Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Penemuan tubuh buruh bangunan


__ADS_3

Penerangan cukup minim di tempat itu, suasana hotel juga sepi di tambah suara rintikan gerimis yang baru saja datang.


Udara dingin masuk ke dalam tempat itu menambah suasana seram, angin berembus entah dari mana.


Namun Via tetap melanjutkan aksinya, rupanya rasa penasarannya lebih besar ketimbang rasa rajutnya.


Semakin masuk ke belakang, rungan semakin gelap. Beberapa tepat juga sengaja di tutupi terpal untuk mencegah orang lain masuk.


Via menyalakan senter yang ada di ponselnya, samar-samar dia mendengar seperti ada seseorang yang sedang mengetuk-ngetuk kayu.


Via pun bergegas mendatangi sumber suara itu, Via masuk ke dalam konstruksi yang masih seperempat jadi itu.


Susunan kayu masuh berjejer di atas, yang digunakan untuk pijakan para buruh bangunan.


Saat Via sampai di ujung, Via tidak melihat siapa pun di sana, suara itu juga berangsur menghilang.


‘Aneh. Jelas-jelas aku mendengarnya barusan,' Via bermonolog.


Tiba-tiba saja semua bola lampu LED yang di pasang itu mati, hanya ada senter dari ponselnya saja.


‘Aduh, kok mati sih,' batin Via.


Dengan cepat Via bergegas keluar dari tempat itu, Via berjalan hati-hati karena di tempat itu ada banyak kayu serta peralatan yang diletakkan di atas lantai, tanpa sengaja Via tersandung dan hampir terjatuh. Beruntung Via masih bisa menyeimbangkan tubuhnya tapi, pengait terpal biru penutup ruangan itu lepas akibat Via injak.

__ADS_1


‘Eh ... Aku nginjak apaan nih,' Via bermonolog.


Via merasa kakinya menginjak sesuatu, rasanya seperti menginjak tubuh seseorang. Via mengarahkan senternya ke bawah kakinya.


Spontan Via berteriak, Via melihat dirinya tengah menginjak tubuh seseorang yang tertutup terpal.


Tubuhnya berlumuran darah dengan luka menganga di bagian wajah.


Karena teriakan Via cukup kencang, membuat seorang bell boy penjaga pintu yang saat itu akan pulang langsung bergegas menghampiri Via.


“Siapa di sana?” ucapnya sambil menyoroti ruangan gelap itu.


“Via!” teriaknya.


“Bu Via,” ucapnya.


Via bernafas lega saat meligat bell boy itu menghampirinya.


“Adim kan?” ucap Via.


“Iya Bu, kenapa Ibu di sini?” tanya nya.


“Saya cuma lagi cek aja pas saya sampai saya lihat orang ini tergeletak di sini.”

__ADS_1


“Astagfirullah,” pekik Adim.


“Ini kenapa Bu?” tanyanya.


“Saya juga gak tahu, kita keluar dulu terus laporkan ke bagian keamanan,” pinta Via.


Via dan Adim pun keluar dari ruang itu dan memberi tahukan jika ada seorang pekerja bangunan tergeletak di ruangan yang tertutup terpal.


Lampu-lampu kembali di nyalakan, para penjaga mulai masuk ke dalam. Dan benar saja ada seseorang di sana dengan kondisi bersimbah darah.


Area lobi yang awalnya sepi kini menjadi sangat ramai karena laporan penemuan tersebut.


Para staf yang akan pulang saat itu pun berkumpul untuk mengetahui apa yang terjadi, hingga iring-iringan mobil polisi datang beserta sebuah mobil ambulan.


Via cukup syok dengan kejadian ini, pasalnya ia orang pertama yang menemukan buruh bangunan itu.


Beberapa polisi mulai meminta keterangan dari Via serta staf yang lain.


“Saya cuma cek saja pak, karena biasanya sebelum pulang saya akan periksa seluruh area karena itu tugas saya,” sahut Via.


“Baik bu Via, kami akan mendalami kasus ini terlebih dahulu. Apakah ini memang kecelakaan kerja atau ada unsur kekerasan.”


“Kami akan kembali besok pagi untuk meminta penjelasan dari mandornya langsung,” ucap polisi itu.

__ADS_1


“Baik pak terima kasih,” ucap Via.


__ADS_2