
“Via kamu ngapain jongkok di situ?” tanya Wisnu.
Via bergegas menghampiri Wisnu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Wisnu temenin aku turun ke bawah,” ucap Via.
“Ini kamu kenapa sih?” tanya Wisnu bingung.
“Aku mohon temenin aku turun ke bawah!” ucap Via lagi.
“Oke ... Oke. Kita turun sekarang.”
Wisnu dan Via masuk ke dalam lift dan akhirnya Via bisa turun dari lantai itu tanpa harus kembali lagi.
Saat di dalam ruangan Via, Wisnu menanyakan perihal sikap Via.
“Kami tadi kenapa sih?”
“Aku gak tahu, kejadian itu aneh banget dan gak masuk logika,” sahut Via.
“Coba kamu jelasin dulu deh, ini sebenarnya masalahnya apa,” ucap Wisnu.
“Aku terjebak di lantai dua, berkali-kali aku masuk lift aku pencet tombol lantai tiga tapi aku malah balik terus ke lantai dua. Aku coba naik pakai tangga darurat tapi tetap sama ujung-ujungnya aku sampainya malah di lantai dua lagi,” tutur Via.
“Oke kamu tenangin diri kamu dulu ya,” Wisnu berusaha menenangkan Via.
“Sepi banget di sini, yang lain mana?”
“Resign,” sahut Via singkat.
Wisnu terkejut dengan ucapan Via, pasalnya di hotelnya dalam seminggu terakhir ada banyak karyawan yang mengundurkan diri.
Di sisi lain Ayu dan Dimas ingin berkeliling hotel terlebih dahulu.
Ayu turun ke lantai dua, sayangnya yang ada di lantai dua hanya bar saja selebihnya sudah di tutup.
Saat itu juga Ayu dan Dimas terperangah melihat lukisan itu terpajang di dinding koridor lantai dua.
Seketika Ayu dan Dimas langsung berlari menuju lift dan turun ke area lobi.
“Mas kenapa lukisan itu ada di sini,” ucap Ayu.
“Entah lah, apa jangan-jangan Darma yang membawanya ke sini,” pikir Dimas.
“Mas kita harus pulang Mas! Aku gak mau berada di hotel ini Mas!”
Ayu terlihat sangat trauma dengan lukisan tersebut, ia mendesak Dimas untuk segera check-out dari kamar itu.
Mau tidak mau Dimas menuruti kehendak istrinya itu, di temani oleh seorang bell boy Ayu dan Dimas masuk ke dalam kamar lalu mengambil semua barang-barang mereka.
Panik dan takut, itu lah yang tergambar dalam raut wajah Ayu. Jari jemarinya pun terlihat gemetar.
Mereka pun turun le lobi lalu menyelesaikan administrasi dan pulang ke rumah.
Di perjalanan Ayu menghubungi Via dan mendesak Via untuk berhenti dari hotel tersebut.
Ayu merogoh tas jinjing berwarna biru pastel itu dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
Beberapa detik telepon tersambung dan Via pun mengangkat telepon darinya.
“Halo bunda,” ucap Via di balik telepon.
“Via secepatnya kamu harus berhenti dari hotel itu,” ucap Ayu.
“Maksud bunda gimana sih? Kok tiba-tiba ngomong gini?” ucap Via.
“Bunda mohon kali ini dengerin omongan bunda sayang, ini demi keselamatan kamu,” ucap Ayu.
“Bun, Via gak bisa.”
“Via sekarang sedang berjuang mempertahankan pekerjaan ini, Via harus pasang wajah tebal di hadapan orang-orang yang memojokkan Via. Via gak mau melepas pekerjaan ini begitu aja apa lagi dengan alasan yang tidak jelas,” sahut Via.
“Tapi sayang ini demi keselamatan kamu, tempat itu berbahaya,” ucap Ayu meyakinkan Via.
Ayu terus meyakinkan Via namun, anak semata wayangnya itu tidak ingin kehilangan pekerjaan serta karirnya. Via menutup telepon tanpa aba-aba. Hal itu membuat Ayu sangat sedih.
“Mas gimana ini Mas, aku tidak mau terjadi hal buruk kepada Via seperti aku dulu,” ucap Ayu sembari terisak.
“Saba sayang, kita harus ngomong pelan-pelan kepada Via. Anak kita itu sudah besar bukan anak kecil yang bisa kita perintah seenaknya,” tutur Dimas.
“Tapi Mas kalau Via celaka gimana,” ucap Ayu.
“Udah kita sekarang pulang dulu, kamu tenangin diri kamu dulu. Nanti malam biar mas yang bicara kepada Via,” ucap Dimas.
Di kantornya, Via sangat frustrasi karena tiba-tiba Ayu menyuruhnya untuk berhenti bekerja di hotel itu.
Hal itu membuatnya tidak fokus dalam pekerjaanya. Hingga jam istirahat, Via tak kunjung keluar ruangannya untuk makan siang.
Via melamun memikirkan masalah pekerjaannya, staf, serta ibundanya.
“Via makan di luar yuk,” ajak Wisnu.
Via mengangguk, ia mengambil tas jinjingnya dan berjalan menuju lift.
Mereka pun berjalan ke basemen dan masuk ke dalam mobil. Terlihat Via hanya terdiam dan sesekali melempar senyuman tipisnya kepada Wisnu.
“Kamu kenapa sih?” tanya Wisnu.
“Gak apa-apa,” sahut Via.
“Kamu jangan bohong, aku bisa melihatnya dari raut wajah kamu,” ucap Wisnu.
“Bunda tiba-tiba meneleponku dan meminta aku untuk berhenti dari hotel,” sahut Via.
“Kok gitu, bukannya bunda kamu senang banget kamu kerja di hotel aku?”
“Aku gak tahu. Bunda gak ngasih tahu alasannya bunda hanya bilang ini demi keselamatanku,” sahut Via.
“Ini gak masuk akal Via, pasti ada alasan lain. Apa karena aku?” tanya Wisnu.
“Bunda sama sekali gak nyinggung masalah kamu. Sepertinya ada masalah lain.”
Mobil pun berhenti di sebuah rumah makan padang yang biasa Via dan Wisnu datangi. Mereka mencari tempat duduk lalu memesan makanan.
Mereka pun menyantap makanan yang mereka pesan hingga habis.
__ADS_1
Mereka pun kembali ke hotel, Via melanjutkan pekerjaannya walaupun dengan suasana hati dan pikiran yang kacau.
Hingga pukul 18.00 Via bersiap untuk pulang, Via berjalan menuju basemen dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobil pun melaju menuju rumahnya, di perjalanan beberapa kali Via menghela nafas karena pasti masalah pekerjaannya itu akan di bahas saat ia pulang ke rumah.
‘Rasanya malas pulang,' batin Via.
Via pun masuk ke dalam rumah, terlihat rumah itu sepi tidak terlihat keberadaan Ayu di ruang tamu.
Via pun langsung masuk ke dalam kamarnya lalu berganti pakaian.
Tidak lama terdengar suara ketukan pintu, dan ternyata itu adalah Dimas.
“Via,” ucap Dimas sambil mengetuk pintu.
Via membuka pintu kamarnya, “ Ada apa Yah?” tanya Via.
“Bisa Ayah bicara sama kamu sebentar?” tanya Dimas.
“Pasti masalah pekerjaan Via kan?” sahut Via ketus.
“Kita ngobrol di ruang tamu ya,” pinta Dimas.
Via pun keluar kamar dan mengikuti Dimas menuju ruang tamu.
Via hanya terdiam sambil menahan rasa kesalnya.
“Begini Via, Ayah tahu kamu pasti tidak ingin melepaskan pekerjaan itu. Tapi ini demi keselamatan kamu,” ucap Dimas.
“Keselamatan ... Keselamatan terus yang Ayah dan bunda ucapkan. Memangnya keselamatan apa Yah? Memangnya hotel itu tempat berbahaya? Bisa bikin orang mati atau celaka?” sahut Via dengan nada yang cukup tinggi.
“Via! Jangan bicara seperti itu sama ayah kamu!” bentak Ayu yang tiba-tiba datang.
“Pokoknya Via gak mau berhenti dari pekerjaan itu titik!”
Via berjalan melewati Ayu dan masuk ke dalam kamarnya, sedari tadi Via menahan rasa kesalnya hingga membuatnya menangis.
Via merasa orang tuanya tidak memberikan alasan yang jelas serta meminta ia untuk berhenti begitu saja.
‘Kenapa sih ayah sama bunda, kenapa mereka ingin aku berhenti,' Via bermonolog sambil menitikkan air mata.
‘Aku dengan susah payah mempertahankan jabatan itu dan memberikan yang terbaik untuk hotel itu. Tapi sekarang bunda malah memintaku berhenti,' Via bermonolog.
Via menangis sesenggukan, hingga ia mendengar sebuah bisikan dari seseorang, suara itu samar namun Via masih bisa mendengarnya.
“Ikut aku saja maka kamu akan bahagia,” ucap suara itu.
Spontan Via langsung berdiri dan melihat sekeliling kamarnya.
“Siapa kamu?” pekik Via.
Tiba-tiba dari pojok kamarnya Via melihat sosok wanita bergaun merah, Wanita itu bergerak cepat menghampiri Via lalu masuk ke dalam tubuhnya.
Seketika tatapan Via menjadi kosong. Rupanya wanita itu sudah lama mengincar jiwa Via namun ia tidak bisa mengambilnya begitu saja.
Saat Via merasa stres dan frustrasi serta hati yang di penuhi emosi, itulah saat yang tepat bagi sosok wanita itu merasuki tubuh Via karena saat itu energi negatif yang Via hasilkan sangat kuat.
__ADS_1
Maka wanita bergaun merah itu lebih mudah untuk masuk ke dalam tubuh Via.