Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Jiwa-jiwa yang Terjebak


__ADS_3

‘Dia membawaku ke tempat ini,” ucap wanita itu.


“Dia? Dia siapa?” tanya Via.


“Wanita itu! Mawar,” sahutnya.


“Mawar? Wanita dalam lukisan itu?” 


“Ya. Dia bukan wanita tapi iblis! Wajahnya mengerikan. Dan jika kamu bertemu dengannya jangan pernah menatapnya!” ucap wanita itu.


“Sebenarnya dia siapa?” tanya Via.


“Dia bukan lagi arwah, tapi dia Iblis. Dia selalu mencari jiwa manusia untuk diambil,” sambungnya.


“Lalu kenapa kamu tidak bisa kembali?” tanya Via lagi.


“Karena aku sudah mati! Keluargaku tidak peduli kenapa atau bagaimana aku mati. Mereka hanya memakamkan tubuh ku tapi jiwaku terjebak di tempat ini,” ucapnya menangis tersedu.


“Bagaimana jika kita mencari jalan keluar bersama.”


Wanita itu menggelengkan kepalanya. “ Tidak ada tempat untukku kembali. Aku sudah mati!” pekiknya.


“Siapa bilang. Kita punya Tuhan, di sanalah setiap manusia akan kembali.”


Via pun berusaha mengajak wanita tersebut, hingga wanita itu mau berjalan mengitari jalan bersamanya.


Saat semakin dalam berjalan ada banyak orang-orang yang terjebak dan semuanya wanita.


Hingga Via ingin memasuki sebuah ruangan dengan cahaya sedikit kemerahan.


“Kamu jangan ke sana!” wanita yang Via temui itu menarik tangannya.

__ADS_1


“Kenapa? Bukannya di sana lebih terang,” ucap Via.


“Disana wujudnya mengerikan,” sahutnya.


Karena Via penasaran, ia pun mencoba masuk. Benar saja terlihat wujud-wujud mengerikan, wujudnya manusia namun dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. 


Ada banyak wujud tanpa kepala di sana, bahkan kepala mereka ada yang tergantung di sebuah pohon besar. Saat Via masuk mereka semua berbalik dan ingin menghampiri Via, lantas Via berlari dan keluar dari tempat itu.


“Ini sebenarnya tempat apa?” tanya Via.


“Ini sisi gelap dunia gaib, tempat para arwah penasaran, korban tumbal pesugihan, serta wanita-wanita yang jiwanya di ambil paksa,” sahut salah satu wanita.


“Kenapa kamu bisa tahu?”


“Aku sudah sangat lama terjebak ada banyak peristiwa yang aku lihat di tempat ini. Aku juga sudah mati dan bahkan tubuhku mungkin sudah jadi abu sekarang,” sahutnya dengan santai.


“Lalu dari mana biasanya mereka datang?” tanya Via.


“Di sana, di jalan yang gelap itu ada sebuah jembatan. Mereka biasanya menarik jiwa manusia dari sana,” ucapnya.


Jembatan gantung yang sudah sangat usang, di bawahnya terdapat jurang yang tidak terlihat dasarnya karena di selimuti kabut.


Via berlari menghampiri jembatan itu, semakin Via berlari jembatan itu seakan semakin menjauh hingga Via kelelahan.


“Percuma. Jika bisa kami tidak akan selamanya terjebak di tempat ini,” ucap wanita itu.


“Nama kamu siapa? Sepertinya kamu yang lebih mengetahui tempat ini,” ucap Via.


“Aku Ester, pada tahun 1970 aku jatuh sakit, seorang wanita mendatangiku dia berdiri di sampingku lalu dengan keji menusuk belati tepat di jantungku lalu mengambil darahku, setelahnya tiba-tiba aku sudah berada di tempat ini tapi anehnya aku masih bisa melihat apa yang wanita itu lakukan.”


“Apa kamu korban persembahan?” tanya Via sedikit ragu.

__ADS_1


“Ya. Di tempatku saat itu ada kepercayaan aneh jika ada wanita sakit parah saat menstruasi maka itu dianggap akan terjadi bencana. Entah mereka dapat teori itu dari mana tapi yang jelas aku di persembahkan untuk patung yang mereka sembah dan memohon untuk tidak di turunkan bencana,” tuturnya.


Mendengar hal tersebut Via sempat terperangah, di zaman itu rupanya sudah ada ritual sesat seperti itu.


Ester wanita berambut pirang dengan wajah campuran itu tidak terlihat seperti yang lainnya, ia terlihat santai tidak sedih atau yang lainnya. Tidak seperti wanita yang pertama kali Via temui, dia menangi meraung dengan penuh kesedihan.


Via bingung apa yang harus ia lakukan agar bisa keluar dari tempat tersebut, ia berharap akan ada ke ajaiban untuk membebaskannya serta semua orang yang terjebak di sana bersamanya.


Di sisi lain di kediaman Kuncoro, Ayu dan Dimas tengah duduk di sofa sambil terus memantau keadaan Via.


Via duduk termenung dengan tatapan kosongnya.


“Pak. Bagaimana ini lukisan itu bisa hancur tapi Via tidak kembali Pak,” ucap Ayu.


“Bapak juga bingung, kekuatan spiritual Bapak juga tidak mempan Nak.


“Lalu kita harus bagaimana Pak,” ucap Ayu dengan bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.


“Nanti bapak pikirkan caranya, dan mencari orang yang bisa menolong kita,” ucap Kuncoro.


Tidak lama Wisnu keluar dari kamar dan menghampiri mereka yang tengah duduk di sofa.


“Gimana tidurnya Nak Wisnu nyenyak?” tanya Kuncoro.


“Nenyak Pak lumayan,” sahut Wisnu sambil membuka kamar Via lalu melihat keadaan Via.


“Via masih seperti kemarin,” ucap Wisnu.


“Iya sepertinya menghancurkan lukisan itu juga tidak ada pengaruhnya,” sahut Kuncoro.


Semua orang menghela nafas, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan saat ini, hingga ucapan spontan Wisnu membuka pikiran mereka.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan Via yang asli sedang terjebak,” ucap Wisnu.


Dari situ Kuncoro langsung teringat dengan Jiwa Ayu yang dulu terjebak, tapi Kuncoro sudah terlalu tua untuk melakukan penjemputan ke alam gaib tersebut mengingat untuk pergi ke tempat itu membutuhkan energi yang besar.


__ADS_2