kakek dan neneknya sedikit khawatir. Meski begitu, dia bukanlah seorang cucu yang buruk. Sekeras apapun hatinya dengan pilihannya, dia tetap akan menjadi 'anak' yang sedikit baik di mata kakek dan neneknya.
Axenio mendesah pelan. Lirikan matanya sangatlah tajam. Terkadang mata sayu itu juga bisa menatap dengan binar terpesona seperti madu yang manis dan penuh godaan untuk di cicipi. Tapi dalam waktu yang sama, madu itu bisa menjadi sangat beracun hanya dengan ucapan ringan dari bibir tipisnya.
"Ibu, aku hanya tak ingin berakhir seperti dirimu," ujar Axenio pelan. Ada luka di setiap kata yang dia ucapkan. Seperti sebuah luka dalam yang terus saja terasa sakit meski itu telah terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Dan kenangan lama yang tersimpan itu kembali ke permukaan.
Flasback.
Dua puluh dua tahun yang lalu, saat Axenio baru saja berumur lima tahun. Dia melihat pertengkaran ayah dan ibunya dari lemari pakaian tempatnya bersembunyi.
Srakkk! Brukk! Tubuh wanita itu terdorong dan terjatuh saat seorang pria berumur tiga puluh lima tahun mendorongnya tanpa ampun.
"Aku tak mencintaimu! Jadi kau bisa mengurusnya sendiri! Aku akan mengurus hidupku sendiri bersama anak dan istriku."
"Apakah aku bukan istrimu? Kita menikah lebih dari sepuluh tahun!"
__ADS_1
"Jangan membual! Kau sangat membosankan!"
"Kau keterlaluan! Demi wanita sepertinya, kau--"
Plakkk! Sebuah tamparan mendarat panas di pipi wanita tersebut. Matanya berair dengan luka di hatinya yang sangat dalam.
"Jangan mengatakan apapun. Kita akan berpisah, dan aku akan menceraikanmu."
"Sayang, sayang, sayang, sayang...."
Dari balik lubang lemari itu, Axenio melihat ayah dan ibunya yang terus terus bertengkar. Saat itu dia tak tahu apa itu perceraian. Yang dia tahu, sejak hari itu, dia tak pernah melihat ayahnya kembali. Dan ibunya yang menangis setiap hari. Harinya yang biasa indah itu berubah dalam semalam. Canda tawa yang biasa dia lakukan bersama ayah dan ibunya itu tidak pernah terjadi lagi.
Hari hari selanjutnya, dia tak pernah melihat ibunya waras sedetik pun. Entah karena apa, ibunya sering memukulnya tanpa alasan. Menciptakan kebencian dan luka yang dalam. Meski begitu, dia tak akan lari. Dia tetap akan diam dan merasakan setiap sakit di tubuhnya. Setiap makian saat ibunya merasa bahwa wajahnya tumbuh menjadi sangat tampan hingga menyerupai ayahnya. Dan itu membawa kebencian mendalam di hati ibunya.
Luka luka itu setiap hari semakin banyak. Tumbuh bersama kebencian tersendiri di hatinya. Dia hanya tahu, bahwa semua ini karena ibunya yang sangat mencintai ayahnya hingga tak dapat menerima semuanya. Juga termasuk kehadirannya! Lalu ayahnya? Dia tak tahu bahwa ayahnya tak akan memandangnya dan memilih memeluk wanita lain dengan gadis kecil yang terlihat sangat bahagia. Dan semua itu juga karena cinta!
Hidup mandiri dengan mendapat pukulan setiap harinya. Itu tak masalah baginya. Melihat ibunya yang setiap hari menyebut nama ayahnya dengan aroma minuman kuat, juga bukan hal yang baru baginya. Dia melihat itu setiap hari! Juga termasuk melihat ibunya membawa banyak lelaki yang bebeda setiap hari dan silih berganti! Hal-hal itu tanpa terasa membekukan hatinya. Kebencian itu tumbuh bersama luka dan rasa sakitnya yang dia pendam sendiri.
Tak ada yang coba dia keluhkan atau bicarakan! Saat ibunya dengan sengaja memukulnya tanpa ampun. Meninggalkan bekas luka yang tak hilang. Dia hanya diam dan menerima semuanya. Membiarkan rasa sakit itu mengalir di setiap tubuhnya. Tapi dia tak bisa terima saat ibunya menusuk pergelangan tangannya sendiri sejak dia mengatakan satu hal.
__ADS_1
"Ibu, aku menyayangimu! Aku tak akan meninggalkanmu meski kau membunuhku dengan tanganmu,"
Entah kesalahan apa yang dia lakukan, setelah dia mengatakan itu, ibunya histeris dan menangis. Menjauhinya dan tak pernah memukulnya. Tapi hari hari kemudian, dia mendapati sosok ibu yang baik meski tak pernah memeluknya dan berbicara padanya sama sekali. Selalu membuatkan makanan enak dengan catatan-catatan kecil tentang cinta dan luka. Meski dia cukup lega namun entah kenapa hal itu membuat hatinya kian khawatir. Dan siapa yang menduga, bahwa itu adalah hal terakhir yang bisa dia lihat. Sebelum ibunya bunuh diri karena merasa tak sanggup dengan semuanya dengan meninggalkan luka dalam tentang cinta!