
“Via kamu kenapa bisa di ikat kaya gini,” ucap Wisnu sembari melepas ikatan yang ada di kaki dan tangan Via.
“Hentikan Wisnu!” Bentak Ayu.
“Tante udah gak waras ya anak sendiri di giniin!”
Ayu berusaha menarik tangan Wisnu untuk menahan Wisnu agar tidak melepas ikatan pada Via.
Tanpa sengaja Winsu mendorong Ayu hingga terjatuh ke lantai.
“M-maaf tante gak sengaja.”
Wisnu bergegas mengangkat tubuh Via dan masukkan ke dalam mobilnya.
“Wisnu saya peringatkan kamu, kembalikan anak saya ke kamarnya jika kamu mau selamat!” teriak Ayu.
“Gak saya akan bawa Via keluar dari neraka ini!”
Ayu pun berteriak meminta pertolongan suaranya yang cukup melengking itu membuat beberapa warga berdatangan.
“Pak tolong anak saya mau di culik sama dia pak,” ucap Ayu sambil menahan tangan Wisnu.
“Apaan, saya gak nyulik!” pekik Wisnu.
“Lepasin anak saya sekarang juga,” ucap Ayu dengan menangis histeris.
“Kamu lepaskan anak Ibu ayu sekarang atau saya panggil polisi!” ancam salah datu tetangga Ayu sambil menenteng ponselnya.
Wisnu yang terpojok dan di tuduh sebagai penculik itu pun berbalik dan mengembalikan Via ke kamarnya.
Ayu menangis tersedu sambil memeluk anak kesayangannya itu.
“Kamu! Kamu sumber masalah bagi anak saya! Gara-gara kamu dan lukisan sialan itu anak saya seperti ini!” teriak Ayu hingga membuat suaranya parau.
Mendengar masalah tentang lukisan Wisnu tersadar, sebelumnya Via pernah membahas malah lukisan itu bersamanya, namun Wisnu tidak mempercayainya.
“Sekarang kamu keluar!” Ayu mendorong tubuh Wisnu untuk keluar dari kamar Via.
“Tu-tunggu dulu. Maksud tante lukisan apa? Apa hubungannya lukisan sama Via?”
“Gak ada yang perlu saya jelaskan kepada kamu! Sekarang kamu keluar dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah saya lagi! Saya kecewa sama kamu!”
Wisnu di usir keluar oleh Ayu, saat keluar rumah, Wisnu di soraki oleh beberapa tetangga Ayu dengan umpatan serta cacian.
“Balik sana sialan!” ucap salah satu tetangga.
Ada juga yang berusaha memukul mobil Wisnu dengan balok kayu, namun aksi tersebut di halangi oleh Rt setempat.
Wisnu menginjak gas dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman rumah Ayu.
“Pak Bu, terima kasih karena sudah mau membantu saya,” ucap Ayu kepada para tetangganya.
“Ibu Ayu kunci saja rumahnya. Kalau orang itu datang lagi panggil kami saja,” ucap salah satu warga.
__ADS_1
“Baik pak, sekali lagi terima kasih,” sahutnya dengan masih terisak.
Ayu pun masuk ke dalam rumah dan langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Dimas.
Beberapa kali Ayu mencoba menghubungi namun tak kunjung diangkat oleh Dimas.
Karena ikatan itu lepas, Ayu memilih mengunci Via di dalam kamar sampai menunggu suaminya pulang.
Hingga malam hari pukul 21:00, Dimas tidak kunjung pulang, Ayu terlihat sangat cemas.
Tiba-tiba ia mendengar suara Via memanggilnya.
“Bun ... Bunda kok Via di kunciin bu?” ucap Via sambil berusaha menggoyang-goyangkan gagang pintu.
“Bun ... Bunda,” panggil Via berkali-kali.
“Via sayang kamu tunggu sebentar ya nanti ibu bukakan pintu,” ucap Ayu sambil menitikkan air mata.
“Kok gitu, memangnya Via salah apa Bun,” terdengar Via mulai terisak di dalam kamar.
Ayu yang mendengar itu semakin sedih, ibu mana yang mampu melihat anaknya sedih atau bahkan menderita.
“Via kamu sabar ya, sebentar lagi pintu ya di buka kok,” sahut Ayu.
“Kok bunda tega banget sama Via, Via tahu bunda tidak ingin Via bekerja di hotel itu tapi jangan kaya gini caranya bun,” ucap Via menangis.
Rasa itu sudah tidak bisa ayu bendung lagi, Ayu mengeluarkan kunci cadangan yang ada di laci lemari samping pintu kamarnya.
“Maafkan Bunda Via, Bunda punya alasan untuk ini,” ucapnya sambil memeluk erat Via.
Via hanya terdiam, lalu di balik punggung Ayu terlihat jelas ekspresi Via yang menyeringai.
“Kau memang bodoh!” ucap Via dengan suara berat.
Dengan epat Via mencekik Ayu hingga Ayu terjatuh ke lantai. Ayu memegangi tangan Via untuk menahan tekana yang di berikan pada lehernya itu.
Via tertawa terbahak sambil mencekik leher Ayu, wajah Ayu mulai memerah karena kehabisan nafas.
Ayu berusaha memukul-mukul tangan Via namun hal itu sama sekali tidak berpengaruh.
Hingga Ayu dengan terpaksa menjambak rambut anaknya itu dan membuat cekikannya sedikit melonggar.
Via mengerang seperti orang yang sangat marah, Ayu berusaha melepaskan diri hingga dirinya berhasil mendorong Via ke lantai.
Dengan cepat Ayu berdiri dan berlari menuju ruang tamu. Via yang tengah di pengaruhi oleh iblis wanita itu pun mengambil sebuah pisau kater yang ada di mejanya.
Via berjalan perlahan sembari mengeluarkan mata pisau itu dari tempatnya, Via berjalan menghampiri Ayu.
“Nak bunda mohon sadar lah,” ucap Ayu.
Via hanya menyeringai sambil mengarahkan mata pisau kater itu ke arah Ayu.
“Via ... Ini bunda Nak!” teriak Ayu.
__ADS_1
Tanpa basa basi Via melayangkan tangannya yang tengah memegang pisau itu ke arah wajah Ayu.
Pisau itu mengenai pipi Ayu. Ayu berteriak histeris, luka menganga di pipi Ayu denga darah yang menetes ke lantai membuat Ayu sangat syok. Ayu meraih pintu yang sebelumnya belum di kunci olehnya.
Ayu bergegas keluar rumah dan berlari keluar.
Saat keluar dari halaman rumahnya ia berpapasan dengan mobil Dimas, baju daster berwarna merah muda itu telah basah dengan darah.
Ayu berlari menuju mobil Dimas sambil memegangi pipinya yang luka parah tersebut.
Ayu dengan cepat membuka pintu mobil dan langsung menguncinya.
“Astagfirullah sayang kamu kenapa?” tanya Dimas yang sangat terkejut dengan istrinya yang bermandikan darah.
“Nanti saja aku jelaskan Mas, Via mengamuk Mas!”
Karena sangat terkejut tanpa sadar Dimas menginjak pedal gas dan mobilnya melaju. Di saat itu Via berlari sambil memegangi pisau menghampiri mobil Dimas.
Dimas kaget dan tidak dapat mengendalikan mobilnya hingga Via terserempet oleh mobil Dimas.
Via pun langsung tersungkur di aspal dan tidak sadarkan Diri.
“Via!” teriak Ayu.
Ayu langsung keluar mobil dan memeriksa keadaan anaknya tersebut.
Untungnya tidak ada luka serius, Via hanya mengalami luka lebam di wajahnya akibat terjatuh ke aspal.
Dimas langsung mengangkat tubuh anaknya tersebut, dan membaringkannya ke atas kasur lalu kembali mengikat kaki dan tangan Via.
Tidak lupa Dimas menghubungi dokter langgananya untuk segera datang ke rumahnya dan menjelaskan kondisi istrinya.
Sekitar 30 menit berlalu, mobil sang dokter pun tiba. Ia langsung masuk ke dalam rumah.
Ia terkejut bukan kepalang melihat ceceran darah di lantai, serta Ayu yang memegangi pipinya dengan baju berlumuran darah.
“Ada apa ini pak Dimas?” tanya dokter itu.
“Nanti saja saya jelaskan Dok, saya mohon obati istri saya dulu,” ucap Dimas.
Dokter otu bergegas menghampiri Ayu yang terbaring di kasur, saat Ayu melepaskan tangannya dari pipinya dokter itu terkejut.
“Dimas, ini robeknya sangat besar saya tidak bisa melakukan pengobatan di sini.”
“Kita bawa dia ke rumah sakit saja, biar saya bisa langsung menanganinya,” ucap dokter tersebut.
Dimas bergegas mengangkat tubuh Ayu dan memasukkannya ke dalam mobil. Dimas membawa istrinya itu menuju rumah sakit.
“Mas kenapa ninggalin Via sendirian di rumah,” ucap Ayu.
“Gak apa. Semua pintu sudah Mas kunci.”
“Yang terpenting sekarang adalah kamu.”
__ADS_1