Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Suara Mawar


__ADS_3

‘Tadi apaan? Apa ada pakunya?’ pikir Via yang kembali meraba area gambar mawar merah tersebut.


Beberapa kali Via meraba lukisan itu namun tidak menemukan ujung paku atau apapun.


“Mawar. Apa ... Ini nama kamu?” ucap Via yang berbicara dengan lukisan itu.


“Ya,” terdengar suara wanita menggema di ujung koridor seakan mengiyakan pertanyaan Via.


Sponta Via tersentak, Via mundur dan langsung menoleh ke ujung koridor, tidak ada seorang pun di sana, hanya ada pot tanaman hias dengan daun yang sedikit melambai seperti tertiup angin.


‘Ah mungkin aku salah dengar,' pikir Via.


Via bergegas meninggalkan lantai 2 dan berkeliling hotel untuk memeriksa kinerja para stafnya.


Via memilih lift karyawan untuk naik ke atas karena di jam seperti ini para karyawan sedang sibuk bekerja dan lift pun jarang di gunakan.


Via membuka pintu besi yang di dalamnya terdapat pintu lift untuk karyawan.


Via pun masuk dan menekan tombol naik, sambil menunggu Via melihat ke arah sekeliling.


Area depan lift itu cukup gelap karena saat siang hari lampu di depan lift karyawan akan dimatikan.


Via merasa sedang 5idak sendiri, ia merasa seperti ada orang lain berada di dalam ruangan itu.


Ting. Suara pintu lift terbuka.


Via masuk dan menekan tombol 3, saat lift terbuka Via keluar dan melihat dari ujung koridor ia melihat troley sedang terparkir di depan pintu salah satu kamar.


Via berjalan menghampiri dan masuk ke dalam kamar tersebut.


Saat masuk ia melihat Reza tengah membersihkan kamar mandi.


“Gimana Za aman kan?” tanya Via.


Reza tidak menjawab namun tetap terlihat sedang membersihkan lantai yang basah.


“Za, Reza,” ucap Via.


“Reza!” panggil Via cukup keras.


Anehnya ada sahutan dari luar.


“Ya Bu,” terdengar sahutan dari depan pintu.


Via keluar kamar mandi dan melihat Reza tengah membawa setumpuk linen di bahunya.


“Loh kamu kok-“


Via bergegas ke kamar mandi dan nyatanya tidak ada siapa pun di sana.

__ADS_1


“Kenapa Bu?” tanya Reza bingung.


“Gak, tadi saya lihat kamu lagi bersihin kamar mandi Za, saya panggil-panggil kamu gak nyahut. Tapi kok kamu ada di depan pintu,” tutur Via.


“Saya tadi lagi di pantry Bu ngambil linen sama pillow case,” sahutnya.


Hal itu membuat Via bingung, begitu pula dengan Reza yang mendengar penjelasan dari Via.


“Ya sudah saya mau keliling lagi, oh iya di pantry ada troley buat linen kotor gak?” tanya Via.


“Ada Bu, sebentar saya ambilkan,” ucapnya.


Reza pun mendorong troley berbentuk seperti kantung besar berukuran 1 x 1 meter itu, troley itu biasa di gunakan untuk mengangkut linen kotor dari kamar-kamar yang sudah di bersihkan.


Reza memasukkan semua linen kotor ke dalamnya, selanjutnya Via akan berkeliling untuk mengambil linen kotor di setiap lantai.


Biasanya tugas ini di kerjakan oleh staf linen, namun tidak jarang Via melakukannya juga untuk sekedar meringankan pekerjaan stafnya.


Via mulai mendorong troley itu dan naik ke lantai 5,6 dan seterusnya lalu kembali ke ruangannya.


Saat Via masuk ke ruangan linen kotor terlihat Rosa salah satu staf linen sedang menghitung jumlah linen kotor berdasarkan jenis bed.


“Bu, kok ibu yang ambil linennya?” ucapnya terkejut.


“Gak apa, sekalian saya kan tadi keliling,” sahut Via sambil membongkar segunung linen yang ada di dalan troley yang ia bawa.


“Loh kok takut, kamu takut apa? Hantu?” tanya Via.


Rosa terdiam sejenak, “tadi saya lihat ada cewek keluar dari ruangan ibu terus nembus dinding, masuk ke ruang laundry Bu,” sahutnya.


“Saya takut, jadi saya di sini.”


“Cewek? Baju merah?” tanya Via.


“Loh ibu tahu, ibu bisa lihat ya?” tanya nya.


“Ya bisa saya kan punya mata.”


“Bukan itu maksud saya Bu, Ibu bisa lihat makhluk halus?”


Via mengangkat kedua bahunya, “entah deh saya gak yakin.”


“Udah Bu. Ini biar saya yang hitung dan kumpulin.”


Via tersenyum dan kembali ke ruangannya, sebelum masuk ke ruangannya Via penasaran dan membuka ruang laundry bersih yang ada di seberang ruangannya.


‘Gak ada siapa-siapa,' pikirnya.


Via menutup ruangan itu dan berbalik ingin masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Saat beberapa langkah berjalan Via merasakan ada getaran hentakkan kaki yang cukup keras dari arah belakangnya.


Via menyenyitkan alisnya dan langsung membuka pintu ruang laundry itu.


Via mendengus, “Siapa pun kamu, jangan ganggu kami di sini. Kami di sini hanya bekerja dan tidak ada niat untuk mengganggumu!” ucap Via tegas.


Tiba-tiba tumpukan towel yang berada di bagian rak paling atas terjatuh dan berhamburan di lantai, rak besi setinggi 2 meter itu sempat bergoyang pelan.


Terdengar suara tawa namun cukup pelan di samping telinganya. 


“Gila ya, kamu tambah lagi kerjaanku!” ucap Via kesal.


Via mulai membereskan seluruh towel atau handuk itu yang awalnya terlipat rapi kini ia harus melipatnya kembali satu per satu.


“Sini bu biar saya bantu,” ucap Rosa yang tiba-tiba masuk.


“Pasti jatuh sendiri kan Bu?” tanya Rosa.


“Iya, tapi ya sudah lah untung cuma sedikit,” ucap Via.


“Saya sudah biasa Bu, apa lagi kalau malam. Gantungan baju ini sering gerak sendiri,” tutur Rosa.


“Oh ya?”


“Iya Bu, tapi baru beberapa bulan ini aja. Waktu saya pertama masuk shift 2 gak pernah ada kejadian seperti ini,” ucapnya.


Usap Via membereskan semua towel itu lalu kembali masuk ke dalam ruangannya untuk memeriksa semua laporan yang ia dapat dari hasil keliling hotel.


Pukul 18.10 Via bersiap untuk pulang karena semua pekerjaannya telah selesai, saat berjalan menuju basemen seorang resepsionis menyapanya.


“Bu Via,” ucapnya.


“Oh Karin,” sahut Via.


“Bu ... Kemarin ibu yang nemuin mayat itu ya?” tanya nya.


“Iya, rasanya saya seperti mau mati berdiri lihatnya,” sahut Via.


“Tadi polisi nanyain si mandor, katanya saat para buruh udah pada pulang ada 1 orang yang masih duduk di lantai pas di ajak pulang malah diam jadi di tinggal sama rekan-rekannya,” ucapnya.


“Saya takut kalau rating hotel kita turun karena masalah ini,” ucap Via.


“Justru malah rating kita naik bu.”


“Hah?  Kok bisa?”


“Banyak spekulasi dan asumsi orang-orang kalau hotel kita angker dan karena berita itu, ada banyak yang ingin uji nyali di hotel ini dengan cara memesan kamar lalu berkeliling hotel saat tengah malam,” tutur Karin.


Via hanya bisa tertawa dan tidak percaya dengan orang-orang jaman sekarang yang sangat menyukai hal takhayul seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2