Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Meninggalnya Ismail


__ADS_3

Seluruh staf hotel heboh atas kejadian yang menimpa Ismail, garis polisi terpasang. 


Sementara terlihat dari CCTV barang-barang yang ada di rak atas itu terjatuh seperti ada yang sengaja menjatuhkannya.


Saat di larikan ke rumah sakit Ismail sempat di tangani oleh para dokter, namun nyawanya tidak tertolong.


Para rekan housekeeping sangat berduka atas kejadian ini.


Sementara itu di rumah duka isak tangis mengiringi kedatangan jenazah Ismail dari rumah sakit, orang tua Ismail memeluk erat tubuh anaknya yang baru saja di turunkan dari mobil ambulan itu.


Sejumlah rekan hotel pun berdatangan termasuk Via.


Via sangat terpukul oleh hal ini, mengingat Ismail adalah karyawan lama dan juga begitu dekat dengan para staf yang lain.


Jenazah Ismail di mandikan lalu di kafankan dan akan di sholatkan di mushola dekat rumahnya.


Derai air mata tidak terbendung, Via sampai sesenggukan menangisi kepergian staf terbaiknya itu.


Begitu pula dengan Ari yang tidak kuasa melihat lagi jenazah Ismail, kejadian itu begitu membekas sampai Ari sering terbayang wajah Ismail saat itu.


Jenazah Ismail di antarkan ke peristirahatan terakhirnya, saat di masukkan ke liang lahat, Ibu dari Ismail kembali meraung menangisi kepergian anaknya yang juga tulang punggung keluarga itu.


“Ya Allah Ismail kenapa kamu meninggalkan ibu nak,” ucapnya sambil menangis.


Saat pemakaman selesai dan semua orang satu per satu pergi, Via beserta staf lainnya duduk di samping pusara Ismail.


“Bang Mail, semoga kamu tenang di sana ya dan di terima di sisi Allah,” ucap Rosa.

__ADS_1


Satu per satu staf housekeeping itu mengucapkan salam perpisahan terakhir untuk almarhum Ismail termasuk Via.


“Ismail, terima kasih karena selama ini kamu sudah banyak berjasa bagi kami. Semoga kamu tenang dan alam ibadahmu di terima Allah,” ucap Via.


“Aamiin,” sahut mereka serentak.


Mereka pun meninggalkan makam Ismail, dan kembali menuju hotel.


Saat di hotel suasana sangat suram, kesedihan kehilangan Ismail masih begitu terasa.


Via juga di salahkan atas kejadian ini karena dianggap lalai menjalankan SOP yang sudah di tetapkan pihak hotel.


Via juga mendapat kecaman keras atas kejadian ini, beberapa manajer department pun menyudutkannya walaupun dari pihak polisi kejadian itu memang kecelakaan.


Wisnu yang saat itu baru saja datang pun langsung menghampiri Via yang tengah meringkuk di atas meja kerjanya.


“Via,” ucap Wisnu.


“Jadi benar Ismail meninggal?”


“Ya ... Tepatnya di ruangan itu,” sahut Via sambil menunjuk ruang Pantry.


“Entah kenapa banyak kejadian gak masuk logika di hotel ini,” sambung Via.


“Apa ada sesuatu yang membuat hotel ini jadi aneh,” ucap Wisnu.


“Lukisan itu, aku curinga dengan benda itu,” ucap Via.

__ADS_1


“Mana mungkin Via, itu hanya lukisan gak mungkin bisa bunuh orang,” Wisnu terkekeh.


“Mungkin saat ini Bapak Wisnu bisa tertawa, tapi kalau mengalami sendiri pasti lain cerita,” ucap Via.


“Udah lah, kalau benda mistis seperti keris atau semacamnya aku percaya. Tapi ini lukisan Via,” ucap Wisnu.


“Sepertinya bapak Wisnu yang terhormat bisa keluar dari ruangan saya sekarang,” ucap Via tegas.


Tanpa bicara apa pun Wisnu keluar dari ruangan Via, hal itu di saksikan oleh Rosa dan juga Ronald.


“Bu Via gak apa-apa?” tanya Rosa.


“Gak apa-apa kok tenang aja,” sahut Via.


Tanpa Via sadari, Rosa mendengar percakapan Via dan Wisnu tentang lukisan tersebut. Rosa pun menanyakan perihal lukisan itu kepada Ronald.


“Ronald, memangnya di hotel ini ada lukisan hantu ya?” tanya Rosa.


“Aku gak tahu, tapi aku pernah ketemu wanita yang mirip sama lukisan yang ada di lantai 2,” sahut Ronald.


“Ah ... Masa iya. Salah lihat mungkin kamu.”


“Serius, Ismail juga gitu sebelum meninggal. Aku tahu itu dari Ari,” sahut Ronald.


“Kok serem sih ... Kayanya aku harus cari tempat kerjaan baru deh,” ucap Rosa.


Beberapa minggu berlalu, hotel milik Damar itu semakin lama semakin sepi. Berbagai macam upaya dilakukan oleh pihak marketing untuk meningkatkan penjualan kamar.

__ADS_1


Hingga penurunan harga kamar yang gila-gilaan. 


Hotel yang dulunya ramai pengunjung kini menjadi sepi, hanya ada beberapa kamar yang terisi di hotel itu.


__ADS_2