Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Kembali


__ADS_3

“Bapaknya tante gak pernah keluar kamar lagi beberapa hari ini,” ucap Wisnu.


“Iya. Bapak saya lagi puasa nanti juga keluar,” sahut Ayu.


“Memang puasanya harus di dalam kamar aja?”


“Iya. Bukan cuma itu, bapak juga gak boleh bicara,” tutur Ayu.


“Oh gitu. Baru tahu saya kalau ada puasa kaya gitu,” sahut Wisnu.


Sudah hampir satu minggu Kuncoro berdiam diri di dalam kamarnya, hingga saat tengah malam Kuncoro keluar dari kamar dan menyuruh semua orang untuk berkumpul di ruang tamu.


“Kita mulai penjemputan malam ini,” ucap Kuncoro.


“Dan Nak Wisnu, saya membutuhkan bantuan. Jemput Via ke alam sana,” pinta Kuncoro.


Wisnu yang masih bingung dan berpikir bagaimana cara ia bisa menjemput Via di alam gaib sedangkan dirinya sendiri berada di alam nyata tengah duduk di atas sofa.


“Aldi ambilkan Bapak tungku kemenyan!” pinta Kuncoro.


Aldi bergegas berjalan menuju dapur untuk mengambil sebuah tungku yang berisi bara api serta membawa sekantung kecil kemenyan.


Aldi meletakkan tungku itu di hadapan Kuncoro, ia mulai menaburkan kemenyan. Seketika asap tipis membumbung tinggi ke atas, tercium aroma kemenyan yang menyengat di seluruh ruangan.


Kuncoro mulai membaca mantra, semua orang terdiam sambil terus memperhatikan Kuncoro.


“Kemarikan tanganmu Nak Wisnu,” pinta Kuncoro.


Wisnu pun mengulurkan tangan kanannya kepada Kuncoro.


Kuncoro mulai mengukir sesuatu di telapak tangan Wisnu dan meletakkan telapak tangan Wisnu ke bagian matanya, setelahnya Kuncoro mengeluarkan botol kecil sebesar jari kelingking berisi minyak.


Kuncoro mengoleskan minyak tersebut ke kedua ibu jadi Wisnu.


“Usapkan minyak ini di kedua alismu dengan menyilangkan kedua tanganmu. Jempol kanan ke alis sebelah kiri dan jempol kiri ke alis sebelah kanan,” pinta Kuncoro.


Wisnu pun mengikuti instruksi dari Kuncoro, seketika mata batin Wisnu terbuka, ia dapat dengan jelas melihat sosok pendampingnya.


‘Jadi dia yang dimaksud bapak Kuncoro kemarin,' batin Wisnu sambil melihat ke arah sosok pria berpakaian kerajaan tersebut.


“Nak Wisnu, Bapak akan mengatarmu ke alam gaib. Bersiaplah,” ucap Kuncoro.


“Tutup matamu dan konsentrasi, rasakan dan jangan dilawan,” pinta Kuncoro.


Wisnu menutup kedua matanya sambil duduk bersila, sedangkan Kuncoro juga duduk bersila di depan Wisnu.


Kepala Wisnu mulai terasa sangat enteng dan merasa seperti ditarik ke sebuah tempat.


“Buka matamu Nak Wisnu,” ucap Kuncoro.


Saat Wisnu membuka mata, ia terperangah karena ia telah berpindah tempat. Tempat gelap yang dipenuhi kabut tipis.


“Tempat apa ini Pak?” tanya Wisnu.


“Ini adalah salah satu wujud dunia gaib yang berisi arwah penasaran, korban tumbal pesugihan, serta korban yang sukmanya dirampas paksa,” sahut Kuncoro.


“Berarti Via berada di sini?” 


“Ya. Hanya kamu yang bisa masuk ke sana Nak Wisnu. Tapi ingat satu hal jangan masuk kemana pun. Di sana terdapat tempat-tempat berkumpulnya para makhluk halus dan jika kamu bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Via jangan di dekati, hiraukan saja,” ucap Kuncoro.


“Mereka pandai mengelabui manusia, kamu pasti mengenal lama cucu saya dan kamu pasti tahu Via yang asli. Satu lagi, jangan menatap mereka terlalu lama maka kamu akan aman berjalan sendirian di tempat itu,” sambung Kuncoro.


“Baik Pak saya mengerti,” sahut Wisnu.


“Saya akan berjaga dan menunggu kalian di sini, agar kita semua bisa kembali,” ucap Kuncoro.


Wisnu pun berjalan masuk ke dalam tempat gelap tersebut, di sana ia merasakan hawa yang sangat berbeda, sahut-sahutan suara aneh terdengar di telinganya namun Wisnu tidak menghiraukannya.


Wisnu terus berjalan hingga melewati satu persatu tempat yang dimaksud Kuncoro.

__ADS_1


Setiap tempat membuatnya tidak percaya Wisnu dengan jelas melihat berbagai makhluk halus yang kesannya seperti memiliki kelompok masing-masing.


Wisnu hanya memandang lurus ke depan sambil berjalan, para makhluk itu menyadari kehadiran Wisnu namun mereka seperti tidak peduli


“Kamu cari siapa?” terdengar suara bisikan di telinga Wisnu.


Wisnu berusaha tidak menghiraukannya dan terus berjalan.


“Kamu ikut aku saja,” bisik suara itu lagi.


Semakin dalam Wisnu berjalan, tempat itu semakin gelap jarak pandang pun menjadi terbatas.


Hingga dari kejauhan Wisnu melihat seorang wanita tengah duduk meringkuk.


‘Apa itu Via?’ batin Wisnu.


Wanita itu tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Wisnu.


Wajahnya sangat mirip dengan Via, Wisnu perlahan menghampirinya tapi tiba-tiba Wisnu mendapat bisikan entah dari mana.


“Itu bukan dia.”


Langkah Wisnu langsung terhenti, dan benar saja sosok wanita yang mirip dengan Via itu berubah menjadi sosok kuntilanak.


Suara tawanya melengking seakan seluruh tempat itu penuh dengan suara tawanya.


Wisnu pun berjalan ke arah lain di sana ia melihat banyak sosok wanita namun berbeda, mereka berwujud seperti manusia hanya saja wajahnya sangat pucat seperti mayat hidup.


Wisnu mulai melewati mereka, mata mereka terus menatap tajam ke arah Wisnu.


Wisnu menangkap tangan salah satu wanita yang tengah berdiri membelakanginya.


Wanita itu pun berbalik.


“Wisnu ... Itu kamu kan?” ucapnya.


Via pun langsung memeluk Wisnu dengan derai air mata.


“Aku kita aku gak bisa ketemu kamu lagi,” ucap Via.


“Udah sekarang kita pulang.”


Wisnu pun menarik tangan Via, namun beberapa wanita yang ada di sekitar Via menarik tangan Via.


“Ini tempat kita jangan pergi kemana-mana!” 


“Gak ini bukan tempatku!” ucap Via sembari menarik tangannya.


Wisnu dengan cepat menarik Via dengan sekuat tenaga dan membawanya berlari.


Tak di sangka para wanita yang mereka bilang adalah korban itu malah balik mengejar Via mereka seakan tidak ingin Via pulang.


Wisnu dan Via berlari menghindari mereka, pergerakan Wisnu dan Via itu rupanya mengundang makhluk lain yang tadinya hanya diam saat Wisnu masuk sekarang mereka malah mengejar dan berusaha menangkap Wisnu serta Via.


Wisnu berlari tanpa henti, begitu pula dengan Via. Hingga ia di hadang oleh sosok mawar.


Wajahnya yang mengerikan dengan penuh darah itu menunjukkan ekspresi marahnya. Saat marah wajah Mawar berubah.


Wajahnya hancur mata sebelah kirinya tidak memiliki bola mata dengan cepat ia melesat menghampiri Via dan kembali membawanya masuk ke dalam kegelapan yang di penuhi oleh makhluk halus itu.


Tidak tinggal diam Wisnu kembali mengejar dan mendapatkan Via kembali, saat itu lah Kuncoro datang.


Kuncoro melemparkan sesuatu kepada semua makhluk itu sambil membaca mantra, sedangkan Via dan Wisnu melarikan diri di susul oleh Kuncoro.


“Kita harus cepat!” ucap Kuncoro.


Mereka melihat ada sebuah titik kecil berwarna putih. 


“Ikuti cahaya itu, itulah jalan kita untuk pulang,” ucap Kuncoro.

__ADS_1


Mereka berlari menghampiri cahaya tersebut semakin lama cahaya itu semakin terang hingga membuat mata mereka silau hingga cahaya silau itu menghilang.


*** 


“Nak Wisnu ... Nak Wisnu,” panggil Kuncoro.


Wisnu membuka matanya. “Bapak,” ucap Wisnu.


Wisnu rupanya terbaring di kasur dengan di kelilingi oleh Ayu dan Dimas.


Saat tersadar, Wisnu langsung menanyai keadaan Via.


“Via ... Pak Via dimana?” ucap Wisnu.


Kuncoro tersenyum simpul, “Via baik-baik saja.”


“Wisnu Tante benar-benar berterima kasih sama kamu,” ucap Ayu.


“Apa Via kembali?” tanya Wisnu.


“Iya Nak Wisnu, beruntung kamu ikut kesini,” sahut Kuncoro.


Wisnu pun bangkit dari tempat tidurnya karena melihat sosok wanita yang sudah ia selamatkan yaitu Via.


“Muka kamu kok tegang gitu sih?” ucap Via sambil terkekeh tertawa.


Wisnu langsung menghampiri Via yang tengah berdiri di ambang pintu.


Tanpa basa-basi Wisnu memeluk erat Via dan berkali-kali mengucap syukur.


“Aku berhutang banyak sama kamu Wisnu, makasih ya,” ucap Via dengan mata yang berkaca-kaca sambil memeluk erat Wisnu.


“Aku nungguin kamu sadar lama banget, aku pikir kamu mati,” sambung Via.


Wisnu melepas pelukkannya, “Maksud kamu apa?” tanya Wisnu.


“Saat saya dan Via kembali, kamu malah tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Saya mencoba mencari tahu dan rupanya kamu belum kembali dan terperangkap di sana. Beruntung saya masih memiliki energi untuk menarik sukmamu kembali ke ragamu,” tutur Kuncoro.


“Pantas saja saat itu aku merasa masih berada di suatu tempat sendirian.”


Ayu dan Dimas tidak henti-hentinya berterima kasih kepada Wisnu atas apa yang telah ia lakukan.


“Apa ada cara biar aku bisa balas semua ini?” tanya Via.


“Ada.”


“Apa? Kerja selamanya di hotel? Hahaha,” sahut Via.


“Jadi istri aku, udah itu aja.”


Mendengar hal itu Via langsung terdiam seakan tidak percaya, rasa bahagia sekaligus malu karena hal itu di saksikan oleh Ayu dan Dimas.


“Ayah setuju,” sahut Dimas.


“Kok Ayah yang jawab sih?” ucap Via.


“Bunda juga setuju,” ucap Ayu.


“Orang tua kamu sudah setuju, gimana kita langsung ke KUA?” ucap Wisnu.


“Apaan sih,” ucap Via dengan wajah yang memerah.


Suasana hangat kembali tercipta, kini tidak ada lagi rasa cemas dan kesedihan. Ayu dan Dimas tak henti-hentinya mengucap kata syukur.


Kini keluarga mereka kembali sempurna, kebahagiaan yang dulu di rampas kini kembali.


Sosok mawar tidak akan bisa kembali, karena lukisan itu sudah musnah bersama dendam yang ada di hatinya.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2