
Wisnu sampai di rumah sakit yang ia tuju dan langsung mencari ruangan Ayu.
Sebelumnya Dimas juga sudah memberi tahu Wisnu di ruangan mana Ayu dirawat.
Winsu langsung membuka pintu, Ayu yang melihat Wisnu datang pun langsung emosi.
Dia melemparkan semua barang yang ada di atas meja ke arah Wisnu.
“Ta-tante sabar, saya ke sini mau minta maaf,” ucap Wisnu sambil menghindar dari lemparan benda oleh Ayu.
“Tante saya mohon dengerin dulu penjelasan saya,” pinta Wisnu.
‘Kalau bukan karena jahitan ini, habis kamu Wisnu aku maki,' batin Ayu.
“Tante, saya mau minta maaf,” ucap Wisnu sambil tertunduk.
Ayu hanya terdiam karena ia sendiri tidak terlalu bisa menggerakkan mulutnya akibat jahitan tersebut.
Ayu hanya mendehem, melakukan kontak mata serta menggeleng kepala.
“Terserah Tante mau terima permintaan maaf saya ini atau tidak. Sebenarnya sebelum kejadian ini Via bulang ke saya kalau tante melarangnya untuk bekerja di hotel saya tanpa alasan yang jelas. Saat itu saya kesal juga. Besoknya saya terima kabar dari tante dan yang membuat saya curiga adalah tante melarang saya untuk menjenguk Via, makanya saya langsung berpikir kalau Via lagi di kurung di rumah lalu di larang untuk bekerja,” tutur Wisnu.
“Tapi ... Setelah saya mendengar cerita dari om Dimas saya langsung tersadar dan memang benar lukisan itu pembawa bencana. Tapi saya sudah membuangnya,” sambung Wisnu.
Ayu mengambil bolpoin serta kertas yang telah di sediakan sebelumnya oleh Dimas untuk Ayu bisa berkomunikasi.
“Lukisan itu akan kembali ke tempatnya semula,” tulis Ayu di secarik kertas.
Ia memberikan kertas itu kepada Wisnu, Wisnu sendiri bingung kenapa Ayu harus repot-repot menulis di kertas padahal bisa di ucapkan saja.
Saat itu Wisnu tidak melihat perban yang menempel di pipi kanan Ayu, karena posisi Wisnu saat itu berada di sebelah kiri.
Saat membaca tulisan itu Wisnu akhirnya bertanya kepada Ayu.
“Tante kenapa gak ngomong aja, tante masih marah ya sama saya?”
Ayu pun memalingkan wajahnya ke arah Wisnu memperlihatkan perban menempel di pipi Ayu.
“Astaga Tante wajah tante kenapa?” ucap Wisnu kaget.
Ayu kembali menulis sesuatu di kertas, “ini gara-gara kamu lepas ikatan Via, Via mengamuk dan menyerang saya dengan pisau,” tulisnya.
Wisnu pun terperangah mendengar ucapan Ayu, dia tidak berpikir jika hal ini akan terjadi.
Rasa penyesalan semakin besar di hati Wisnu.
‘’Bodoh banget kamu Wisnu!’ batinnya mengatai dirinya sendiri.
__ADS_1
“Tante sekali lagi saya benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya akan menebus semua kesalahan saya,” ucap Wisnu.
Ayu hanya bisa mengangguk, tanda jika ia dengan besar hati mau memaafkan Wisnu.
Wisnu pun berpamitan dengan Ayu lalu keluar dan masuk ke dalam mobil.
Wisnu pun kembali ke hotel untuk memastikan lukisan itu sudah tidak ada di hotelnya. Mobil pun masuk ke area basemen dan Wisnu pun keluar dari mobilnya.
Baru saja akan naik lift Wisnu di hampiri oleh seorang security.
Ia memberi tahukan jika Rifki telah meninggal dunia saat di perjalanan menuju rumah sakit.
Wisnu semakin terpukul. Pasalnya hal itu karena Rifki mengikuti perintah Wisnu untuk membakar lukisan itu.rasa penyesalan itu membuat Wisnu semakin frustrasi.
Ia bergegas naik ke lantai dua untuk memeriksa jika lukisan itu tidak kembali ke tempatnya.
Saat Wisnu sampai di lantai dua, Wisnu kaget karena lukisan itu kembali ke tempatnya semula seperti yang di beri tahukan oleh Ayu.
Wisnu pun emosi dan kembali menurunkan lukisan tersebut dan membawanya turun menuju basement.
Wisnu pun berjalan menuju mobilnya, lalu memasukkan lukisan itu ke dalam mobil.
Wisnu melaju dengan kecepatan tinggi menuju luar kota, hingga ia sampai di sebuah jalan dengan semak belukar di samping kanan dan kirinya.
Wisnu melempar lukisan tersebut ke semak pinggir jalan dari dalam mobilnya kemudian ia melaju pergi untuk pulang ke rumahnya.
Mobil Wisnu melaju, ia dengan lihai menyalip setiap kendaraan di depannya.
Hingga Wisnu sampai di depan rumah Darma.
Wisnu pun masuk dan langsung mencari keberadaan Darma.
“Pa ... Papa?” panggil Wisnu.
“Bi Papa saya mana?” tanya Wisnu kepada bi Odah pembantu rumah Darma.
“Tuan ada di ruang kerjanya sepertinya,” ucap bi Odah.
Wisnu pun berjalan menuju ruang kerja Darma.
“Pa bisa bicara sebentar gak?” tanya Wisnu.
“Ya udah kamu ngomong aja, papa pasti dengerin,” sahut Darma.
“Wisnu mau tanya, Papa dapat lukisan itu dari mana?” tanya Wisnu
“Lukisan yang mana?” tanya Darma.
__ADS_1
“Lukisan wanita gaun merah yang papa beri ke Wisnu,” ucapnya.
“Oh ... Papa dapat di tukang loak. Kenapa memangnya?” tanya Damar.
“Gak Pa Wisnu penasaran aja,” sahut Wisnu berdalih.
Wisnu keluar dari ruang kerja Darma lalu duduk di sofa.
Wisnu mulai memikirkan cara untuk menolong Via.
Di sisi lain Dimas tengah duduk di ruang tamu rumahnya, berkali-kali Dimas melihat ponselnya berharap Baskoro meneleponnya kembali.
Dimas juga menghubungi beberapa rekannya dan menanyakan tentang orang pintar namun para rekannya malah meledek Dimas.
Dimas pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Via.
Saat membuka pintu kamar, terlihat Via tengah tertidur pulas, Dimas pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Via.
Dimas mengunci pintu kamar Via lalu pergi keluar menuju bagasi mobil.
Dimas masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ayu.
Sesampainya di rumah sakit Dimas langsung masuk ke dalam ruangan tempat dimana Ayu di rawat.
Melihat Dimas datang, Ayu pun tersenyum.
“Gimana sayang apa sudah baikan?” tanya Dimas.
Ayu pun menganggukkan kepalanya.
“Baguslah kalau begitu, oh Iya apa Wisnu datang ke sini?” tanya Dimas.
Ayu kembali menganggukkan kepalanya sebagai kode jika Wisnu datang ke ruangannya.
“Mas sudah dengar penjelasannya, awalnya Mas marah besar sama dia karena dia semua ini terjadi. Tapi Mas juga tidak bisa terus-terusan menyalahkan orang lain. Hal ini adalah kesalah pahaman, harusnya hari itu Mas libur saja bekerja,” pungkas Dimas.
Ayu mengambil kertas lalu menuliskan sesuatu.
“Aku juga memaafkannya walau pun aku masih kesal padanya,” tulis Ayu di kertas itu.
Dimas pun merangkul istrinya lalu mengecup kening Ayu.
Setidaknya mereka tidak larut dalam emosi terhadap Wisnu, Dimas juga tahu jika Wisnu itu adalah pemuda yang baik dan perhatian.
Dimas juga curiga jika Wisnu sebenarnya menaruh hati terhadap putri mereka.
Semua itu terlihat dari sikapnya yang berani menentang Ayu lalu berusaha membawa Via dari rumahnya.
__ADS_1
‘Kalau Wisnu suka sama Via aku sih oke saja, tapi yang jadi masalah adalah istriku. Apa dia mau menerimanya?’ pikir Dimas.