
Saat Via tengah sibuk memeriksa laporan, tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam ruang housekeeping dan mengetuk pintu ruangan Via.
Tok tok tok.
“Ya masuk,” sahut Via
“Selamat siang Bu Via,” ucap salah seorang pria berpakaian seragam polisi.
“Ya Pak selamat siang, silahkan duduk,” ucap Via.
“Kami hanya ingin meminta kesaksian saja atas kejadian yang menimpa ibu Farida,” ucapnya.
“Ibu Farida?”
“Iya betul, beliau yang meninggal saat berada di hotel ini.”
“Oh iya saya tahu. Lalu ada apa pak?”
“Apa saat di lokasi kejadian Ibu melihat kejadian itu?” tanya nya.
“Sebenarnya posisi saya saat itu di lantai 2 dan yang berada di situ saat itu salah satu staf kami namanya Ronald.”
“Boleh kami bertemu dengan orang yang bernama Ronald itu?”
“Bisa. Tunggu saya panggilkan.”
__ADS_1
Via pun memanggil Ronald menggunakan HT nya dan memerintahkan Ronald untuk segera turun ke lantai 1 dan ke ruangannya.
Sebelumnya Ronald sudah mengetahui jika akan di introgasi oleh para polisi.
Tidak lama Ronald pun datang dan masuk ke ruangan Via.
“Anda yang bernama Ronald?”
“Betul Pak.”
“Bisa anda jelaskan bagaimana kronologi kejadian yang menimpa ibu Farida.”
“Saya juga kurang tahu pasti, yang jelas saat saya sibuk di pantry saya dengar ada orang teriak dan saya spontan keluar dari pantry. Saat itu saya lihat ibu itu teriak terus lari lalu nabrak dinding. Kalau bapak ragu dengan ucapan saya bapak bisa cek CCTV,” ucap Ronald.
“Bu Via boleh antar kami untuk melihat rekaman CCTV?” pintanya.
“Boleh dengan senang hati,” ucap Via
Via beranjak dari tempat duduknya dan dan berjalan menuju lift di ikuti oleh beberapa anggota polisi, saat sampai di depan ruang operator Via meminta staf operator untuk memperlihatkan rekaman di lantai 3 koridor pertama.
Mereka memperhatikan rekaman itu dengan teliti bahkan memantau dengan sangat teliti.
Setelah melihat rekaman itu mereka bingung karena tidak ada satu orang pun di sana.
***
__ADS_1
Beberapa hari berlalu, polisi sudah menetapkan kasus kematian ibu Farida sebagai kecelakaan tidak ada unsur kekerasan atau penyerangan.
Via bisa bernafas lega atas hal ini, ia bisa kembali bekerja dengan perasaan hati yang tenang.
Hingga saat dimana salah satu bagian dari hotel itu di renovasi dan melibatkan sekitar 10 orang buruh bangunan dan seorang mandor.
Renovasi itu ditujukan untuk peluasan area belakang lobi yang nantinya akan di jadikan tempat bersantai dengan berbagai fasilitas untuk tamu yang menunggu saat check-in atau pun yang sedang menginap.
Pengerjaan bangunan baru berjalan 20% namun sudah ada banyak kendala.
Dari mulai alat yang mesinnya tiba-tiba mati dengan sendirinya, hilangnya benda-benda kecil seperti oleng, bor listrik dan lainnya.
Hingga suatu hari ada hal yang membuat pembangunan itu terhenti.
Salah satu dari buruh bangunan itu terjatuh dari tangga hingga menyebabkan kakinya patah dan terparah ada satu buruh yang tangannya terpotong saat sedang memotong keramik.
Kejadian demi kejadian terus berlanjut hingga banyak buruh bangunan yang berhenti dan proses pembangunan pun menjadi lamban.
Via pun penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada area lobi itu, saat pukul 19.00 malam.
Saat Via akan pulang, Via memeriksa bagian belakang lobi, tempat yang cukup lembab, gelap dan mungkin akan membuat bulu kuduk merinding saat masuk ke dalamnya.
Hanya ada beberapa lampu di area itu, Via mengira-ngira posisi area pembangunan itu dan ia menyimpulkan posisinya tepat di bawah koridor lantai 2 dengan lukisan tua di bagian dindingnya.
‘Apa ini ada hubungannya dengan lantai 2?’ batin Via.
__ADS_1