Kembalinya Si Gaun Merah

Kembalinya Si Gaun Merah
Mawar dalam lukisan


__ADS_3

Via duduk di depan meja kerjanya sambil memijit kedua keningnya, ia tak henti-hentinya menghela nafasnya.


Sesekali ia melemparkan bolpoin yang ada di mejanya ke arah dinding.


Via merasa cemas dan kesal atas kejadian yang ada di hotel tempat  ia bekerja.


‘Kenapa aku harus pergi ke sana sih! Bego baget!’ Via bermonolog seraya menendang-nendangkan kakinya ke arah kasur.


Via kesal karena hanya dirinya yang dicecar pertanyaan oleh polisi, seakan-akan dirinyalah penyebab semua kejadian ini.


Via berkonsultasi dengan Wisnu lewat pesan singkat, Wisnu sendiri tengah berada di luar kota untuk mengurus bisnisnya yang lain.


“Wisnu udah tidur?” tulis Via di pesan.


Cukup lama Via menunggu dan akhirnya akun Wisnu terlihat online.


“Belum, baru balik dari kantor. Kenapa emangnya?” tanya Wisnu.


“Ada kabar buruk.”


“Buruknya segimana? Buruk banget atau buruk biasa aja?” balas Wisnu.


“Gak kali ini buruknya spesial pakai telor!” balas Via dengan menambahkan emoji kesal.


“Ha-ha-ha. Maaf becanda, emang ada apaan?”


“Kuli bangunan ada yang meninggal, di area yang haru di bangun.”


“Hah? Kamu serius?”


Belum sempat Via mengetik pesan di ponselnya tiba-tiba Wisnu langsung meneleponnya.


“Halo Wisnu.”


“Via ini serius?” ucap Wisnu.


“Ngapain juga aku bercandan dengan masalah yang kaya gini.”


“Duh! Bisa ribet ini urusannya. Reting hotel kita makin lama bakalan makin turun,” ucapnya.


“Besok aku bakalan di interogasi lagi sama mereka, dan gilanya kenapa harus aku aja padahal Adim juga ada di sana.”

__ADS_1


“Adim siapa?”


“Itu loh bell boy yang biasa shift siang,” sahut Via.


“Gini aja deh, lusa aku bakalan balik. Dan besok aku minta si Lucas buat temenin kamu,” ucapnya.


“Ya udah lah, aku cuma mau kasih kabar itu aja.”


“Ya udah. Kamu istirahat aja dulu deh biar pikiran kamu fresh,” ucap Wisnu.


Via pun menutup teleponnya lalu merebahkan dirinya ke atas kasur.


*** 


Pagi hari, saat di meja makan Via menanyakan sesuatu yang aneh kepada Ayu dan juga Dimas.


“Bun, Via mau tanya benda mati kira-kira bisa jadi hidup gak sih?” tanya Via.


“Maksudnya gimana?” tanya Diman.


“Ya ... Ada benda tapi dia seperti punya nyawa.”


“Gak ada hal yang seperti itu Via, cepetan dihabiskan rotinya,” ucap Ayu.


Saat Via sudah meninggalkan rumah, Ayu mulai membahas hal tersebut dengan suaminya Dimas.


“Mas kenapa bisa Via bertanya seperti itu ya?” tanya Ayu.


“Entahlah sayang, semoga saja bukan benda yang dulu kita miliki,” ucap Dimas.


“Gak mungkin Mas, lukisan itu kan ada di rumah Damar.”


“Kita berdoa saja agar Via selalu di jauhkan dari hal-hal magis seperti itu. Cukup kita saya yang mengalaminya, jangan sampai anak kita juga mengalaminya,” sahut Dimas.


“Jika itu terjadi aku orang pertama yang akan melawan makhluk itu Mas walau pun nyawaku taruhannya,” ucap Ayu.


“Sudah ... Jangan emosi gitu sayang. Itu gak akan terjadi.”


Di sisi lain Via telah sampai di hotel dan melakukan morning breafing.


Saat breafing salah satu room boy yang akan pulang usai shift 3 memberi tahu jika mengalami kejadian aneh.

__ADS_1


“Bu, tadi malam ada tamu yang telpon lewat order taker,” ucapnya.


“Dia minta kamarnya di bersihkan, tapi ... Saat saya cek di sistem ternyata status kamar itu vacant,” sambungnya.


“Suaranya cewek?” tanya Via.


“Iya, kok Ibu tahu?”


“Mungkin ada yang iseng aja,” sahut Via spontan.


Staf yang lain hanya cekikikan tertawa dan meledeknya, sebenarnya semua staf di hotel ini sudah biasa dengan hal-hal tidak masuk akal seperti ini apalagi saat mereka mendapat shift 3 yaitu bekerja dari jam 10 malam hingga jam 7 pagi.


Sebenarnya setiap department memiliki peraturan masing-masing untuk karyawannya.


Dan Via membiat peraturan jika karyawan wanita hanya bisa bekerja shift pagi atau shift 1, lalu shift 2 dan 3 akan di dominasi oleh karyawan laki-laki.


Namun peraturan itu tidak berlaku untuk Via, karena Via terkadang bisa pulang sampai larut malam hingga pekerjaannya selesai.


Setelahnya, semua staf bubar dan menuju tempatnya masing-masing. 


Pukul 09.20, para polisi mulai menerobos pintu depatmen housekeeping Via sendiri sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang akan di layangkan kepadanya.


“Selamat pagi Bi Via,” ucap salah satu petugas polisi.


“Ya selamat pagi, silahkan duduk.”


“Kami ingin menanyakan perihal kematian buruh bangunan kemarin.”


“Oh ya tentu saya siap memberikan kesaksian,” ucap Via.


Via pun di tanyai beberapa pertanyaan, dan saat menjawab pun para polisi tidak melihat unsur mencurigakan, saat selesai menginterogasi Via mereka pun berpamitan dan akan melanjutkan proses pemeriksaan.


Saat itu Via sangan penasaran dengan lukisan yang ada di lantai 2, dengan cepar Via menuju lift dan naik ke lantai 2.


Saat sampai di lantai 2 Via menghampiri lukisan itu dan memandanginya sejenak.


“Apa iya semua ini karena wanita yang ada di lukisan ini?” ucapnya sambil memandang ke arah gambar wanita bergaun merah tersebut.


Via mencoba meraba lukisan itu dengan seksama merasakan goresan cat yang ada di kanvas itu.


Saat Via menyentuh bagian bunga mawar itu tiba-tiba jari telunjuknya seperti tertusuk sesuatu.

__ADS_1


Spontan Via menarik tangannya, terlihat ujung telunjuknya merah namun tidak terluka.


__ADS_2