Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Kejadian Berdarah


__ADS_3

Via masuk ke dalam mobil dan memasang safety belt lalu menyalakan mesin.


Saat mobil baru beberapa detik berjalan, Via di kejutkan dengan sesuatu yang melintas di depan mobilnya dengan cepat.


Spontan Via menginjak rem, “Tadi apaan?" ucap Via sambil melepas safety belt nya.


Via pun keluar dari mobil dan memeriksa sekeliling area mobilnya namun tidak terlihat apapun, Via mencoba memeriksa bagian bawah mobilnya.


Saat itu dari bawah mobil Via melihat sepasang kaki yang pucat dengan tetesan darah berjalan di samping mobilnya.


Dengan jantung yang berdebar kencang Via perlahan bangkit dan mengintip perlahan. Namun anehnya tidak terlihat apa pun di samping mobilnya.


Via memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil dan melaju menuju rumahnya.


'Sebenarnya ada apa sih? Kenapa semakin lama hotel itu semakin horor?' Via bermonolog.


Saat sedang berbicara sendiri, dari kaca spion dalam mobilnya Via melihat seorang wanita duduk di kursi belakang mobilnya.


Karena terkejut Via membanting stir ke kiri dan  menginjak rem.


Via hampir saya menabrak pembatas jalan, untungnya Via berhasil menginjak rem dengan cepat.


Via meringkuk di atas setir mobilnya karena syok.


Via menyalakan lampu yang ada di dalam mobilnya lalu menoleh ke arah belakang.


'Gak ada. Tadi jelas-jelas aku lihat ada wanita itu di belakang,' batin Via.


Via mendengus dan kembali menyalakan mesin mobilnya untuk melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah Via melihat Ayu tengah duduk di ruang tamu sembari menatap layar ponselnya.


"Bunda belum tidur?" tanya Via sambil mencium punggung tangan Ayu.


"Belum ngantuk," sahut Ayu.


"Ayah mana?" 


"Ayah kamu belum pulang, katanya masih di jalan. Kamu makan malam dulu sana Bunda sudah masak," pinta Ayu.


"Ya udah Via ganti baju dulu ya Bun," ucap Via.


Saat Via sudah berganti pakaian dan ingin berjalan menuju meja makan, ponsel Via berdenting notifikasi chat masuk ke ponselnya.


Sementara itu di hotel pesona, Ismail yang hari ini mendapat shift malam pun berjaga di ruangan order taker.


Saat itu telepon yang ada di atas meja berdering.


"Housekeeping, selamat malam dengan Ismail ada yang bisa di bantu?" ucapnya dengan satu tarikan nafas.


"Halo?" ucap Ismail lagi karena tidak terdengar suara siapa pun.


Ismail pun melihat di bagian layar kecil yang ada di telepon kantor itu. Tapi tidak tertera dari mana telepon itu berasal.


'Kok aneh, gak kelihatan kode office atau nomor kamarnya. Apa teleponnya eror?' pikirnya.


Gagang telepon itu masih berada di telinganya, samar-samar Ismail mendengar suara aneh, seperti suara nafas yang berat.


"Halo, Ada yang bisa saya bantu?" ucap Ismail sekali lagi.

__ADS_1


Akhirnya terdengar suara sahutan dari seorang wanita dengansuara cukup pelan.


"Mas bisa minta handuk," sahutnya.


"Oh bisa Bu, kalau boleh tahu dari kamar berapa?" tanya Ismail.


"705," sahutnya.


"Baik Bu, saya akan suruh room boy untuk antar ke kamar Ibu."


Telepon langsung terputus, Ismail pun meletakkan telepon itu ke tempatnya dan memanggil salah satu room boy yang tengah duduk di ruang laundry.


"Ri ... Ada yang minta towel," ucap Ismail.


"Oke ... Kamar berapa?" tanya Ari.


"Kamar 705," sahut Ismail.


"Ah jangan main-main kamu Ismail."


"Loh main-main gimana, tadi ada tamu yang telepon minta antarain towel."


"Kamar 705 kan kosong," sahut Ari.


"Ah gak mungkin."


"Coba aja cek di sistem kalau gak percaya."


Ismail pun beranjak dari ruang laundry dan memeriksa status kamar 705, dan benar saja status kamar itu kosong. 


Karena masih tidak percaya dan mengira sistem sedang eror, Ismail pun menghubungi pihak resepsionis lewat sambungan telepon.


"705 masih vacant bang Ismail," sahutnya.


"Oh ya sudah, makasih ya Dam," sahut Ismail.


Ismail pun menutup telepon dan kembali menghampiri Ari.


"Ri tadi beneran aku dapat telepon dari kamar 705, tapi di monitor telepon gak ada kode angkanya," ucap Ismail.


"Hantu kali," sahut Ari.


"Mana ada hantu bisa telepon, memangnya dia bisa pegang benda. Jangan-jangan ada yang iseng," pikir Ismail.


"Suaranya cewek apa cowok?" tanya Ari.


"Cewek Ri."


"Bang Mail, ini kita kan shift tiga mana ada ceweknya," sahut Ari.


Mereka berdua pun terdiam sejenak, jam juga sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


Biasanya yang mendapat shift malam seperti ini hanya beberapa orang, antara dua sampai tiga orang saja, karena di jam seperti itu sudah jarang ada tamu yang minta sesuatu kepada staf hotel.


Ismail yang masih tetap pada pendiriannya itu pun mengambil sebuah handuk mandi dari rak laundry lalu naik ke lantai tujuh.


Saat lift lantai tujuh terbuka, Ismail berjalan menuju kamar 705. Saat sampai di depan pintu kamar, Ismail menekan tombol bel lalu mengetuk pintu.


“Room service ... Permisi room service,” ucap Ismai sebanyak tiga kali.

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban Ismail membuka kamar tersebut menggunakan master key yang ia bawa di sakunya.


Saat membuka pintu, Ismail terkejut karena di hadapannya ada seorang wanita cantik bergaun merah.


“Maaf Bu saya kira gak ada orang,” saut Ismail.


“Ini handuk yang ibu minta,” sambungnya sambil menyerahkan handuk tersebut.


Ismail bergegas keluar dan menutup pintu, Ismail pun berjalan menuju pintu lift. 


‘Coba aku ketuk lagi sekali,' pikir Ismail.


Ismail kembali ke depan kamar itu dan menekan bel sebanyak tiga kali, Ismail kembali memasukkan kartu lalu membuka pintu.


Benar saja, ruangan itu kosong. Handuk yang ia bawa pun berada di lantai.


Ismail dengan cepat keluar dan berlari menuju pintu lift.


Dengan jari yang gemetar Ismail menekan tombol bawah lalu bergegas masuk saat pintu lift terbuka.


Saat sampai di ruangan housekeeping, Ismail berjari menghampiri Ari.


“Ri benar kata kamu," ucap Ismail dengan nafas yang tersengal


"Benar apanya?"


"Yang nelpon tadi beneran hantu," ucapnya.


"Tadi pas aku antar handuknya memang di dalam kamar 705 itu ada orangnya," sambungnya.


"Ah masa Mail itu gak mungkin," ucap Ari.


"Aku belum selesai cerita."


"Ada cewek di kamar 705, cantik banget Ri dia pakai baju merah. Pas aku masuk aku kasih handuknya, lalu aku balik ke lift tapi aku mikir lagi masa sih dia masuk gitu aja tanpa ada check-out. Akhirnya aku balik lagi ke kamar itu dan aku buka di dalam gak ada siapa-siapa Ri," tutur Ismail.


"Jangan-jangan itu kuntilanak merah," ucap Ari.


"Kamu jangan nakut-nakuti aku dong Ri."


"Aku gak nakut-nakuti Mail," sahut Ari.


"Udah deh aku di sini aja sama kamu, aku takut," ucap Ismail.


Waktu terus berjalan, suasana hening dan sepi begitu terasa. Ismail mencoba mencari kesibukan ia masuk ke dalam ruang pantry dan memeriksa kalau saja ada barang-barang yang habis.


Saat tengah sibuk mencatat tiba-tiba barang-barang yang ada di rak paling atas berjatuhan dan mengenai kepala Ismail.


Salah satunya adalah sebuah gunting rumput.


Sontak Ismail berteriak meminta tolong, Ari yang saat itu tengah mencatat persediaan linen itu pun berlari menghampiri Ismail.


"Astagfirullah Ismail!" pekik Ari.


Lantai keramik putih itu kini penuh dengan tetesan darah, kaki Ari lemas ketika melihat Ismail dengan gunting rumput menancap di kepalanya.


Dengan kaki yang masih gemetar, Ari berteriak dan menelepon bagian keamanan untuk menolong Ismail.


Mata Ari berkaca-kaca, Ari tidak berani mendekati Ismail yang tengah bersimbah darah itu.

__ADS_1


__ADS_2